Anak-Anak Sultan

Anak-Anak Sultan
Merasa Tersaingi


__ADS_3

Pagi ini berbada tidak seperti kemarin, Artha berjalan tidak bersemangat pandangan lurus berjalan, bisikan yang masih julid padanya sudah tidak berarti buruk baginya.


"Door!"


"Shar,,kau lagi kau lagi!" pekik Artha terkejut menghentikan langkahnya.


Eshar terkekeh sebentar lalu merubah ekspresi serius melihat Artha agak lain pagi ini. "Ada paga, Ar?"


"Kenapa?" Artha balik bertanya bingung.


Waktu belajar masih setengah jam lagi, Eshar mengajak Artha duduk di kursi besi yang tersedia di lorong kelas. "Lo lagi mikirin apa, jalannya melamun."


"Ada sesuatu yang kupikrkan, Shar."


"Kalau boleh tahu, apa itu? Tapi kalau enggak boleh, juga nggakpapa."


Entah hanya perasaannya saja atau tidak, seperti ada orang yang mengintai rumah mereka sepanjang malam. Jam 19:00 baru pulang dari warung, matanya sekilas melihat bayangan seseorang yang bersembunyi di balik pohon depan rumahnya. Waktu membantu menutup toko, bayangan itu terlihat lagi. Saat belajar di kamarnya juga, telinganya mendengar jelas suara jejak langkah kaki terlebih lagi ada suara lelaki yang meringis mendesis kesakitan. Bapak dan Mamanya sampai mencari ke seluruh pekarangan, tapi nihil tidak ada orang. Belum lagi cerita mimpi buruknya tentang orang tuanya, ahkk.


"Firasat atau entah apa pun itu, semoga tidak terjadi apa-apa pada keluarga kalian. Tapi mungkin itu hanya halusinasimu saja, efek terlalu lelah belajar persiapan olimpiade." Hanya sekedar itu yang bisa Eshar sarankan, jujur saja semua cerita Artha tadi memang masuk akal, tapi tidak mumgkin juga ia semakin menakt-nakuti Artha.


Setelah Artha cukup tenang, mereka berjalan ke kelas masing-masing. Seraya senyum tersungging di bibirnya, Eshar memberinya buku yang dia incar selama ini.


Masuk ke dalam kelas yang tidak ada baik-baiknya sama sekali, semua murid satu ruangannya belum ada yang dekat dengannya, masih terkesan cuek dan terang-terangan meledeknya sebagai cewek kampungan dan cewek munafik.

__ADS_1


Guru-guru yang mengajar di kelas sudah mendapat tandingan baru selain Ashira, Artha juga sudah sering maju ke depan menjelaskan apa yang diperintahkan guru. Ashira meradang merasa tersaingi kepintarannya, apa lagi Fana bilang tadi kalau ini terus terjadi bisa menggeser posisi rangking yang sudah dipertahankan Ashira mati-matian. Itu tidak boleh terjadi.


Sepertinya Ashira harus lebih bertindak tegas pada Artha agar tidak merebut posisinya, kepalanya mengangguk menyetujui ide yang dibuat Fana.


Bel istirahat berbunyi, semua siswa bergegas keluar meninggalkan kelas. Tidak ada yang menyadari bahwa Fana telah memberi suap pada Bu Derika untuk memberi kunci cadangan ruang kelas, masuk diam-diam menukar buku milik Artha yang masih tersimpan rapi dalam tas dengan buku yang dipegangnya. Tersenyum puas, Fana mengunci kelasnya lagi akan terjadi rencana berikutnya.


Otha dan dua murid cewek lainnya turut membantu rencana dengan bayaran dari Fana tentunya, salah satu dari cewek tadi pura-pura minta tolong untuk ditemani ke lab biologi sekolah yang berada tepat diujung lorong sepi. Artha menurut saja, ia pun tidak tahu ruangan apa yang di depannya saat ini.


Uang mampu membuat apa saja, bahkan Bu Derika dengan sengaja merusak cctv lorong menuju gudang untuk rencana Fana. Dua murid cewek bahkan tidak mengenal dan tidak pernah berurusan dengan Artha, uang membuat mereka ikut terseret.


