
Malam ini kembali seperti malam-malam sebelumnya, orang itu datang lagi mendatangi ibunya dan melontarkan kalimat ancaman yang membuat ibunya ketakutan. Eshar melewati tidur malam dengan berbagai macam pikiran dalam kepalanya, bahkan sampai saat ini ia belum cukup kuat untuk melawan orang itu.
Ayahnya datang lagi debgan amarah membuncah membentak ibu dan adik perempuannya, Eshar terpaksa bangun melerai pertengkaran itu memisahkan ayahnya yang mabuk merangkul ibunya memapah ke dalam kamar membaringkan ke tempat tidur. Setelahnya ia juga mengusap kepala adik perempuannya yang masih menangis sesenggukan dalam pelukannya.
Ayahnya berubah menjadi orang pemabuk semebjak usahanya mulai menurun, Eshar sudah malas berdebat demgan beliau. Banyak yang ditanggung Eshar, tapi semua orang hanya memandangnya sebagai orang pendiam dan kaku seperti robot. Bahkan Garrick pun selalu salah paham dengannya, ingin menyerah saja rasanya lelah berkorban terus.
Meletakkan boneka bintang dalam dekapan adiknya yang sudah terlelap, berdiri meraih saku celana yang dipakainya ke pasar malam tadi. Mengusap mainan kalung bertulisakan nama 'Arthauli', semoga saja ia diberikan kesempatan untuk memakaikan kalung ini pada Artha. Memperhatikan kalung satunya, hadiah lotre dari Garrick. Semoga saja apa yang diucapkan Artha untuk hubungannya dengan Garrick bebar-bebar terjadi.
Hah, rasanya hidupnya sangat membosankan. Selalu berharap ini itu tidak tahu terwujud apa tidak. Rasanya dari dulu tidak ada kebaikan yang datang padanya.
.
.
"Capek juga belajar," keluh Garrick sambil menarik badanya ke belakang melonggarkan otot-ototnya.
"Ya memang harus gitu," Skyler menyahut menyodorkan mimuman pada Garrick.
Rasanya kepala ini mau pecah saja, dari tadi harus membaca deretanangka fisika menghapal nama zat kimia, dan banyak hal lain lagi. Mata mulai mengantuk tiba-tiba pandangannya bertemu dengan Artha yang memberi jempol semangat seraya tersenyum manis lalu bertepuk tangan pelan, seketika kesadarannya bangkit lagi tersenyum cerah seolah bebannya terangkat begitu saja. Meneguk minuman sampai tandas tak bersisa, menarik lembaran kertas yang masih dibaca Skyler.
Skyler berdecak saja, yang terpenting temannya ini mau belajar.
Ashira menggeram kesal melihat pemandangan itu, rasa cemburu menjalar di hatinya. Ingin rasanya memaki cewek yang duduk di sampingnya ini, tapi ini perpustakaan. Menarik napasnya kasar merebut buku yang dipegang Artha kasar.
Artha tidak peduli tindakan brutal Ashira, dari tadi memang Ashira selalu berontak padanya melakukan hal yang tidak nyaman. Sekarang merebut bukunya, tadi sengaja menyenggol tangannya saat menulis, pura-pura tuli saat ditanya, buang muka saat diajak berdiskusi, ketus padanya.
Tersenyum kecil pada Ashira, berjalan ke arah rak buku dan tak berspa la ia muncul dengan beberapa buku di tangannya, mulai fokus membaca dan mengulangi catatan yang tercoret akibat ulah Ashira.
Kalau dia tidak bisa diajak kerja sama, ya tidak apa, kepalanya juga masih muat untuk menghapal materi yang diberikan guru pembimbing pada mereka.
Ashira semakin berang, respon santai Artha membuatnya marah. Tadi Fana memberi usulan padanya, ganggu dan usik Artha saat belajar nanti sampai Artha merah dan akhirnya membuat keributan di ruang perpustakkan. Tapi tidak berhasil juga, justru ia yang hampir meledek melihat respon Artha.
Sampai jam belajar selesai pada Akhirnya Ashira menghancurkan konsentrasinya sendiri karena sibuk memikirkan hal yang tidak penting, Sementara Artha sudah menyelesaikan menjawab soal-soal dan mengumpulkan pada guru pengawas.
"Makanya jangan sibuk mikirin cara mau menganggu aku, sampai nggak bisa ngerjai soalnya. Untung punyaku udah siap, jadi tim kita aman kali ini. Oh iya, aku berbaik hati loh mau ngasih salinan jawabannya tadi samamu. Mau nggak?"
__ADS_1
"Oggah. Gue bisa belajar sendiri tampa bantuan dari lo," jawab Ashira sinis. Ia merasa tersindir dengan ucapan Ashira tadi, bagaimana bisa tshu isi pikirannya?
