
Lonceng bel istirahat berbunyi semua murid berhamburan keluar kelas, tersenyum riang berjalan ke kantin.
"Sudah semuanya?" tanya sang ketua kelas berteriak memastikan kelas sudah kosong, peraturan sekolah mewajibkan kelas harus kosong dan terkunci saat jam pelajaran kosong.
Kantin mulai ramai pengunjung dipenuhi suara berisik murid-murid, para pelayan kantin sudah setia dengan seragamnya melayani permintaan murid-murid. Tentu ini adalah salah satu fasilitas kantin yang seperti kafe pada umumnya, mulai dari chef sampai pelayannya juga ada pekerja khususnya, makananya juga setara dengan menu restoran dan kafe, mulai dari menu sederhana seperti menu sekolahan pada umummya sampai menu mahal ala-ala restoran.
Tempat duduknya juga sangat nyaman, tatanan meja yang tersusun rapi ada bunga sebagai penghiasnya. Ruang kantin cukup luas mampu menampung semua anggota sekolah, kantin memang satu untuk semua.
"Minggu ini giliran lo yang traktir kan, Shir?" tanya Otha pada Ashira.
"Yups, kalau masalah makan gratisan aja lo ingat banget," jawab Ashira seraya tersenyum meledek pada Otha yang sudah cemberut.
Ya begitulah pertemanan mereka. Setiap minggu akan mendapat giliran untuk menjemput pakai kendaraan pribadi dan traktir makan di kantin, minggu ini giliran Fana yang menjemput dan Ashira yang menraktir.
Pelayan sudah mengantar makanan mereka ber tiga, memakan dengan lahap sesekali mengobrol ria.
"Guys!"
Panggilan Otha mengalihkan perhatian dari piringnya, menatap penasaran Otha yang sedang mengotak-atik ponselnya.
"Gue baru dapat info dari si butter yang di kelas kita, katanya Garrick akan main basket lagi dongg! Setelah sekian lama tidak muncul di basket, kangen aku lihat cowok sekeren Garrick mendribel basketnya! ungkap Otha menggebu-gebu menampilkan layar WAnya pada ke dua sahabatnya ini.
"Apaa!" pekik Fana dan Ashira serentak.
"Kok-" Otha heran dengan reaksi sahabatnya ini.
"Gue bisa ngasih sesustu apalah itu yang bisa memberi semangat untuk Garrick, kira-kira apa ya?" monolog Fana dalam hatinya. Menggigit sedotan menutupi senyum merekahnya, masalah beli barangnya mah hari ini juga bisa!
"Garrick! Gue bisa manfaatin momemt ini ngedekatin dia, untung ada si Radiv yang bisa gue tanya kapan Garrck sedang sendirian. Temuimya harus hari ini pastinya!" monolog Ashira dalam hati. Kalau persoalan Garrick, Ashira akan berbaik hati pada Radiv. Ini demi hati yang terpikat pada Garrick sahabat dekat Radiv kembarannya.
"WOIIII!"
"Aaa!"
Fana dan Ashira terkejut, saling menetralkan degup jantung kegirangan membayangkan Garrick pujuaan hati mereka.
"Kok kalian berdua pada melamun?"
"Enggak," sanggah Fanna ekspresi biasa saja tetap konsistem memainkan sedotannya.
"Eng-enggak ada kok," jawab Ashira gugup.
__ADS_1
Otha tidak ambil pusing dengan sikap sahabatnya itu, wajah cerianya tetap tersenyum apa lagi bila menyangkut tentang Garrick.
Baik Fana, Ashira, dan Otha suka pada cowok yang sama, hanya saja Otha yang terang-terangan menunjukkan perasaannya, sedangkan Fana dan Ashira diam-diam mendekati Garrick.
"Eh, Fan. Lo kan tahu tuh, tentang jenis-jenis bunga dan maknanya. Nah, gue mau beliin bunga untuk Garrick temanya tentang memberi dukungan, bunga apa yang cocok ya?"
Fana terkesiap, tanpa sadar ekspresi wajahnya berubah seketika.
"Wajah lo kenapa seperti yang keberatan gitu, Fan? Lo enggak suka kan sama Garrick, atau cemburu atau keberatan bantuin gue," cerocos Otha memberondong pertanyaan.
Dengan cepat kembali Fana mengubah ekspresi wajahnya. "Enggak, gue mau kok bantuin lo. Semoga aja Garrick suka bunganya," jawabnya berkilah.
Otha percaya saja, toh Fana waktu itu udah tegas mengatakan kalau tidak menyukai Gartick. Jadi, bebas dong ia mau menyukai Garrick lagi.
.
.
Garrick bernapas lega setelah keluar dari dalam kelas menghindari pelajaran Bioligi, sengaja membuat ulah keributan agar dihukum keluar kelas. Berjalan seorang diri menyusuri lorong kelas mencari udara segar, kantin adalah tujuan utamanya saat ini.
