
Papan baliho foto peserta olimpiade terpajang besar di depan gerbang utama sekolah, siapa pun masuk gerbang pastilah baliho itu yang akan pertama kali menyambutnya. Kalau foto peserta yang lain, itu sih sudah biasa. Tetapi foto dua murid yang baru pertama kali bergabung dan langsung mendapatkan kemenangan, itu menjadi poin plus di ajang kali ini. Yang memandang Arthauli remeh kini berdecak kagum melihat poster Artha yang tersenyum di samping Ashira seraya menyentuh ujung piala. Garrick si cowok tampan yang terkenal otak pas-pasan, semakin mempesona apa lagi murid perempuan yang berteriak memuji Garrick yang semakin menonjolkan diri melalui ajang olimpiade ini.
"EH, DENGERIN GUE YA!! NGGAK ADA YANG BOLEH NATAP FOTO AYANG GARRICK GUE SAMPAI SATU MENIT, NGGAK BOLEH. HANYA GUE, OTHA, YANG BOLEH MEMUJI MELIHAT KETAMPANAN AYANG GARRICK. BUBAR LO SEMUA BUBARRR!"
Teriak Otha sekencang mungkin menerobos antrian siswa yang mengerumuni papan baliho, berdiri paling depan merentangkan tangan menutupi baliho dari pandangan semua orang. Disusul Ashira dan Fana berjalan ikut menerobos menghampiri Otha.
"Halahh, Otha Otha! Nggak usah kepedean deh lo, si Garrick aja nggak suka sama lo. Huuu!" sahut Jesslyn yang ternyata ada dalam perkerumunan siswa.
"Oh iya. Kemarin aja gue lihat sendiri kalo hadiah jam tangan yang lo beli untuk si Garrick dipake si Nichol itu. Kok bisa ya?" Ayoola ikut menimpali.
Mendengar itu sontak semua berseru mengejek Otha.
"Eh, udah udah. Sekarang lo semua masuk kelas sana!" Ashira mengibas kedua tangannya mengusir kerumunan.
"Lah kok ngatur! Kami belum puas memandang wajah Garrick daan memandang senyum kemenangan Arthauli, hebat loh Artha!" Jesslyn membuat Ashira kepanasan.
Kerumunan semakin padat menyoraki Ashira dan untung petugas penjaga berhasil membubarkan masa.
"Pada katro semuanya," ucap Thara tepat setelah geng Fana berpapasan.
Artha datang hampir terlambat berlari menuju ruang kelas ngos-ngosan duduk di bangkunya, menarik napasnya meneguk air minumnya. Tapi tunggu, kok pada diam? Padahalkan belum masuk les pertama, menoleh kiri kanan Artha terheran-heran. Sampai lonceng berbunyi seisi kelas berbaris di lapangan olahraga.
Setelah Skyler berpidato perwakilan menyampaikan rasa terima kasihnya, semua bertepuk tangan dan guru-guru satu per satu menyalam siswa yang ikut olimpiade.
Selama mata pelajaran pertama berlangsung, semua berjalan tidak seperti biasanya, bahkan teman satu bangkunya yang ogah-ogahan tadi pun secara suka rela menawarkan buku paket bagi dua, dengan tak merasa bersalah pula Artha pamer sudah mempunyai buku paket yang membuat teman satu bangkunya malu sendiri.
Pembagian kelompok tidak sesulit biasanya, meja yang di depannya berbalik tersenyum ramah padanya mengajak satu kelompok.
Bel istirahat semua murid bernapas lega, cepat-cepat Artha berlari keluar tidak menghiraukan suara teman satu kelasnya.
Entah kenapa justru kelas Eshar yang lebih welcome padanya, Artha bebas masuk bergabung bersama geng Garrick. Kelas itu tidak sungkan menyalam memberi selamat padanya.
Eshar tadinya mau keluar tidak bergabung bersama geng ini, tapi Artha dan Skyler merayu hingga Eshar ikut bergabung makan bersama di kantin.
"Semua sok baik karna aku bisa dapat skor di olompiade itu, kesal," rutuk Artha curhat pada teman-temannya.
Yang lain ikut berkomentar mencairkan suasana kantin, tidak sadar bahwa Eshar sudah banyak bicara dan ditanggapi teman yang lain.
__ADS_1
"Radiv, Ashira gimana?" tanya Skyler tiba-tiba mengganti topik pembahasan.
Sebelum menjawab Radiv menghabiskan minumannya. "Bokap Nyokap gue nggak merespon lebih waktu Ashira pulang bahkan piagamnya aja nggak dibaca sama mereka, ya Ashira murung masuk kamar terus sinis banget ke gue sampe sekarang. Bokap gue manggil ke ruang kerja, habis gue dimaki karena nggak bisa secerdas Ashira, Nyokap diam aja nggak belain gue." Radiv menceritakan dengan wajah lesu.