Di meja Garrck-Skyler, Garrick tertunduk lesu menyandarkann dagunya di atas tumpukan buku di atas meja, masih payah menjawab soal-soalnya, bahkan coretan sudah menumpuk di kertasnya.
"Cuy, gue minta maaf ya nggak bisa ngajarin lo," ungkap Skyler merasa bersalah karena tidak tahu caranya mengajari temannya.
"Iya, nggakpapa. Memang otak gue aja yang belum nyampe," ucapnya mengeluh.
Hari ini mereka sedang belajar bersama di ruang perpustakaan sekolah bersama peserta yang lain juga, duduk bersama dengan tim masing-masing.
Setelah tiga puluh menit belajar, peserta istirahat sebentar keluar dari ruang perpustakaan. Nanti lanjut lagi belajar sesi ke dua. Waktu belajar peserta olimpiade diambil saat jam les mata pelajaran di kelas, karena konsentrasi bekajar masih ada pada jam tertentu. Kalau saat pulang sekolah, siswa cendrung sudah tidak konsentrasi lagi karena rasanya terlalu kelekahan.
Untung saja siang ini Artha bisa ke kantin lagi dengan Garrick dan geng, bekalnya sudah terkunci di dalam kelasnya.
"Eh, aku ke kamar mandi bentar ya mau pengeluaran."
"Emang lo udah tahu di mana toiletnya?" tanya Garrick.
"Tahulah, ehhhh!"
"Enggak usah, Garrick. Makasih atas niatnya, tapi aku bisa sendiri kok. Tunggu ya!"
Garrick menatap tidak percaya, takut kalau masih ada bullying lagi.
"Kalo lo cemas, kita tungguin Artha aja dulu," ucap Radiv.
Mereka memutuskan menunggu Artha di sini, ke kantinnya sama-sama saja nanti.
Lega rasanya keluar dari kamar mandi, tapi kok jadi bingung senduri tadi dari mana jalan keluarnya. Menepuk jidatnya merasa bodoh ia lupa arahnya lagi.
"Artha!"
"Ee-mamakmu copott! Astagaa, Eshar bikin jantungku jantungan aja. Kayak jalangkung muncul tiba-tiba." Artha berjingkat mengumpati Eshar.
"Maaf."
__ADS_1
"Iy-Eh. Mukamu itu kenapa?" Ada bekas pukulan lagi di sudut bibirnya, kali ini lebih jelas terlihat dari yang kemarin dilihatnya.
"Ini," Menyentuh ujung jarinya di bekas pukulan yang dimaksud Artha. "Semalam gue belajar terus sampai nahan ngantuk banget, jadi biar gue nggak ngantuk lagi, gue mukul diri sendiri deh," ungkapnya berbohong. Padshal itu bekas pukulan tangan ayahnya.
"Jelas-jelas itu bekas tangan orang lain. Kan kalo mukul diri aendiri itu, harusnya lukanya sebelah kiri bukan sebelah kanan." ucapnya bertanya dalam hati. "Oohhh, ada-ada aja."
Saat Eshar ingin menyahut lagi, suara dari belakang badanya membuat obropan berhenti.
"Artha! Dari tadi kami nyariin lo, eh malah di sini rupanya sama si Eshar!" seru Radiv sedikit menunjukkan raut marah.
Perasaannya sangat gelisah Artha belum muncul dari lorong toilet.
"Tadi aku sempat salah arah jalan mau keluar, tapi ketemu Eshar jadi kelupaan deh. Masf ya," ungkap Artha.
Mendesah pelan setidaknya dia baik-baik sajam "Ya udah. Sekarang, ayo ke kantin," ajaknya.
"Eshar boleh gabung lagi ya?" Artha yang meminta.
"Tersershlah," jawab Garrick setengah hati.
Artha tetap memaksa Eshar ikut, jadilah formasi mereka seperti kemarin lagi. Mau jadi tontonan pun, sudah tidak.peduli lagi. Tetap makan yang penting.
Sambil makan memgobrol tentang olimpiade, suara tawa Jaya yang lebih kencang mendengar cerita Skyler yang mengungkapkan betapa setresnya Garrick saat mengerjakan soal-soal tadi. Artha juga ikut menimpali dan sedikit bercerita tentang materi yang dipelwjarinya, tentu ia tidak menceritakan tentang perilaku Ashira tadi, ada saudaranya di sini.
"Kenapa enggak si Eshar aja yang bantu Garrick belajar? Kan Garrick juga menggantikan posisi Eshar, pasti lebih cepat paham. Iya enggak?" usul Artha.
"Boleh tuh, ide yang cemerlang!" Skyker antusias.
"Kau mau kan, Shar?" tanya Artha memastikan.
"Kalau dia mau," jawab Eshar mengesah kasar.
"Sebenarnya sih malas, tapi yasudahlah," jawab Garrick pasrah.
__ADS_1
👇👇👇