Anak-Anak Sultan

Anak-Anak Sultan
Murid Baru


__ADS_3

"Selesai!"


Seragam sekolah barunya terbalut sempurna di badannya, kemeja putihnya, dasi hitamnya, papan namanya, tali pinggangnya, rok putihnya , kaos kaki dan sepatu putihnya. Poles sedikit Sunscreen, pelembab bibir, semprot sedikit parfum, sisir lagi rambutnya.


"Udah cantik anak bapak ini," puji pria paru baya pada putri tunggalnya seraya tersenyum bangga.


"Artha, dengarkan nasehat bapak. Kita jauh-jauh merantau dari desa ke ibu kota demi mewujudkan cita-citamu jadi pengacara, kau juga dapat beasiswa dari sekolah yang elit ini! Bapakmu dan mamakmu ini akan bekerja keras lagi untuk mendukungmu, tapi kau juga harus tetap semangat ya belajarnya."


Arthauli tersenyum hangat beringaung memeluk ke dua orang tuanya, tak terasa air matanya menetes haru merasakan kasih sayang sebesar ini.


"Ha, jadi jelek nanti wajahmu itu. Lap air matamu itu," ucap mamanya menghapus air mata putrinya.


"Artha terharu loh, Ma," ucapnya masih sedikit sesenggukan.


Orang tua itu mengantar Artha pertama kalinya ke sekolah barunya dengan mengendarai mobil pik-up, dengan alamat yang tersedia mereka akhirnya sampai juga di sekolah.


Tttrrinnggg!


Mata melotot melihat gedung sekolah barunya, berteriak histeris mengangumi gedung dengan ucapan pujiannya.


Murid-murid yang baru datang ikut berhenti menyaksikan dengan heran ada juga tatapan meledek melihat betapa katronya keluarga ini.


Ttiinnn!!


Suara klakson mobil yang baru saja muncul dari belakang mobil bapak membuat bapak terkejut, belum sempat berbicara apa-apa, si pemilik mobil sudah berbicara lebih dulu dari jendela mobil.


"Woii, minggirin mobil butut lo. Jangan parkir di sini, ini sekolah bukan pasar yang nampung mobil begituan. Lagian siapa sih yang datang pake mobil pik-up, hahh!"


Ucapan cewek itu membuat emosi Artha naik, kakinya hampir menghampuri mobil, namun ditahan oleh ke dua orang tuanya. "Jaga emosimu, Boru. Ini bukan Siantar tapi Jakarta, kau mana bisa menang lawan mereka." Artha mendengus sebal dengan ucapan bapaknya. "Iya, Boru. Lebih baik kita biarkan saja, fokus belajar bukan cari lawan. Ini hari pertamamu bersekolah di sini," bisik mamanya.


"Maaf ya kakak cantik," ucap Artha sedikit berteriak. Usapan tangan mamanya membuat emosinya perlahan menguap.


"Ya udah, singkirin mobil jelek lo itu! Ngalangin mobil gue parkir aja tahu!" sambung cewek yang masih mengomel dari jendela mobil.


"Ada apa ini?"


Suara cowok itu semakin membuat pusat perhatian, membuka helemnya berjalan cepat menghampiri mobil bapak.


"Mobil siapa ini?" tanyanya lagi.


"Mobil bapakku! Kenapa?" tanya Artha ketus.

__ADS_1


"Artha," peringat mamanya lembut.


Suasana parkiran semakin mencekam, yang lain sudah berkerumun menyaksikan adegan ini.


Garrick tertegun mendengar tekanan suara murid baru ini, ih matanya itu melotot padanya juga. Garrick tersenyum cerah.


Pemandangan itu tidak luput dari perhatian cewek-cewek yang di dalam mobil tadi, Fana keluar disusul Ashira dan Otha berjalan menghampiri kerumunan si murid baru.


"Garrick!"


Ha? Gila, ke tiga cewek ini memanggil nama Garrick serempak.


Seketika raut wajah Garrick berubah masam menghadapi cewek ini, hah!


"Fana! Mata lo belum kabur kan? Parkiran sekolah ini sesempit itukah, sampai lo ngejek mobil orang lain. Padahal parkiran ini masih lempang buat nampung mobil baru lo itu! Jangan buat keributan di sini, cepat parkirin mobil lo dari sebelah kanan!"


