Anak-Anak Sultan

Anak-Anak Sultan
Minuman Rasa Pete


__ADS_3

Pelajaran les pertama gurunya sedikit terlambat karena sedang ada urusan di kantor guru, sang sekretaris kelas muncul dari pintu membawa tugas untuk dikerjakan mengisi waktu pelajaran.


Di saat murid lain sedang asik mengobrol tidak melakukan amanah gurunya, Artha dan Ashira sudah serius dengan buku-buku pelajarannya. Artha masih malas bercengkrama, lagian juga teman satu kelasnya belum ada yang dekat padanya tak terkecuali satu bangkunya sendiri.


Dengan memaksa Ashira untuk ikut keluar ke kantin beli minuman, membayar si sekretaris agar mengizinkannya bisa keluar bersama gengnya.


"Ish! Katanya di sini anak-anak orang kaya, tapi masih mau makan uang sogokan," ucap Artha berdecak kemudian kembali melanjutkan tugasnya. Hah,,ingin rasanya menoyor kepala satu bangkunya ini, pelit amat nggak mau bagi-bagi buku. Sepertinya harus berburu ke perpustakaan sekolah, mengejar ketertinggalan bab pelajaran.


"Sebenarnya minuman-minuman ini mau kita apakan? Terus, nanti kalau ketahuan guru kuta lewat bawa ke kelas, gimana?" Otha memberondong pertanyaan pada Fana yang memborong minuman sebanyak 30 botol.


"Kalau masalah guru, gue udah amanin. Gini! Nanti kalian berdua bagi-bagiin minuman ini ke satu kelas kita aja, semua harus dapat dan udah sesuai dengan hitungan." Fana mengambil satu minuman dari barisan tengah dan memutar-mutar tersenyum licik. "Dan untuk botol yang gue pegang ini, pastikan harus Artha yang dapat. Gue udah nyuruh pegawai kantin mencampur bubuk pete ke dalam minuman ini."


Otha tersenyum girang, Ashira hanya berdecak mengikuti alur saja. Fana berjalan angkuh tanpa membawa beban, sementara Otha dan Ashira sudah keberatan membawa kardus berisi minuman. Melewati lorong kelas tanpa ada yang mencurigakan, masuk kelas menghentikan keributan murid.


"Guyys!! Nihh, Fana mentraktir kita minuman lagi! Diminum ya, kalau guru udah datang jangan lupa sembunyiin. Nanti dimarahi," ucap Otha.


Ashira dan Otha sibuk membagikan minuman ke setiap siswa, Fana sudah duduk di bangkunya menikmati semuanya. Pintu kelas sengaja ditutup meredam suara ribut.


Artha masih berkuat dengan alat tulisnya, melirik sekilas minuman yang ada di mejanya dekat buku. Setelah beberapa saat barulah ia menyudahi kegiatannya, meraih botol minum mengamati lamat-lamat. Pasti ada yang tidak beres pada minumannya, Artha sangat yakin itu. Melirik ke arah Fana dengan sorot tajam, Fana dengan cepat membuang muka.


Membuka tutup botolnya dan meneguknya sedikit, tapi...Astaga! Sejak kapan minuman ada rasa petenya? Gawatt! Padahal baru meminuknya sedikit tapi sudah langsung terasa.


Menutup mulutnya dengan telapak tangan lalu berlari ke luar kelas membawa botol minumannya, menuju toilet yang ada di lorong ujung sana.


"Hah,,,hahh,,hah!" Mengendus napasnya sudah bau pete, menggeram memaki Fana dan geng di depan cermin besar. Sekarang bagaimana mungkin mulutnya beraroma pete? Ahk, apa yang harus dilakukannya sekarang.


Berkumur-kumur berulang kali juga tidak mampu, tidak mungkin'kan berkumur sabun cair ini. Oh iya, permen! Keluar dari toilet berjalan pelan sambil menutup mulutnya menuju kantin, semoga tidak ada orang yang mengajaknua bicara sebelum mengunyah permen.


"Arthauli!"


Deg.


"Eeemm," sahut Artha masih menutup mulut dengan tangannya. Wajahnya menunduk malu, takut nanti saat ia berbicara bau petenya menganggu.


Eshar menghampiri Artha menatap bingung pada cewek ini. "Kenapa tutup mulut begitu?" tanyanya.


Sahut Artha menggeleng kakinya melangkah mundur.


"Artha!" panggil Eshar mengemgam lembut pergelangan tangan yang menutup mulut Artha. "Lo dikerjain sama sekelas?" tanyanya memastikan.


Artha menggeleng kuat, mau lari menghindar tetapi cekalan Eshar kuat sekali.

__ADS_1


Eshar menarik tangan Artha memaksa membuka mulutnya. "Ada apa ini?" tanyanya setelah tangan Artha bebas di udara.


"Tadi Fana beli minuman untuk kami satu kelas, tapi minumanku ada petenya," lirih Artha pelan membuang mukanya ke samping.


"Apa!" pekik Eshar marah. "Mereka lagi!"


Tanpa pikir panjang Eshar menarik Artha membawa ke dalam ruang kelasnya, Artha pun hanya pasrah tidak minat berbicara banyak. Tetapi ada sesuatu yang menganggu pikirannya, saat berjalan tak sengaja ia melihat ada bekas lebam yang membiru di sudut bibir Eshar. Walaupun sudah disamarkan sepertinya menggunakan bedak, tapi Artha tahu itu bekas pukulan seseorang di wajah Eshar. Ingin bertanya, tapi nanti takut menyinggung urusan pribadi dan mulutnya pun bau. Tidak tepat waktu.


