
Mas Haris bangkit dari duduknya dan menarikku keluar dari dalam kamar ini, mungkin dia kesal karena aku menangis. Jadi agar tidak mengganggu tidur Alena dia pun membawaku ke ruang tengah. Mas Haris mencekal tangan ku kuat sekali, sampai sedikit terasa sakit.
"Berhentilah menangis, apa yang sedang kamu tangisi sekarang?" tanya mas Haris. Selalu saja mengajukan pertanyaan yang sulit untukku jawab. Bagaimana caranya aku bisa menjelaskan tentang alasan dari aku menangis. Jika dia terus bersikap dingin seperti ini.
Aku menangis karena merasa bersalah pada Alena.
Aku menangis karena merasa bersalah pada Namira.
Aku menangis karena kebodohanku sendiri, kenapa selalu tidak berdaya menghadapi kenyataan ini?
Kenapa? Kenapa? Kenapa?!
"Katakan padaku jika kita akan menikah, jadi aku bisa mengakhiri semuanya dengan Namira."
"Tidak Mas! Jangan!" balasku dengan cepat, bahkan suaraku pun terdengar lebih tinggi. Untung saja sekarang kami tidak berada di kamar Alena.
__ADS_1
"Kenapa?" tanya mas Haris dengan nada pelan, dengan tangan yang masih setia mencekal pergelangan tanganku. Kami sama-sama masih berdiri di ruang tengah ini, saling menatap dengan pikiran yang berkecamuk.
"Karena aku tidak ingin menyakiti Namira, Alena bukan alasan untuk kita menikah Mas. Kita masih bisa membahagiakan Alena dengan cara yang lain," balasku diantara sesenggukan yang terdengar jelas.
"Maafkan aku karena menempatkan Mas Haris di posisi yang sulit seperti ini, aku paham kenapa Mas Haris selalu ingin menuruti keinginan Alena, karena secara mendadak Mas baru tau jika punya anak, Alena dengan kondisinya yang memprihatinkan. Tapi ... Tapi aku tidak bisa mengabaikan Namira Mas, dia juga punya hati."
Kulihat Mas Haris terdiam, cekalan tangannya pun ku rasakan sedikit mengendur. Namun saat aku ingin menariknya justru kembali dia tahan.
"Ini semua hanya dari sudut pandangmu, Anindya" balas Mas Haris kemudian.
Membuatku kembali terdiam seribu bahasa.
"Sekarang ini yang harus kamu lakukan cukup diam, cukup pikirkan tentang kebahagiaan Alena. Tidak usah memikirkan tentang Namira, tentang hubungan kami, pikiran mu terlalu jauh," kata mas Haris lagi.
Satu tangannya pun bergerak untuk menghapus air mata ku. Namun karena terkejut jadi reflek aku memalingkan wajah ke sisi kanan.
__ADS_1
Namun mas Haris sepertinya marah karena aku menolak sentuhannya, jadi dia mendorong ku hingga membentur sofa, hingga aku terduduk di pinggiran sofa tersebut.
Andai aku bergerak asal, andai dia mendorong ku lebih dari ini bisa dipastikan bahwa aku akan jatuh dan tertidur di atas sofa. Dalam posisi seperti ini mas Haris akhirnya berhasil menghapus air mataku.
"Jika Alena ingin aku pulang ke rumah kalian, maka aku akan pulang. Jika Alena ingin kita bersama, maka kita akan menikah. Tentang Namira itu akan jadi urusanku, paham?" tanya mas Haris.
Rasanya aku ingin kembali menangis mendengar pertanyaan itu, pada akhirnya aku akan menyakiti wanita yang telah ku anggap sebagai saudara perempuan.
"Kenapa Mas Haris seperti ini, kenapa Mas tidak memperjuangkan Namira," tanyaku.
"Karena sekarang aku sedang memperjuangkan anakku, darrah dagingku. Tuhan sudah memberi kita kesempatan kedua untuk bisa bersama dengan Alena, jadi mari jadi orang tua yang utuh untuknya."
Air mataku jatuh lagi dan kini mas Haris segera menghapusnya. Bahkan saat aku hendak menunduk dan menurunkan pandangan, dia menahan daguku, memposisikan wajahku agar tetap menatap ke arahnya.
"Aku ingin Alena melihat papanya memeluk mamanya erat, aku ingin Alena melihat papanya mencium mamanya dengan sayang. Aku ingin kita bertiga tidur di ranjang yang sama sampai pagi. Aku ingin Alena merasakan itu semua, Anindya," kata mas Haris.
__ADS_1
Semua hal yang hanya bisa dilakukan jika kami menikah.