Anak-Anak Sultan

Anak-Anak Sultan
Rencana Fana


__ADS_3

Menutup bukunya seraya tersenyum manis kemudian berjalan menutup jendela kamarnya, duduk bersila di atas kasur menengadah ke atas. Besok pagi adalah bagian besar dalam hidupnya, semoga dirinya manpu dan diberikan yang terbaik.


Setelah menutup doanya, tidak lupa Artha mematikan lampu kamarnya mulai memejamkan matanya.


Langit masih gelap namun udara embun pagi tidak lupa membangunkannya sesuai yang dijadwalkan tadi malam, aroma masakan mamahnya menyeruak ke udara. Cepat-cepat Artha menyibakkan selimut berlari menuju dapur, mamah melarangnya untuk membantu agar Artha lebih baik bersiap saja.


Menu pagi ini adalah menu favorit Artha, nasi goreng campur kriukan ikan teri dan telur mata sapi, tidak lupa mengisi bekal untuk makan siang nanti dengan menu yang berbeda tentunya.


Bapak akan mengantar pagi ini, biarlah sedikit terlambat untuk menjemput barang pekerjaannya.


Hari ini yang ikut olimpiade berkumpul di sekolah jam 07:00 tepat, harusnya tidak terlambat mengingat mereka berangkat cepat tadi.


Tapi sekarang? Mobil tiba-tiba mogok di jalan sepi begini, ada paku menancap di roda ban mobil. Bapak memang belum punya ban pengganti, beliau menyesalkan untuk kali ini.


Ponsel Artha tiba-tiba kehilangan sinyal, ponsel bapaknya juga. Jam tangan di ponselnya sudah menunjukkan waktu yang mengharuskan ia sampai di sekolah.


Sementara yang lain sudah tiba dan berkumpul di parkiran, guru yang lain mengomel menunggu kedatangan Artha. Garrick juga lebih cemas, nomor Artha tidak bisa dihubungi.


"Garr. Lo kok nggak jemput Artha ke rumahnya?" tanya Eshar juga ikut cemas. Eshar belum masuk ke sekolah, harus memberangkatkan temannya dulu dari sini. Dalihnya.


"Artha nolak gue yang jemput dia. Katanya mau berangkat sama orang tuanya," ucap Garrick tangannya masih sibuk menempelkan ponsel di telinga.


Waktu sudah hampir terburu, tetapi Artha belum juga tiba di sekolah. Cadangan sudah siap di samping Ashira.


"Shir. Kira-kira si Artha kemana ya?" Tiba-tiba Eshar bertanya pada Ashira. Wajah tenang Ashira membuat ia menduga beberapa hal, lihat seketika wajah Ashira terlihat panik begitu.


"Mana gue tahu," sahut Ashira sewot.


Kepala sekolah datang dan sudah memulai doa


keberangkatan, posisi Artha sudah diganti dengan si cadangan. Lima menit lagi mereka akan berangkat ke gedung tempat olimpiade dilaksanakan.

__ADS_1


Satu per satu menaiki bus sudah duduk teratur di bangku dan pasangan team masing-masing, Skyler duduk terlebih dulu karena Garrick masih di luar.


Garrick ragu untuk naik, jujur saja moodnya untuk ikut lenyap seketika. Perasaannya tidak enak, ingin pergi menolak semua ini. Lagi ia berbalik mengintip ke arah gerbang, belum ada tanda-tanda Artha dari sana.


"Garrick!" seru salah satu seorang guru menyuruhnya segera masuk ke dalam mobil, menghela napas kasar sekarang kaki kanannya sudah menyentuh tangga bus. Sebelum langkah kaki kirinya ikut menyusul naik ke dalam bus, tepukan seseorang menghentikan gerakan kakinya. Berbalik badan mendekatkan wajah ke arah Eshar, "Susul Artha sekarang. Waktu Olimpiade diundur 25 lagi."


Tidak pedulu dengan kehebohan seisi bus yang meneriakinya, Garrick berlari kencang menyalakan motornya langsung tancap gas.