Garrick dan teman-temannya sedang bercanda di ruang kelas, seketika terdiam dengan teriakan Eshar memanggil nama Radiv dari arah pintu, apa lagi melihat siapa yang datang bersama cowok ini. Kelas mereka sedang kosong pelajaran karena hukuman mereka juga.


"Apa-apaan lo, Eshar!" serunm Radiv tidak terima menatap nyalang pada Eshar.


Artha ketakutan berdiri di belakang tubuh Eshar yang tinggi tegap, masih menunduk juga kebingungan dengan keadaan saat ini. Tidak sengaja matanya bertemu dengan Garrick.


"Radiv, Eshar, tenang dulu. Tolong jangan buat kegaduhan. Eshar, kok lo bawa murid kelas lain ke sini?" tanya Skyler melerai.


Eshar merebut minuman yang dipegang Artha, meletakkan dengan kasar di atas meja, menatap satu per satu pada mereka.


"Fana dan geng, sudah mengerjai dengan mencampurkan minuman punya Artha dengan pete," ungkapnya sampai membuat mereka tercengang. "Radiv, Ashira kembaran lo itu! Lebih baik peringatkan agar dia nggak macam-macam lagi sama orang lain. Bila perlu jauhkan dia dari Fana, biar gue enggak ikut emosi menyalahkan Ashira setiap Fana melakukan kejahatan lagi. Gue yakin, Ashira juga ikut ngerjai Artha," cerca Eshar.


Radiv terduduk lemah di kursinya, menarik napasnya dalam-dalam tidak mampu berkata apa-apa lagi. Lagi dan lagi adiknya terseret dalam kasus Fana. "Iya, Shar."


"Garrik, mau lo bawa kemana Artha?" tanya Eshar berteriak. Mau mengejar, sudah dihalangi oleh Jaya dan Skyler.


Artha ngos-ngosan berlari bersama Garrik, turun dari lift membawa ke UKS.


Menyuruh Artha duduk menunggu di kursi besi di depan ruang UKS, masuk ke dalam permisi dulu pada petugas keluar lagi sambil membawa sesuatu.


Tanpa banyak bicara, tangannya cekatan membuka plastik pembungkus masker mulut dan memakaikannya dengan hati-hati pada Artha.


"Gue antar ke kelas lo, ya. Jam istirahat nanti gue jemout lagi, kita beli permen penyegar napas ke kantin," ucap Garrick lembut.


"Iya. Terima kasih, Garrick."


.


.


.


Fana murka melihat kejadian tadi, bisa-bisanya Garrik muncul membawa Artha dan bernegoisasi agar tidak menghukum Artha saat guru mereka sudah datang.

__ADS_1


Otha dan Ashira hanya membisu mendengar omelan Fana, salah-salah justru kena marah juga.


Sekarang mereka sedang berada duduk di bangku besi dekat anak tangga turun, selera ke kantin hilang sudah.


"FANA!!"


"Radiv," lirih Ashira berdiri.


Radiv melempar botol minuman ke wajah Fana, botol minuman itu masih tertutup rapat tetapi cukup membuat kening Fana terasa berdenyut. Menggelinding ke lantai membuat isinya tumpah, mengotori lantai keramik dan telapak sepatu Fana dan Otha. Aroma pete yang menyeruak membuat mereka menutup hidung.


"Loo!!" teriak Fana pada Radiv.


"Gue nggak takut sama pangkat lo di sekolah ini! Bagi gue, lo itu tetap siswa sama kayak kita semua. "Jaya, Skyler! Urus Fana!" teriak Radiv memberi peringatan.


Radiv menarik membawa Ashira menuruni anak tangga. Sedangkan Jaya dan Skyler sudah menarik Fana dan Otha agar tidak mengikuti Radiv yang membawa Ashira.


"Udah berapa kali gue peringati, jangan berteman dengan Fana. Cewek itu bukan orang baik untuk dijadikan temen, Ashira! Lo jadi orang sombong setelah bergabung sama mereka, sadar nggak lo!"


"Lo ikutan licik seperti Fana, jadi murid yang munafik seperti Fana! Suka ngerendahin orang lain, lo juga jadi pembantunya Fana. Jangan pikir gue nggak tahu, lo mau disuruh-suruh dan mau-maunya mengerjakan PR Fana. Seorang Ashira yamg dulunya terkenal murid pintar dan pendiam, kini sudah berganti jadi murid yang sombong gara-gara berteman dengan Fana!"


cerca Radiv panjang lebar.


Namun mata hati Ashira masih tertutup dengan fakta yang ada, dia justru mendorong tubuh Radiv sekuat tenaga seraya memaki abangnya ini. Sambil menangis ia berlari menaiki anak tangga meninggalkan Radiv yang tersenyum ironi.


"Ashira, sampai kapan kita begini terus," lirih Radiv menyeka ujung netranya yang berair.


"Radiv."


Thara datang membantu Radiv berdiri, menenangkan cowok yang sudah menjadi kekasih hatinya ini.


"Ashira masih benci sama lo, karena nggak suka sama gue," ungkap Thara.


Radiv mengecup punggung tangan Thara. "Dia hanya belum sadar saja, siapa yang sebenarnya sedang dibela. Gue masih terus mencari cara untuk membuktikan kalau lo enggak melakukan semua itu, biar Ashira bisa percaya lagi sama lo, Thar."


Thara tersenyum kecut. "Jangan memaksa, Radiv. Fana bukan lawan yang mudah, gue udah pasrah sekarang. Kita hanya menunggu waktu entah kapan itu, sampai Fana mendapatkan karmanya."


👇👇👇


Hai,,,hai...terima kasih yang udah mampir..


Maaf kalau ceritaku masih kurang kurang, ....

__ADS_1


__ADS_2