
Artha kemana?
Eshar melangkah lesu menjauh dari pintu ruang kelas Artha, gadis itu tidak ada di kantin tidak ada di kelasnya. Teman Artha belum banyak selain Garrick and geng dan dirinya, mengelilingi gedung sekolah tidak mungkin juga. Padahal tadi pagi mereka sudah berjanji untuk berkunjung ke perpuatakaan mencari buku bersama, tapi kemana dia?
Rasa cemas takut Artha kenapa-kenapa.
Garrick juga merasa hal yang sama, tidak biasanya Artha absen makan ke kantin bersama mereka. Jarang membawa ponsel ke sekolah, membuatnya bingung harus memcari kemana lagi. Selera makannya hilang, meninggalkan teman-temannya dengan perasaan cemas luar biasa.
"Lo nggak sama Artha?" tanya Garrick pada Eshar setelah bertemu di kelas.
"Enggak. Gue juga nyari Artha, tapi nggak ketemu." Eshar mendesah napasnya kasar.
Tanpa sadar ke dua cowok ini mengesah kasar memikirkan cewek yang sama, teman sekelas yang lain pun turut merasa aneh melihat pamandangan saat Garrick dan Eshar berpapasan dan bisa berbicara santai seperti tadi.
Saat jam mata pelajaran selanjutnya, pun Eshar dan Gartick tidak berkonsentrasi. Garrick gelisah membuat sedikit keributan, guru mengusirnya karena telah mengacau menganggu pelajaran. Tanpa ada rasa berat hati, melangkah keluar dari kelas.
Guru menangkap wajah Eshar yang melamun dan menyuruh ke papan tulis untuk mengerjakan contoh soal.
Maju ke depan membutuhkan beberapa saat untuk mengingat rumus yang akan dikerjakannya, bahkan spidolnya pun belum terbuka.
"Ada yang belum kamu mengerti Eshar?" tanya guru wanita paru baya ini yang menatap heran tidak biasanya murid kesayangannya macet mengerjakan tugasnya.
Eshar masih tidak menjawab, pikirannya terus tertuju pada Artha. "Maaf, Bu. Saya tidak bisa melanjutkannya, sa-saya mohon izin keluar kelas."
"Ada apa ini?" Ibu guru tidak terima.
"Maafkan saya, Bu. Tolong pemahamannya saya sedang tidak enak badan, saya permisi tidak mengikuti les ini untuk hari ini," ungkapnya berkilah. Tanpa mendengar sahutan dari gurunya, Eshar pergi keluar.
Seisi ruangan juga merasa ada yang aneh pada Eshar. "Skyler, ayo lanjutkan yang di papan tulis ini."
Garrick membasuh wajahnya terburu-buru keluar dari toilet pria. Tadi dia sempat mengintip kelas Artha, kenapa belum masuk kelas padahal sudah bel masuk?
"Garrick!" Napas ngos-ngosan Eshar menghampiri Garrick.
Garrick menatap Eshar lekat-lekat. "Lo ngapain di sini?"
"Kita harus cari Artha sekarang!"
__ADS_1
"Apa pedulimu?"
"Gar, Artha juga temen gue. Wajar gue khawatir sama dia!"
Tapi Garrick menangkap maksud lain dari perkataan Eshar, mengepalkan tangannya ingin melayangkan pada wajah Eshar. Cemburu sudah pasti! Ada yang mengincar Artha selain dirinya.
Dengan sigap tangan itu ditangkis. "Bukannya waktunya untuk ribut. Artha dalam bahaya sekarang, kita ber dua harus segera memcarinya!" ucapnya menekan kata 'ber dua'.
Menarik napas dalam-dalam meredam emosinya, mengalah mengikuti kemana Eshar berjalan.
Ruangan Pak Erlan adalah tujuan pertamanya, meminjam kunci ruang cctv sekolah agar cepat mencari keberadaan Artha.
Kuncinya tidak ada di tempat biasanya, Pak Erlan juga kebingungan. Tidak mau membuang waktu banyak lagi, Eshar dan Garrick bersepakat untuk berpencar.
Namun sebelum benar-benar berjalan berpencar, Pak Erlan memberi saran agar mencari Artha di ruangan gedung sepi di sekolah ini. Beliau sudah hapal betul seluk beluk bangunan gedung dan mengalami kasus yang hampir serupa.
"Bisa saja ada pihak lain yang mencuri kunci ruang cctv dan biasanya akan ada hal buruk terjadi jila seperti itu. Bullying yang semacam ini sudah pernah terjadi tahun sebelumnya, itu saran bapak."
"Ruang Lab!" pekok Eshar.
