
Malam ini banyak sekali para tentanga yang datang untuk menunjukkan kepeduliannya atas Alena yang sudah pulang.
Kehadiran Mas Haris di rumah ini pun sangat menyita perhatian semua orang. Dan Ibu yang menyebarkan kabar bahwa besok kami akan menikah, jadi tak ada gonjang ganjing kami kumpul kebo.
Astaghfirullahaladzim. Andai Mas Haris adalah orang biasa maka habislah kami jadi bahan omongan. Tapi karena Mas Haris keturunan kaya raya 7 turunan, jadi kami aman di jadi bahan pembicaraan. Semua orang akhirnya ikut bersyukur dan mendoakan.
Bude Narti pun mendampingi ibu saat menyambut semua tamu. Sementara Alena dan Mas Haris terus bersama katanya jaga-jaga jika Reyhan datang.
"Astaghfirullahaladzim, dua orang itu," geramku sendiri, membuatku jadi tak enak hati dengan mbak Sindi. Mbak Sindi adalah ibunya Reyhan.
"Assalamualaikum," salam tamu yang baru saja datang, bahkan tamu sebelumnya belum pulang dan sekarang ada lagi. Dan ternyata tamu itu adalah mbak Sindi, datang bersama dengan Reyhan juga.
"Alhamdulillah Alena sudah pulang Anin, mbak ikut senang," kata mbak Sindi setelah memelukku.
"Alena dimana Bulek?" tanya Reyhan juga, bocah berusia 9 tahun itu mulai celingukan mencari Alena.
"Ada di dalam sayang, ayo kita masuk," ajakku. Mbak Sindi juga masuk sebab dia pun ingin bertemu dengan Alena. Jadi kami semua menuju ruang tengah karena di ruang tamu sudah penuh. Untunglah rumah ini jadi besar, jadi bisa menampung banyak orang. Ada pelayan juga yang menyiapkan makanan dan minuman untuk semua tamu.
__ADS_1
Di hadapan Mas Haris aku memang tidak ada apa-apanya, karena Mas Haris lah semua kemudahan ini kami dapatkan.
Saat aku, Reyhan dan mbak Sindi datang, ku lihat Alena langsung berbisik-bisik pada papanya. Ya Allah, dua orang itu lama-lama membuat aku gemas. Pasti Alena langsung menginformasikan pada papanya bahwa yang datang ini adalah Reyhan.
Dan setelahnya mas Haris menurunkan Alena untuk diminta Salim pada tamu yang datang. "Bude," sapa Alena pada mbak Sindi.
"Masyaallah, Alena cantik dan pintar," balas mbak Sindi pula.
"Amin," kataku menimpali.
"Saya Haris, Papanya Alena dan calon suami Anindya," ucap Mas Haris, tiba-tiba memperkenalkan diri dan ku perhatikan Alena langsung tersenyum lebar.
"Wah salam kenal Mas, saya Sindi tetangganya Anin, dan ini Reyhan anak saya, temannya Alena," jawab mbak Sindi pula.
"Bukan temanku, kan selama ini mas Reyhan nakal sama Alena," jawab Alena.
Haduh, drama lagi, pikirku.
__ADS_1
"Maafkan aku Alena, aku salah," kata Reyhan, akhirnya dia buka suara setelah cukup lama diam dan hanya mengamati, sesekali menatap Alena dan sesekali menatap pria dewasa dengan wajah yang nampak mengerikan itu, tatapan tajam dan rahang penuh bulu-bulu kasar.
"Apa salah mas Reyhan?" tanya Alena pula, malah menantang. Seperti wanita dewasa yang sedang marah.
"Aduh, sudah-sudah, ayo mbak kita duduk di depan dulu. Itu minumannya sudah dibuatin," kataku, ku peluk lengan mbak Sindi untuk menepi dari kekacauan ini. Beberapa tamu di depan sudah pulang, jadi kami bisa duduk di sana.
"Iya Nin," jawab mbak Sindi.
"Aku akan di sini bersama Alena, Ma," kata Reyhan pula.
"Tidak usah Nak, ayo di depan saja, kita makan kue di depan," ajakku coba menyelematkan Reyhan dari ayah dan anak itu.
"Biarkan saja Nin, Alena dan Reyhan tidak mungkin bertengkar lagi, kan ada calon suamimu," ucap Mbak Sindi, malah menggoda.
Dia tidak tau saja jika Mas Haris lebih parah, sangat posesif pada Alena.
Tapi ya sudahlah, aku tak bisa berbuat apa-apa lagi untuk menyelematkan Reyhan. Karena sekarang malah tanganku yang ditarik keluar oleh mbak Sindi.
__ADS_1
Diantara langkah ku yang berjalan ke ruang tamu, ku lirik sebentar ke belakang dan melihat Reyhan yang menunduk di hadapan Alena dan Mas Haris.
Ya Allah, batinku. Hanya mampu membatin seperti ini.