"Terus Bokap lo ada ngapa-ngapain lo?" tanya Skyler lagi.
"Nggam absen kalau itu, Bokap gue! Ya, selain mengomentari hubungan gue sama Thara, Bokap juga menghukum sita laptop sama hp gue."
"Untung lo ada hp rahasia ya," sahut Jaya.
"Sampai kapan hubungan kalian kayak gini, Div? Udah setahun loh ini," Garrick mengusap lengan Radiv.
"Ashira nggak percaya sama gue kalaupun gue cerita yang sebenarnya, dia nganggap gue anak kesayangan. Karna itu yang dilihatnya," jawab Radiv.
Sedangkan Artha dan Eshar hanya diam memahami cerita.
Makanan mereka habis berdiri dari kursi masing-masing beriringan berjalan menuju lift ke lantai atas ruang kelas, sebelum Jaya menekan tombol pengendali lift, suara cempreng gadis menghampiri menghentikan gerakan tangan Jaya.
Garrick mengelus dada melihat siapa yang datang suara teriakannya serasa memecah gendang telinga.
"Garrick, Otha bawaain bunga nih buat kamu. Hadiah dari Otha karn-"
Wajah Otha murung, sedetik kemudian ia berhasil menetralkan emosionalnya. "Terima dong ya, aku udah su-"
"Emang ada yang nyuruh? Enggak ada kan."
"Garr," Artha memperingati Garrick yang memotong ucapan Otha.
"Tinggal terima aja, apa susahnya sih," keluh Fana melipat tangannya di depan dada. "Sombong banget jadi cowo."
Jaya merasa sedikit iba melihat wajah memelas Otha, refleks tangannya meraih buket bunga yang ada di tangan Otha.
"Jaya, jangan pegang kelopak mawarnya!" seru Artha menatap takut pada buket bunga yang sudah ada di tangan Jaya.
Semua menatap Artha heran, Artha bergeser meraih buket bunga dari Jaya kemudian menelisik plastik pembungkus bunga. Ada sesuatu yang terselip bergerak di antara kelopak dan daun bunga, perlahan membuka plastik pembungkus bunga dengan hati-hati.
"Lo apain bunga gue, Artha!" Otha tidak terima.
__ADS_1
"Nih!"
Artha membuang bunga ke lantai dan ada sesuatu yang bergerak muncul ke permukaan keramik.
"Iiuhh, ulat bulu!" pekik.Ashira jijik.
Tercengang menghindar menjauh dari bunga yang masih tergelatak di lantai, Otha ternganga tidak percaya.
"I-ini nggak mungkin, kok bi-bisa ada ulatnya?" Otha tergagap. Padahal dia sendiri yang merangkai bunga itu, jelas-jelas semuanya sudah aman.
Eshar menginjak ulat bulu sampai mati yang membuat orang semakin jijik dan merinding. "Ini ulat bulu, kalau kita menyentuhnya mengakibatkan gatal-gatal."
"Otha! Lo mau- Ihss!" Garrick menggeram.
"Tapi gue udah mastiin kalau bunga ini gue yang merangkai nggak ada ulatnya," ucap Otha tersendat-sendat.
"Udah mau bel masuk. Otha, lo pungut bunga ini dan ulatnya juga, buang ke tempat sampah. Jangan minta tolong sama Pak Kepling, lo udah buat rusuh!" perintah Eshar tegas.
Semua sudah memasuki lift dan sebagian berjalan ke arah tangga darurat untuk kembali ke kelas masing-masing, tinggallah Otha, Ashura dan Fana.
"Tha, minta plastik ke kantin buat ngambil ulatnya, biar gue bantuin memungut bunga-bunga ini."
"Iya, Shir."
Fana menarik napasnya kasar, tidak berniat membantu malah hanya berdiri menatap jijik.
"Gue duluan naik ya, nggak tahan liat ulatnya. Oh iya, cuci tangan yang bersih, nanti kulit gue ikut gatal-gatal gara-gara bunga lo Tha."
Tanpa merasa bersalah Fana pergi meninggalkan ke dua temannya menaiki lift.
"Tha, yang kuat ya," bujuk Ashira.
"Gue udah biasa sama kelakuan Garrick, tapi yang gue nggak habis pikir siapa yang udah masukin ulat bulu ini?"
Tidak menyahut, Ashira fokus memungut bunga.
"Fana!"
__ADS_1
"Ha, apa Tha?"
👇👇👇