Cepat-cepat berlari menyusuri ruang lab, benar saja lorong ini sangat sepi karena mungkin tidak ada kelas yang berkunjung.
"Shar, ada AC yang hidup itu!" seru Garrick menunjuk outdoor AC yang terasa panas saat mereka melewatinya tadi.
"Astaga! Ruang Lab IPA belum kita lihat."
Pintunya dikunci dari luar, dan memdobraknya pun pasti sulit karena terbuat dari besi yang engselnya sangat kuat. Garrick berlari masuk ke dalam gudang A dan membawa martil dan tang. Segera mencongkel merusak engsel pintu.
Udara dingin menyeruak begitu pintu berhasil terbuka, mata terbelalak Artha meringluk mengigil di kolong meja bersama kain tipisnya.
Tangan Eshar hampir menggapai tubuh Artha hendak mengangkat, namun kapah cepat dengan Garrick yang sudah terlebih dahulu menggendong Artha.
Menahan cemburu, yang penting sekarang Artha harus segera dibawa ke uks.
Membaringkan Artha di ranjang yang empuk menyelimutinya dan si perawat petugas UKS sigap memberi pertolongan pertama pada tubuh Artha yang kedinginan.
Untung saja keadaan Artha tidak parah, sehingga memudahkan si petugas UKS masih bisa menanganinya tanpa harus melanjutkan ke rumah sakit. Tidak bisa langaung pulang karena harus menghangatkan tubuhnya dulu berbaring di ruang UKS yang fasilitasnya sangat meeah, Pak Erlan datang membawa seragam olah raga perempuan untuk mengganti seragam khas yang dipakai Artha. Beliau siap mengantar Artha pulang dan menjelaskan kepada orang tuanya, menggantikan kepala sekolah yang sedamg sibuk di luar sekolah.
__ADS_1
.
.
.
Hari ini adalah hari terakhir latihan untuk persiapan olimpiade, Artha sebenarnya harus mengikutinya dan memastikan namanya benar-benar terdaftar dari sekolah untuk dikirim ke panitia pusat.
Eshar baru pertama kali ini izin mengundurkan waktu mengikuti rapat dan lebih memilih membeli makanan untuk Artha, lagi dan lagi tingkahnya membuat semua anggota osis terheran. Pak Erlan sebagai pembina osis tentu sangat memahami muridnya ini, ia bisa merangkai kata membuat anggota lainnya memaklumi keterlambatan hadiran Eshar di rapat kali ini.
Hah. Lagi Eshar harus kecewa dengan pemandangan yang membuat hatinya cemburu, ada Garrick yang sedang menvobrol dengan Artha.
"Lo bawa makan untuk Artha, nih Arthanya udah selesai makan." Garrick menatap kesal pada Eshar yang menganggu waktu berduaannya bersama Artha.
"O-oh, ya sudah. Gue bawa makanannya balik aja," ucap Eshar wajah sedihnya.
Artha tidak enak dengan usaha Eshar yang sudah rela membawa makanan untuknya. "Jangan, Shar. Aku masih lapar, makanan ini masih muat dalam perutku. Mari!"
Tersenyum senang Eshar memberikan makanan pada Artha, Garrick menatap tajam tidak dipedulikannya.
Makannya habis tak bersisa, Garrik buang muka melihat betapa semangatnya Artha melahap pemberian Eshar.
"Lo yakin mau ikut? Tapi kondisi lo belum pulih, Ar," Garrick masih menbujuk Artha agar tidak ikut latihan kali ini.
"Aku udah nggakpapa. Pokoknya aku harus tetap ikut, ini latihan terakhir kita!"
Garrick mendesah pasrah.
"Ya udah. Kalau lo mau tetap ikut, tapi jangan maksain diri dulu ya. Gue akan ngomong sama kepala sekolah biar tetap daftarin namamu," sahut Eshar.
Waktu masuk latihan tinggal 15 menit lagi. Artha bangkit dari ranjang pasiennya dan merapikan diri terlebih dahulu, dibantu Eshar dan Garrick keluar dari UKS.
Pak Erlan dan si petugas UKS pun kalah berdebat dengan Artha.
Dan tadi saat diintrogasi Artha, ia terpaksa mengarang cerita tentang bagaimana dia bisa sampai terkurung di lab IPA. Ia akan berbohong karena bukti pun tidak ada, sangat rumit berurusan dengan pihak sekolah. Artha tersenyum sinis melihat reaksi terkejut Ashira dari bangkunya sana, berjalan duduk di samping Ashira berbisik sesuatu yang membuat Ashira ketakutan.
__ADS_1
👇👇👇