Anak-Anak Sultan

Anak-Anak Sultan
Rencana Fana


__ADS_3

Fana mengumpat kesal menendang tempat sampah yang ada di depannya, hati-hati merasa jijik memungut kertas yang telah menjadi bulat diremas remuk redam, membukanya membaca siapa tahu ada balasan suratnya. Ternyata tulisan dan isinya tidak ada yang berubah, tetapi ada satu kalimat balasan tertera di garis bawah sudut kertas yang semakim membuatnya berang 'Cukup! Gue jijik dengan cara lo!"


"Ahkk!" pekiknya merobek kertas memasukannya lagi ke dalam tempat sampah. "Garrick, gue nggak akan nyerah untuk meneror lo. Fana adalah cewek satu-satunya, bukan yang lain," gumamnya marah.


Untuk mencari perhatian cowok itu, diam-diam ia menitipkan pada salah satu teman sekelas Garrick kado yang berisi surat dan jam tangan mewah. Lagi penolakan yang didapatkannya, suratnya terbuang di tempat sampah dan tadi sempat ia berpapasan melihat jam tangan itu sudah berada di tangan orang lain tepatnya ada di orang yang diminta tolong titipkan. Fana langsung merampasnya dari cowok matre itu, dan menyimpan jamnya kembali.


"Sejak kapan seorang Fana berdiri di depan tempat sampah begini?!" Suara Jeslyn mengejutkannya dari belakang.


"Lo mau mulung apaan di sini, hah?" tanya Jeslyn mengejek seraya tersenyum meledek.


Fana dengan cepat mengubah ekspresi terkejutnya, ia tetap santai dan memgumpulkan tenaga melawan geng musuh ini. "Terserah gue, bukan urusan lo juga."


"Pasti ada sesuatu kan?" Jeslyn menyelidik.


"Jaga jarak dari gue," hardiknya kesal setengah mati saat Jeslyn melangkah maju mendekatinya.


Ayoola dan Tara menemukan sesuatu kertas yang disobek di dalam sampah, kertasnya juga tidak sobekan kecil, jadi nanti madih bisa disatu-satukan.


"Gue malas ngeladin lo." Tanpa pikir panjang Fana meninggalkan mereka ber tiga. Moodnya semakin buruk saja menghadapi Jeslyn dan gengnya.


Tanpa merasa jijik, Ayoola dan Tara memungut kertas yang dilihatnya tadi, menyatukan bagian sobekan berhasil membaca isi suratnya. Surat cinta pada lelaki tapi tidak ada nama si cowoknya, terbahak menertewai ternyata Fana bisa juga sebucin ini. Tapi siapa cowok yang dimaksud di surat ini? Jam tangan yang disebut juga harganya mahal sekali, sebesar itu cinta Fana sampai membelikan barang semewah itu.


"Tunggu! Tulisan yang beda ini, kayak gue kenal. Garrick, gue pernah lihat buku Garrick di dalam tasnya Ashira waktu kami masih temenan dulu," ungkap Tara.


Jeslyn mengembangkan senyum sinisnya. "Ternyata kita nggak perlu buang tenaga melawan Fana, gengnya juga penghianat semua. Otha juga suka sama Garrick, Ashira sepertinya juga sama Garrick. Hah! Kita hanya perlu menunggu tanggal kapan penghianatan ini terbuka.


Tentu Jeslyn mengetahui tentang Otha dan Ashira yang sama-sama menyukai Garrick, bukankah melawan musuh harus masuk dan mencari tahu tentang si musuh itu bukan?


.

__ADS_1


.


.


Termenung diam dalam kamar mewahnya, Fana menatap dendam pada objek pikirannya. Berjalan kesana kemari memikirkan hal buruk lagi, penampilannya berantakan ulahnya sendiri.


Ashira gagal melakukan rencananya, mau bilang apa lagi, Ashira memang bukan teman yang secerdik itu untuk diajak kerja sama. Dan kantin yang semakin membuatnya marah, Artha lagi dan lagi makan siang bersama Garrick dan gengnya. Saat jam pulang sekolah lagi, Garrick berboncengan dengan Artha!


Kejadian satu hari ini membuat amarahnya meluoap, ceoat-cepat pulang menghindari Ashira dan Otha. Apa yang dilakukannya untuk membuat Artha hancur, itulah yang ada dipikirannya saat ini.


Memacu mobilnya bertemu dengan salah seorang guru di sekolahnya, ia harus melakukan ini.


