Anak-Anak Sultan

Anak-Anak Sultan
Olimpiade part 4


__ADS_3

"Dari mana lo, Shir?" tanya Skyler pada Ashira yang baru datang dari luar ruangan di tangannya ada kantongan plastik putih.


Ashira membuka kantongan kresek putih lalu membagi-bagikan minuman yang dibelikannya tadi. "Gue mampir ke kantin di sini beli minum, jadi nggak mungkin'kan hanya gue yang minum kalian enggak."


"Baik banget, tumben," tukas Garrick menatap tidak percaya seraya menelisik botol minumannya lamat-lamat.


"Takut ada racunnya," lanjut Garrick masih ragu untuk minum.


"Garrick, nggak boleh berburuk sangka gitu sama kebaikan orang lain, dosa itu!" Bela Skyler kesal.


"Ciee, ada yang dibelain calon ayang! Tapi'kan, siapa tahu gitu," ujar Garrick masih belum percaya.


Ashira tersenyum kecut.


"Ya sudah anak-anak. Cepat minum ya, waktu istirahatnya udah mau habis," ucap salah satu guru pendamping.


Pada akhirnya minuman yang dibagikan Ashira diminum juga, tapi belum Artha yang masih setia dengan kertas-kertasnya.


"Artha. Gue minta punya lo ya, masih haus nih?"


"Minum aja Garr," jawab Artha masih sibuk dengan kertasnya.


Ashira gelagapan kalau minuman itu masuk dalam tubuh Garrick, apa yang harus dilakukannya.


"Garr, nggak sopan banget lo minum punya Arha, Artha belum minum punyanya." Ashira menghela napas lega akhirnya ia mendapatkan satu cara menghalangi niat Garrick.


"Ha?" Garrick belum memahami ucapan Ashira.


Berdiri dari duduknya mengarah ke meja tengah, membuka kresek putih memberikan satu botol minum yang lebih pada Garrick. "Masih ada satu lagi. Pulangin itu jatahnya Artha."


Menurut saja karena memang masih haus, Garrick mengembalikan minuman Artha.


Masih fokus pada kertasnya, mendengar teguran dari guru pendamping segera Artha meneguk minuman itu tapi masih sisa lebih setengah botol lagi.


"Habisin dong, Tha," ujar Garrick perhatian.


"Nanti ajalah, masih belum haus juga. Yaudah kita siap-siap sekarang."


Diam-diam mendengus kesal, kenapa Artha tidak menghabiskan minuman itu sih?


"Jangan melamun Ashira, ayok keluar!" seru salah satu team pada Ashira yang masih berdiam. Minuman milik Artha masih ada di atas mejanya.


Berjalan menuju ruang kuis masing-masing dengan setiap pendamping, Artha Ashira sudah duduk manis ditempatnya. Meskipun sudah latihan keras, tetap saja masih ada rasa gugup.


"Baiklah para peserta semuanya, kali ini kita akan masuk ke babak kedua yaitu babak lisan. Waktu menjawab setiap soalnya hanya ada sampai 30 detik, jika salah makan soal bisa direbut oleh team lain!"


Ssssshhhttt! Artha memejamkan matanya tiba-tiba terasa berat, jelas kurang jelas telinganya mendengar instruksi dari depan. Ada apa ini?


Tanpa sadar Artha menguap lebar refleks menutup dengan tangannya.


"Peserta B yang menguap, masih sanggup melanjutkan kuis? Dia sudah mengantuk ternyata ya!"

__ADS_1


Apa?


Artha memaksa membuka matanya. "Masih sanggup!" jawabnya lantang dengan melawan rasa kantuknya.


"Bbaikllah, masih sanggup ternyata!!! Tepuk tangannya untuk menyemangati tim B dong!!!"


"Arthaaaa!!" seru salah satu guru pendamping dari sisi kiri ruangan.


Ini benar-benar mengantuk, ada apa sebenarnya jadi begini? Otaknya berpikir keras beriringan rasa kantuknya.


"Yang bener dong lo, Tha. Jangan bikin malu," bisik Ashira tajam.


Artha menoleh ke samping, akhirnya ia paham kenapa tiba-tiba ia mengantuk.


Artha menarik napasnya dalam-dalam, menggelengkan kepalanya. Artha harus bisa melawan rasa kantuknya, harus!


"Pertanyaan yang pertama!"


Artha mencubit pahanya sendiri menahan rasa kantuknya yang sudah menjadi, membuka matanya paksa terkejut Ashira berhasil menjawab soal dengan benar.


"Soal keduaa!"


