
Jam 9 pagi lewat beberapa menit akhirnya Haris dan Anindya tiba di rumah ibu Farah dan pak Emran. Anindya membawa beberapa buah tangan.
Sebelumnya mereka sudah memberi kabar jika akan datang ke sini, jadi setelah tiba langsung disambut oleh kedua orang tua tersebut. Meski mama Farah belum sepenuhnya bisa menghilangkan rasa kecewanya pada Anindya, tapi dia senang jika Anin berinisiatif lebih dulu seperti ini untuk mempererat hubungan di antara mereka.
"Ayo masuk Nak, selamat datang di rumahmu," kata pak Emran.
Sampai sekarang rasanya masih canggung saja bagi Anin untuk menyebut kedua orang itu dengan sebutan Papa dan Mama.
Namun Anin harus membiasakan.
"Terima kasih, Pa," jawab Anin.
"Alena tidak ikut? Dia baik-baik saja kan?" tanya mama Farah pula saat mereka sudah duduk di ruang tengah. Beberapa buah tangan yang dibawa oleh Anin dan Haris sudah diambil oleh pelayan.
__ADS_1
"Alena baik-baik saja Ma, kami pergi tadi dia sedang bersama dengan Mbah Putri. Sengaja tidak diajak takut dia kelelahan." Haris yang menjawab dan menjelaskan.
"Kalian juga pasti lelah, kenapa malah datang ke sini," balas mama Farah, padahal dia senang dengan kedatangan anak dan menantunya tersebut, tapi yang keluar dari mulutnya seperti ini, seolah tidak menginginkan kedatangan keduanya.
"Anindya yang ajak Ma, dia ingin segera mengunjungi Mama dan Papa di rumah ini," jawab Haris lagi, sedikit berbohong, sebab awalnya dialah yang mengajak. Haris sudah seperti tameng yang selalu melindungi Anindya, bahkan dari pertanyaan mamanya.
Papa Emran sejak tadi memang diam, tapi dia selalu mengukir senyum. Lucu melihat Haris yang sekarang banyak sekali bicaranya, sudah seperti juru bicara untuk Anindya.
Padahal selama ini anaknya itu kaku sekali, lebih banyak diam, bahkan saat ditanya selalu menjawab singkat. Tapi sekarang selalu menjelaskan secara rinci seperti ini.
"Nanti saja ke kamarnya Ma, jika mama ingin mengajak Anindya untuk berkeliling ajak saja sekarang," jawab Haris lagi.
"Ya ampun daritadi kamu terus yang bicara, memangnya Anin sedang sakit mulut?" tanya mama Farah dengan nada tinggi, bukan marah tapi memang logatnya begini.
__ADS_1
Dan Papa Emran jadi tertawa mendengar pertanyaan istrinya tersebut. Sementara Anin malu sendiri, suaminya itu memang selalu berusaha membuatnya aman dimanapun berada.
"Ayo ikut mama ke dapur," ajak mama Farah kemudian, dia bahkan langsung bangkit dari duduknya.
"Iya Ma," jawab Anin patuh, dia ikut berdiri juga lalu permisi pada mama Farah untuk pergi.
Di tinggal berdua oleh para wanita, akhirnya papa Emran buka suara. "Surat-surat untuk meresmikan pernikahan mu sudah di urus belum?" tanya papa Emran.
"Sudah Pa, sebelum pergi ke sini tadi aku sudah bertemu dengan Jodi. Dia yang akan mengurus semuanya."
"Setelah semuanya beres, datanglah ke kantor dan ajak Anin, biar semua orang tau bahwa kamu sudah menikah. Orang-orang harus tau siapa istri mu biar tidak ada fitnah," jelas papa Emran pula. Sebab yang semua orang tau calon istri Haris adalah Namira, namun kini menikahnya justru dengan Anindya.
Pengumuman tentang pernikahan ini papa Emran rasa sangat diperlukan untuk kenyamanan Anin dan Alena.
__ADS_1
"Iya Pa," jawab Haris patuh, hal ini pun sudah dia pikirkan sebelumnya. Hanya tinggal menunggu waktu yang tepat.
Waktu yang pas agar tidak terlalu menyakitkan pula bagi Namira dan keluarganya.