"WOIII BBUKKA!!" Artha menggedor pintu ruang lab yang dikunci oleh cewek yang dibantunya tadi.


Apa lagi ini? Artha benar-benar ketakutan dengan ruangan ini, gelap apa lagi ada patung organ manusia yang terpajang membuatnya merinding. Sampai suara pintu terbuka membuka matanya, bukan untuk menolongnya tapi justru Ashira yang datang dan tanpa aba-aba langsung mendorongnya hingga terpemtal ke lantai.


"Kalau kau bilang itu samaku, itu artinya kau juga mengakui kalau aku pintar. Tapi kenapa juga harus merasa tersaingi samamu? Bukannya justru bagus ya? Oh, aku ngerti. Atau jangan-jangan kau sebenarnya pura-pura pintar, atau memang aku yang lebih pintar dari kau?


Ashira semakin tersulut emosi mendengar ucapan yang keluar dari mulut Artha, dengan sekuat tenaga tangannya mendorong Artha sampai suara kepala membentur ujung meja lab.


Artha pun tidak bersiaga, keseimbangannya tidak terjaga sehingga ujung keningnya sampai terbentur dan membuat nyeri teranat hebat.


Tidak, ini diluar kendalinya. Melihat betapa sakitnya Artha sampai menangis kesakitan, membuat Ashira panik. Langkahnya mundur cepat-cepat menutup pintu, tapi sebelum itu tidak lupa ia menekan remot kontrol AC membuat suhu dinginnya sampai benar-benar dingin, sesuai dengan instruksi Fana. Langkah Artha kala cepat berlari menuju pintu, menggeser kursi yang menghalanginya.


"Dingin, Ma. Dingin, Pak."

__ADS_1


Bertetiak minta tolong tapi tidak ada yang datang, ini sudah 5 menit dinginnya sudah menembus kulit. Tidak bisa berpikir jernih lagi, Artha berjalan mencari apa saja yang dapat membungkus tubuhnya. Membuka lemari, hanya ada kain lebar tapi tipis dan karpet yang sudah mulai lapuk.


Membalut tubuhnya duduk di sudut ruangan himpitan beberapa meja, tetap saja dinginnya tidak terlawan. Bibirnya mulai beku, kulitnya sudah mulai keriput, matanya mulai sayu melirih minta tolong kerongkongan sudah terasa kelu.


Lorong ini memang sepi, mengingat hari ini tidak ada jadwal kunjungan. Suhu AC yang teramat dingin semakin membuat tenaganya terkuras, menggosokan tangannya pun sudah tidak kuat lagi. Belum lagi luka di kening semakin nyeri kepalanya juga terasa pusing sekali.


Air matanya jatuh merenung nasib selama di sekolah baru ini, bullying yang membuatnya terkadang berpikir untuk pindah sekopah lagi, belum lagi status sosial yang hanya dari keluarga sederhana membuat kesenjangan sangat sulit menerima dirinya menjadi bagian dari siswa di sini.


Matanya hampir tetutup tapi bayangan olimpiade membuat matanya terbuka lagi, kemarin bsrsemangat untuk ikut tapi sekarang nyawa pun diambang kematian jika tidak ada yang menolongnya keluar dari sini.


Mati?


Matanya mulai tertutup lagi, tiba-tiba ke dua orang tuanya melintas di benatnya. Cita-cita dan impiannya, betapa bapak dan mamanya begitu mendukungnya dan selalu memberi nasihat untuknya. Kerja keras dan usaha pengorbanan yang sudah dirasakannya, sampai suatu hari ada nasib baik yang mengantarkannya sampai ke sekolah ini.


Lalu apakah semudah itu ia mati?


Dingin semakin dingin, tidak tahu sudah seberapa lama dia terjebak dalam ruangan ini. Ashira, dia penyebabnya.


Bak-bapak, Ma-mama, thol-ong ak-u." Hah!"



👇👇👇

__ADS_1


__ADS_2