
Menjelang jam 9 malam akhirnya semua tamu berangsur pamit pulang. Tadi juga ada pak RT yang datang ke sini jadi kami langsung meminta izin tentang Mas Haris yang akan menginap.
Entah karena kekuatan uang atau memang Pak RT percaya pada kami namun Mas Haris mendapatkan izin dengan sangat mudah, bahkan Pak RT mengatakan untuk Mas Haris tidak merasa sungkan ketika tinggal di perumahan ini.
"Bulek Anin, aku pamit pulang dulu ya," kata Reyhan dengan wajah yang nampak lesu.
"Iya Reyhan, besok pulang sekolah main ke sini lagi ya," jawabku pula.
Kulihat Reyhan mengangguk dan melirik ke arah Alena yang digendong Mas Haris. Entah apa yang terjadi di ruang tengah tadi, aku tidak tau sebab sudah sibuk sendiri dengan tamu yang lain.
Jam 9 tepat akhirnya pintu rumah kami tutup.
"Ya Allah Mbah Putri lelah sekali, Mbah tidur dulu ya sayang," kata ibu pada Alena.
"Alena mau tidur sama Mbah tidak?" tanya ibu lagi.
"Mau mau mau," jawab Alena, sepertinya dia pun rindu tidur bersama dengan neneknya.
Melihat reaksi Alena yang antusias, ibu pun tersenyum. Padahal beberapa saat lalu dia mengeluh lelah, tapi sekarang wajahnya jadi kembali sumringah. Alena bukan hanya obat lelahku saja, tapi juga obat bagi semua orang.
Mas Haris lalu menurunkan Alena dan membiarkan anaknya tidur bersama dengan ibu. Di ruang tengah ini mengisahkan aku dan Mas Haris berdua.
__ADS_1
"Kamu sudah ingin tidur?" tanya Mas Haris , dia yang lebih dulu bicara hingga mengusir semua kesunyian yang menyelimuti kami berdua.
"Memangnya kenapa Mas? apa masih ada yang ingin dibicarakan?" tanyaku pula. Apalagi jika ingat besok juga adalah hari yang sibuk untuk kami berdua. Meski hanya menikah siri tapi kami juga mengundang beberapa warga untuk menghadiri dan menyaksikan pernikahan tersebut.
Acaranya dilaksanakan saat Magrib, setelah ijab kabul acara pun langsung selesai. Sementara semua tamu akan diberi bingkisan.
Ibu Farah yang menyiapkan semua bingkisan itu, sekitar 20 orang yang kami undang.
"Aku belum tau nama mendiang ayahmu," kata Mas Haris kemudian.
"Ya Allah, maaf Mas, aku lupa untuk memberi tahu Mas Haris," jawabku. "Ayo duduk dulu," pintaku kemudian. Akhirnya kami duduk bersama di ruang tengah tersebut. Aku mencari buku dan pena untuk menulis nama bapak. Nama yang akan diucapkan oleh mas Haris di kalimat ijab kabul nanti.
Agung Riyadi.
"Mas, kita beri tau Namira tidak tentang pernikahan ini?" tanyaku kemudian, sejak tadi hal ini selalu menghantuiku pikiran ku. Tapi sekarang aku tidak bisa gegabah mengambil langkah, apapun yang aku lakukan harus berdiskusi dulu dengan mas Haris. Apalagi menyangkut Namira.
"Tidak usah, biar nanti aku yang memberi tau dia. Tidak apa-apa kan?" jawab mas Haris.
"Tidak apa-apa Mas, yang penting Namira tahu kabar Ini dari kita. Bukan tau dari orang lain," jelasku pula.
Mas Haris hanya mengangguk kecil, "Sekarang istirahat lah," titah Mas Haris kemudian.
__ADS_1
"Iya Mas," jawabku patuh. Saat aku mulai beranjak pergi ku lihat mas Haris belum bergerak untuk bangun dari duduknya, dia justru mengambil ponselnya entah hendak menghubungi siapa.
Langkahku semakin jauh jadi tidak bisa lagi mendengar dan melihat apa yang dia lakukan.
Mungkin, Mas Haris hendak menghubungi Namira malam ini juga.
Ya Allah, lancarkanlah semua jalan kami. Jalanku dan mas Haris, juga jalan Namira dengan hidupnya yang baru. Batinku.
Keutuhan keluarga kami sudah di depan mata, tapi tetap saja rasanya ada yang mengganjal.
Hari yang terasa panjang ini pun akhirnya berakhir. Karena lelah tiduku jadi sangat nyenyak. Saat pagi datang, ku lihat hari ini cerah sekali.
Pagi-pagi buta ternyata Jodi sudah tiba di rumah ini.
"Aku datang bersama mereka," ucap Jodi padaku, menunjuk dua wanita dengan banyak bawaan di tangannya.
"Siapa mereka Jo? Apa yang mereka bawa," tanyaku heran. Jika tidak ada Mas Haris kami memang memasang mode jadi teman. Jika ada mas Haris kami kembali bersikap formal.
"Mereka yang akan membantumu merias diri nanti malam, juga ada beberapa baju yang bisa kamu pilih untuk ijab kabul nanti. Pak Haris semalam menelpon ku dan memerintahkan aku menyiapkan ini semua." Jelas Jodi, "Meski ini hanya pernikahan secara agama, tapi beliau ingin kamu mendapatkan pernikahan yang layak." timpal Jodi kemudian.
Dan seketika tenggorokanku tercekat, mendadak ingin menangis. Kenapa mas Haris begitu peduli padaku.
__ADS_1
Apakah benar semua demi Alena? Atau dia telah mencintai aku.
Ya Allah, aku tak tau harus bicara apa.