
"Mas, ada yang ingin aku bicarakan," ucapku pada mas Haris, kami baru saja menemani Alena hingga tertidur. Kini masih sama-sama berada di dalam kamar Alena.
"Apa yang ingin kamu bicarakan? katakan saja langsung sekarang," balas mas Haris, sepertinya dia tidak berniat untuk beranjak dari duduknya. sementara Aku inginnya kita bicara berdua di ruang tengah, jadi bisa lebih leluasa. Jika di sini kami harus bicara dengan nada pelan bahkan terkesan berbisik agar tidak mengganggu tidur Alena.
"Ayo bicara di ruang tengah," ajakku kemudian, aku ingin membahas tentang Namira dan pernikahan, jadi rasanya tak nyaman jika dibicarakan di sini.
"Aku belum mau keluar, jika ingin bicara duduklah di sampingku," jawab mas Haris, dia menekuk sisi kosong di pinggir ranjang, sementara mas Haris duduk di kursi dekat ranjang ini pula.
Aku menghela nafas pelan, mulai berpikir bicara sekarang atau nanti saja. Menimang-nimang bagaimana baiknya. Jika bicara sekarang rasanya terlalu intim untuk kami, sementara aku sedang berusaha untuk menghindari mas Haris, menciptakan jarak aman untuk hubungan kami bertiga, aku, mas Haris dan Namira. Jadi akhirnya ku putuskan untuk menunggu saja mas Haris keluar di ruang tengah.
"Nanti saja bicaranya Mas, aku akan tunggu di luar," ucapku dengan nada lirih, sudah ku bilang, di sini kami tidak bisa leluasa, karena ada Alena yang tidurnya tidak boleh diganggu.
"Duduk di sini," titah mas Haris dengan cepat, rasanya aku belum selesai bicara namun dia sudah lebih dulu memotong. Mas Haris bicara dengan mulutnya, namun sorot mata itu seolah lebih mendominasi, begitu dingin dan tajam yang tak bisa ditolak.
"Tidak_"
"Duduk, katamu ingin bicara. Jadi katakan sekarang tanpa menunda-nunda," balasnya.
Aku menelan ludah kasar, jadi menyesal kenapa mengatakan hal ini saat masih di kamar Alena. Harusnya aku ucapkan ketika kami sudah sama-sama keluar.
__ADS_1
Ya Allah, batinku disaat mas Haris terus menatapku lurus dengan sorot mata tajamnya itu.
Dalam keadaan seperti ini bagaimana aku bisa mundur, kemarahan pria itu seolah sudah di depan mata. Jadi kakiku bergerak mendekat, dari sisi kanan Alena kini berpindah ke sisi kiri gadis kecil tersebut, berada tepat di samping mas Haris.
"Jangan terlalu jauh, mendekatlah padaku," titah mas Haris, saat aku duduk di sudut ranjang.
Tanpa banyak kata aku turuti lagi, sampai akhirnya aku duduk di tempat yang kasurnya dia tepuk. Jarak kami begitu dekat, kakiku yang menjuntai ke lantai seperti bisa menyentuh mas Haris.
"Apa yang ingin kamu bicarakan," kata mas Haris, suaranya mulai kembali pelan dan cukup hangat, tidak sedingin beberapa saat lalu.
"Sekarang kan Alena sudah sehat, aku ingin tanya kapan mas dan Namira kembali merencanakan pernikahan?" tanyaku langsung, tak ingin menunda-nunda. Ku singkirkan semua rasa takutku saat mengutarakan pertanyaan ini.
Dan mendengar pertanyaan itu mas Haris langsung menoleh ke arahku, tadi dia menatap Alena kini kembali menatapku dengan lurus.
"Aku akan bantu sebisaku_"
"Apa yang kamu bisa bantu?"
Aku menggigit bibir bawahku kuat, mana bisa menjawab lagi saat dipojokkan seperti ini.
__ADS_1
Disaat aku terdiam, mas Haris pun diam juga. Hingga ada hening diantara kita berdua. Hanya kedua mata yang saling tatap.
"Apa yang kamu katakan pada Alena tadi?" tanya mas Haris kemudian dengan sorot mata yang berubah sendu.
Membuat jantung ku seketika berdenyut nyeri. Sementara pikiranku kembali memutar pembicaraanku dengan Alena sore tadi. Tentang kami yang tidak boleh serakah.
"Alena hanya meminta kita untuk bersama dan kamu katakan padanya untuk jangan serakah," kata mas Haris.
Deg! Ternyata Alena mengatakan ini semua pada mas Haris. Aku terdiam seribu bahasa, sementara mas Haris terus bicara ...
"Dia hanya anak kecil Anindya, kenapa kamu paksa untuk mengerti semua ini,"
"Katamu poros hidupmu kini hanya Alena, lalu kenapa kebahagiaannya kamu halangi?"
"Aku dan Namira belum menikah, kami masih bisa mengakhiri semuanya. Tapi kenapa egomu tinggi sekali."
Air mataku jatuh saat ini juga, menunduk dan menyembunyikan semua kegundahan di dalam hati.
"Bukannya meminta ku untuk menikah denganmu, kamu malah kembali memintaku untuk menikah dengan Namira," kata mas Haris.
__ADS_1
"Kamu lah yang membuat luka baru untuk Alena," timpalnya kemudian dan membuatku makin tak karuan.
Cukup Mas. Batinku lirih.