"Garrick!"
Garrick menghentikan langkahnya lalu menoleh ke belakang menghadap cewek yang datang menghampirinya. Hah, malas rasanya bertemu dia.
Ashira menahan rasa kecewa melihat respon tidak suka dari Garrick, ia tetap tersenyum manis menyentuh ujung rambutnya sebentar.
"Ngapain di luar jam pelajaran gini?" tanya Ashira basa-basi. Sebenarnya ia sudah tahu Garrick sedang dihukum, Radiv memang yang terbaik.
"Sejak kapan lo jadi kacungnya Pak Erlan? Bukan urusan lo juga," jawabnya ketus. Ingin berjalan lagi namun ditahan dengan panggilan Ashira.
"Garrick!"
"Ashira, jangan dekatin gue lagi!" serunya penuh penekanan menatap dingin pada wajah sendu Ashira. "Lo enggak malu sebagai cewek yang ngejar-ngejar cowok, udah ditolak juga berkali-kali. Masih banyak cowok yang suka sama lo, tapi bukan gue!" ujarnya langsung ke intinya saja.
"Lalu siapa? Skyler sahabat lo itu? Gue enggak pernah suka sama dia, gue suka sama lo," ungkap Ashira menahan sesak di dadanya.
Semua orang tahu bahwa Skyler sangat tergila-gila pada Ashira, tapi sayangnya Ashira selalu menolaknya.
Dada Garrick bergemuruh, entah apa alasan Ashira tidak menyukai Skyler tapi lebih memilihnya yang tidak menyukai Ashira. Tidak! Ini harus diselesaikan sekarang juga, agar semuanya tidak salah paham.
"Sekali lagi gue bilang, jangan dekatin gue lagi!" ucapnya tegas. Tanpa aba-aba lagi, ia meninggalkan Ashira begitu saja.
"Garr-Ahkk!!" raungnya kecewa meremas kertas yang dipegangnya. Ia, Ashire telah menuliskan kata penyemangat dengan sekreatif mungkin di dalam kertas warna yang dibelikan tadi dari toko sekolah. Semuanya sia-sia, bahkan ia belum sempat memberikan hasil karyanya untuk Garrick. Ia melakukan hal yang sama seperti Garrick, dihukum keluar kelas.
__ADS_1
Sementara Garrick sendiri terus berjalan menyusuri lorong sekolah, tanpa tujuan tanpa arah ia terus berjalan bahkan sudah melewati ruang kelas X.
Sampai bel istirahat kedua akhirnya Garrick kembali ke kelas dengan wajah kusamnya, sekarang ia sudah bergabung dengan temannya seolah tidak terjadi apa-apa.
.
.
.
"Nah bunganya udah jadi cantik banget sekarang, senangnya. Makasih ya Ashira, lo udah bantuin gue merangkai bunganya jadi cantik gini," ucap Otha tersenyum tulus pada Ashira yang sudah mau membantunya untuk merangkai jadi lebih cantik.
"Sama-sama, semoga bunganya diterima deh." Ashira tersenyum kecut. Apa Garrick mau menerima bunganya nanti, entahlah! Semoga saja tidak.
"Makasih ya, Fan. Berkat kekutan lo, jadi lebih mudah deh minta izin ke luar beli bunganya tadi," ucap Otha terkekeh.
"Yang penting lo seneng," ujar Fana mantap.
Otha dan Ashira pergi menuju ruang kelas Garrick, Fana tinggal di kantin, lagi mager katanya.
Fana tersenyum sinis seraya memainkan ponselnya memanggil seseorang
"Ingat apa yang udah gue bilang sebelumnya, pastikan bukan Garrick atau gengnya yang terima bunga itu dan lo harus bisa meyakinkan Otha untuk menerima bunga itu!"
"Iya, gue paham."
"Otha dan Ashira udah jalan ke kelas lo."
"Sipp, semua beres dan pastikan transferan juga beres!"
Tutt.
"Ternyata bukan hanya cewek yang matre, cowok juga," ujarnya mwrutuki cowok satu kelas Garrick yang baru saja ditelepon.
Transferan dana Rp 200.000 telah berhasil.
Dan semua itu berjalan dengan baik. Otha menangis pilu melihat bunga itu sudah berada di dalam tempat sampah, dengan lembut Ashira menenangkan Otha. Ternyata Garrick kejam juga menolak cewek, bukan hanya dia yang merasakan itu.
Tanpa mereka sadari sebenarnya Garrick sudah mengetahui semuanya, tersenyum sinis mengetahui persahabatan mereka yang palsu.
"Fana,,Fana! Penghianat yang sebenarnya bukan Thara, tapi lo sendiri. Menjijikan!" ujar Garrick tertawa sinis.
__ADS_1
👇👇👇