Eshar tersenyum puas, menghela napasnya lega. "Garrick menyusul Artha!" ucapnya tenang. "Coba kalian pikirkan sekali lagi untuk menggantikan posisi Artha, selama ini dia menunjukan perfoma terbaik dan penguasaan materi yang cukup bagus, dia sudah latihan sangat keras persiapan olimpiade ini. Hanya karena ke egoisan bapak dan ibu yang tidak mau menyusul Artha ke rumahnya, itu harus bisa dilakukan kan. Percaya sama saya, Garrick akan menyusul datang dan membawa Artha."


Ucapan sindiran Eshar membungkam kepala sekolah dan guru yang lainnya, Pak Erlan tersenyum cerah. Beliau akan selalu kalah debat dengan pria kepala sekolah ini setiap ia memberikan saran.


Bus sudah berjalan meninggalkan sekolah, dengan berbagaiacam pikiran untuk menghadapi nanti.


Eshar melanjutkan langkahnya ke kelasnya, ia harus berterima kasih pada salah satu panitia penting yang mau mengabulkan permohonannya untuk memundurkan waktu. "Semua ini untuk Artha, semoga kamu baik-baik saja," ucapnya dalam hati.


.


.


.


"Iya, jakan aja." Tetap senyum tegar bapaknya menghangat.


"Nanti aku minta tolong sama orang lain untuk bantu bapak di sini!"


Artha berlari kecil menyusuri jalan raya, sesekali menyeka keringat yang menganggu pandangannya. Panasnya ibu kota padahal masih pagi sangat terasa, tetapi tidak Artha tidak menyerah terus berlari kecil mengejar waktu dengan napas ngos-ngosan.


Bapak berdiri menatap cemas pada arah jalan di mana putrinya lewati tadi, menatap ban mobil mengesah kasar nasib sialnya. Tidak berapa lama kemudia suara motor yang berhenti tepat di belakang mobilnya, anak lelaki remaja ini kan satu sekolah dengan putrinya.


"Pak, Artha di mana?" tanya Garrick suaranya tenggelam dalam helem.

__ADS_1


"Dia jalan kaki di sana! Mungkin belum terlalu jauh, Nak!" seru bapak sedikit mengeraskan volume suaranya.


"Saya kejar Artha dulu!" Garrick memancapkan gas motornya memgejar Artha. Bapak tersenyum lega sudah ada yang menyusul Artha.


"Arthaaaa!!" seru Garrick membunyikan klakson motornya memanggil Artha yang sudah menghentikan langkahnya.


"Pegangan yang erat, gue mau ngebut nih!"


"Iya, Garr!" Tanpa sadar Artha semakin memeluk erat pinggang Garrick dan jarak mereka sudah saling menempel.


Motor berjalan dengan kecepatan di atas rata-rata dengan kemampuan mengemudi Garrick yang sudah sangat piawai bermain aspal, memasuki gang memotong jalan pun dilakukan demi menghindari macet di jalan raya besar.


Bolehkah sekarang Artha menyanyikan lagu 'haruskah ku mati karenamu milik AdaBand?' Memejamkan mata menggelamkan di pundak Garrick tangannya terus mengerat, menghilangkan bayangan menyeramkan setiap kali motor Garrick berpapasan dengan kendaraan yang lebih besar.


Garrick beluk terpikirkan hal.apapun selain olimpiade, setelah mereka sampai di parkiran gedung barulah rasa penyesalan datang tidak menikmati rasanya pelukan Artha di boncengnya tadi..


.


.


Fana mengendap masuk ke toilet untuk membuka pinselnya, bersandar pada dinding wastafel mengotak-atik menelepon seseorang.


"Kenapa bisa Garrick nekat nyusul si Artha! Gagal gagal deh, ahkk! Gue udah bayar mahal orang buat nyebarin paku di aspal itu, tapi ada aja pertolongan yang datang sama tuh anak!" Fana mencengkram ponselnya, lagi dan lagi rencananya tidak ada yang berhasil.


"Ashira, iya dia. Tinggal gue hasut tuh anak, dia bisa bertindak sendirinya. Semoga kali ini berhasil," ucapnya menggeram kemudian mengetikkan sesuatu dan mengirimnya pada Ashira.


👇👇👇


Akun masih sepi, kalo rame lanjut part dua.


Btw, makasih udah mampir ke cerita ini..

__ADS_1


__ADS_2