Perjanjian bertemu di restoran xxx lokasinya tidak jauh dari rumah Tara, meja di pojok menjadi pilihan mereka.


Seorang wanita cantik berpakaian modis turun dari mobilnya masuk melalui pintu belakang, tersenyum cerah pada Fana. Tak segan-segan ia memesan menu mahal di restoran ini, Fana tidak pernah pelit kepadanya selama apa yang diperintahkan Fana beres.


"Ibu harus mengirim file data-data tentang Artha, kirim lewat email Fana. Jangan banyak tanya, lakukan seperti apa yang Fana bilang."


"Ibu memeras saya?"


"Jelas, kita memang saling menguntungkan kan? Dengar Fana. Tanggung jawab saya besar sekali untuk menyimpan data pribadi semua murid di sekolah, tidak sembarang orang boleh mengaksesnya kecuali memang ada hal penting mengenai sekolah. Kamu itu siapa dengan seenaknya meminta saya memberi data salah satu murid, kalau ketahuan gimana? Coba pikir Fana, perbandingan tanggung jawab karier saya dengan bayaran dari kamu. Hum. Jadi bagaimana, berani bayar saya berapa?"


Fana mencengkram gelasnya, menatap tajam pada gurunya ini. Gutunya juga menyerang balik tatapan Fana.


Dengan kasar Fana meraih mencari sesuatu dalam tasnya, memberikan pada wanita yang di hadapannya ini. "Lima puluh juta untuk satu data murid, ibu puas!"


Derika, namanya. Wanita yang menjabat sebagai guru informatika dan operator sekolah yang menyimpan seluruh data sekolah. Tersenyum licik tangannya licin mengamati amplop berwarna coklat terang yang baru saja terpampang di depan matanya. "Sangat puas. Dalam waktu satu jam, kamu akan menerima data itu. Tunggu saja ya."


Derika memang tidak mau transfer melalui rekening, tentu ia tahu yang mana itu bahaya peretassn rekening aliran. Apa lagi ini juga termasuk kasus suap, Fana bukan orang sembarangan. Ia harus berhati-hati.

__ADS_1


"Lama-lama isi rekening gue habis gara-gara guru sialain itu, semoga papah belum ngecek ATMku. Ahkk! Lihat aja lo Derika, gue bisa mencopot jabatan lo dengan mudah. Tapi belum saatnya.


Tanpa mereka sadari Tara mendengar percakapan itu, sialnya ia tidak sempat merekam karena memang tidak membawa ponsel. Tujuannya hanya ingin membeli makanan tidak menyangka bisa mengetahui rahasia besar ini.


Fana benar-benar keterlaluan.


.


.


Ashira mengusap air matanya, menyeka wajah kusamnya dengan air mengalir. Betapa berbedanya kah semua ini. Laparnya menguap begitu saja.


Mamahnya marah padanya hanya karena kurang konsentrasi saat bekajar olimpiade tadi, orang tuanya memang membuat akses penghubung Ashira dan Radiv di sekolah. Padahal Radiv pun juga minggu lalu tidak masuk sepuluh besar ujian bulanan tetapi tidak merasakan amarah dari orang tua mereka.


Membuka laci meja belajarnya mengambil satu lembar foto dirinya dan Radiv saat masih SD dulu, menggunting foto menjadi beberapa bagian menghampaskannya di udara. Menenggelamkan wajahnya dalam bantal memangis sesenggukan meracau kalimat memenci Radiv. Ingin melawan tapi tidak berani, mereka juga tidak mau mendengar setiap penjelasan dari setiap kesalahannya. Apakah takdir kembar sekejam ini?


Sampai beberapa waktu berlalu setelah ia tertidur lalu terbangun dalam tangisnya, notifikasi pesan dari ponselnya megalihkan sementara tangisannya. Mata sembabnya membuka membaca isi pesan dari kontak yang tidak tersimpan di ponselnya.


Sejenak terdiam, Tara masih menyimpan nomornya. Nomor Tara yang lama telah diblokirnya, pantas saja tidak tersimpan.


Sudah tiga kali membaca isi pesannya tapi masih belum percaya, Tara dan Fana memang saling membenci. Tetapi Tara jangan menjelekkan Fana, buat apa Fana bertemu dan menyuap Bu Derika agar memberikan data siswa. Tara sudah melantur fitnah Fana dan menyarankan agar tidak berteman lagi dengan Fana, tidak menjawab pesan WA kemudian memblokirnya lagi.



kamar Fana.



kamar Ashira.

__ADS_1


👇👇👇


__ADS_2