Sekuat tenaga mencubit pahanya akhirnya mampu mendengar soal yang diucapkan dari depan, tangannya cekatan menekan bel.


Namun sayang, saat mulutnya ingin menjawab soal, justru suara menguap yang tanpa sadar dilakukannya. Membuat dia disoraki seisi ruangan, Artha mulai terguncang sekaligus malu.


Soal kedua dijawab team C.


"Bikin malu!" bisik Ashira tajam.


"Aku pasti bisa!" ucapnya meninju lutut kakinya beberapa kali.


"Soal ke empat....."


Soal ketiga sudah diambil team lain.


Tettt!


Artha mengucapkan jawabannya dengan terbata tapi masih jelas.


Membuat juri sempat kebingungan, tapi toh jawabannya benar dan tepat hanya saja agak terbata.


"Skor 20 untuk team B!"


Mendengar itu adrenalin Artha semakin terbakar, suara tepuk tangan membuat dia kini segar kembali. Sekali lagi ia mencubit lengannya dan pahanya untuk memastikan kantuknya hilang.


"Soal ke lima...!"


Tett..


Tett..

__ADS_1


Dua team berbarengan menekan bel, tapi Ashiralah yang menekan tombol untuk teamnya.


"Team B silakan jawabannta."


Sayangnya jawaban Ashira kurang tepat, sehingga team lawan yang mendapat nilai.


"Ahkk!" Ashira kesal sendiri.


"Soal ke enam, hitung-hitungan Geografi!"


Semangat 4 5 Artha menakan bel dan mengerjakan penyelesaian soal dengan lisan memasukan rumus dengan baik dan benar tanpa terbata lagi.


Juri tersenyum puas dengan hasil hitungan Artha dan mendapat nilai tambahan dari cara penyampain pengerjaan yang sangat bagus.


Untuk soal berikutnya sangat bersaing ketat dengan sekolah lain, Ashira mengalah kenyataanya Artha memang lebih tangkas darinya. Perlahan ia mulai sadar bahwa perbuatan ini salah, hampir saja nama sekolah taruhannya. Ini ide dari Fana.


Artha bukanlah murid egois, ia mebgalah untuk memberi kesempatan Ashira menjawab soal terakhir. "Ini giliranmu," ujarnya tersenyum kecil.


Menurut saja Ashira berhasil menjawab soal memenangkan team sekolahnya, kuis selesai.


Satu per satu keluar dari ruangan beristirahat sejenak menunggu hasil pengumuman juri, team sekolah berkumpul dengan sedikit ketegangan.


"Artha, kenapa kamu tadi sempat mengantuk?" tanya guru pendamping.


"Maaf, Bu. Mungkin saya agak kelelahan tadi malam begadang karena belajar," jawabnya tidak sepenuhnya salah tapi bukan juga itu alasan utamanya.


"Kau hampir saja mempermalukan nama sekolah kita!" hardik guru tadi masih kesal.


"Maaf, Bu," jawabnya menunduk.


"Sudahlah, Bu. Lagian juga Artha bisa menjawab soal kan tadi? Sekolah kita juga berhasil dapat skor tinggi," ucap salah satu guru melerai.


Guru tersebut kembali duduk menarik napasnya.


Garrick duduk di samping Attha menghibur cewek itu, terbalas Artha tersenyum manis bercanda bersama Garrick.


"Garr, kita buat apa gitu sama temen-temen. Hitung-hitung merayakan keberhasilan kita karena berhasil sukses jadi peserta olimpiade?" usul Artha.


"Aku setuju!" Skyler ikut menimpali.


"Tapi hanya geng kita aja? Enggak seru, gimana kalau Ashira juga ikut?" usul Artha lagi.


"Kalian aja, ogah gue," jawab Ashira ketus.


"Udah-udah! Nanti gue traktir kita satu sekolah yang olimpiade ini makan-makan, habis dari sini. Itu yang paling bener, setuju semuanya!" Garrick berseru semangat.


"Setujuu!!" jawab semuanya serempak.


Menjadi juara 2 umum membuat semua bersorak bahagia, saling ber tos ria berfoto memamerkan piala dan medali masing-masing.


Bus sudah menunggu di parkiran, semua naik dengan teratur. Namun sebelum Artha naik, ia menarik Ashira bergeser ke dekatnya berbisik sesuatu lalu melewati Ashira.

__ADS_1


Ashira semakin membenci Artha, apa lagi cewek itu duduk satu bangku dengan Garrick. Motor Garrick sedang dikendarai salah satu guru lelaki.


👇👇👇


__ADS_2