"Tapikan mobil gue udah biasa parkir di sini," ucap Fana menyolot.


"Ini bukan parki pribadi lo, yang bisa sesuka hati!" MENYINGKIR LO DARI SINI!" teriak Garrick emosi.


Fana kesal dengan melampiaskan tendangan kakinya pada ban mobil bapak, ia berjalan angkuh diikuti Ashira dan Otha.


"Belagu cewek ini, awas nanti kalian ya!" monolog Artha dalam hati.


"Maafkan kami, Dek. Udah menggangu kenyamanan di sini," ucap bapak memohon tidak enak hati.


"Tidak kok, Pak. Ya sudah, lebih baik ikut saya saja ke ruang guru, mobil bapak akan aman kok di sini," ungkap Garrick memberi sedikit ketenangan pada wajah orang tua ini yang sudah menunduk cemas. "Mari, Pak." Garrick membawa ke ruang guru.


"Cuy-cuyy! Lo liat nggak tadi hah, tatapannya si Gartick?" Jaya berbisik merapat pada ke dua temannya.


"Entahlah, moga-moga aja ini pertanda baik. Hehe," sahut Radiv cengengesan membayangkan sesuatu.


Sepanjang perjalan menuju ruang guru, decakan kagum tidak berhenti terucap dari bibir ke dua orang tua Artha.


"Luas sekali sekolah ini, Pak."


"Udah kayak hotel kan, Ma?"


"Memang pantas lah ini sekolah anak orang kaya."


"Semoga Artha betah di sini."

__ADS_1


Garrick tersenyum tipis mendengarnya, Artha tidak bersuara lagi karena masih kesal dengan kejadian tadi.


Sampai memasuki ruang guru pun, Artha bahkan tidak berbicara sedikit pun, tidak menoleh pada Garrick, ia melewati Garrick seolah tidak ada orang di depan matanya.


Hanya ke dua orang tua itu yang berucap sangat ramah padanya.


"Asataga! Kenapa gue jadi gini sih, Artha si anak baru ini! Kok bisa-bisanya dia nggak tertarik sama gue, kan biasanya cewek-cewek langsung lirik kegantengan gue walaupun baru sekali pandang. Apa jangan-jangan aura kegantengan gue udah mulai luntur ya?"


"PD sekalii anda!"


"Esharr!" Garrick terkejut tiba-tiba Eshar muncul entah dari mana.


"Lagian lo ngapai senyum-senyum di balik pintu ruang guru segala? Apa itu namanya kalau bukan o-on! Lihat itu, temen-temen udah pada ngetawain tingkah lo! Awass, gue mau lewat!"


Eshar meninggalkan Garrick.


"Sorry, Cuyy!"


Pada akhirnya mereka terbahak memertawai tingkah memalukan Garrick.


Sial! Sampai tidak menyadari ia sedang berdiri di mana, Artha!!



Arthauli, pindahan dari sebuah desa ke ibu kota Jakarta. Mendapat beasiswa dari yayasan yang menaungi sekolah ini juga, ia terpilih menjadi murid di SMA BINA INSANI. IPS adalah jurusannya, pengacara adalah cita-citanya. Putri tunggal dari pasangan Bapaknya dan Ibunya. Dan orang tuanya sudah mulai bekerja sebagai supir pengantar barang di kantor pusat yayasan sekolah ini, sementara ibunya akan membuka usaha toko sembako di rumahnya yang sekarang. Semua itu dimodali oleh seseorang tanpa nama, tapi yang pasti orang itu adalah orang yang bekerja di yayasan ini juga.


Jlep!


Mereka satu kelas!


Tubuh Fana meradang, tatapan Artha menantangnya dari depan sana. Dan lebih mengejutkannya lagi, Artha duduk di samping barseberangan tempat duduknya.


Glekk!


Fana menelan salivanya kasar, gerakan tangan Artha seolah mengartikan sesuatu yang akan mengancamnya.


Artha menatap lurus ke papan tulis tapi kepalan tangan di atas pahanya membuat orang yang di seberangnya ketakutan, bersorak gembira dalam hati.


Siapa suruh tadi Fana merendahkan orang tuanya berbicara tidak sopan, Artha jelas tidak terima.


__ADS_1


👇👇👇


__ADS_2