
"Baiklah, Mbak tidak akan ikut pergi ke taman. Mbak akan siapkan bekal untuk kalian semua," ucapku tanpa merasa keberatan sedikitpun, sebab aku sadar luka di hati Namira tentu sangat menganga. Harus ada yang mengalah agar luka itu segera sembuh.
"Terima kasih, Mbak. Terima kasih karena masih mengizinkan ku dekat dengan Alena dan Mas Haris."
"Jangan mengucap kata terima kasih Namira, mbak lah yang harusnya selalu meminta maaf padamu."
"Tidak Mbak, jangan meminta maaf. Aku tau kita tidak bisa melakukan apapun, semua keputusan jelas hanya ada pada mas Haris."
Aku terdiam.
"Kesempatan kedua itu bukan hanya untuk mas Haris dan mbak Anin, tapi juga untukku," jelas Namira kemudian.
Dia juga menjelaskan bahwa 2 tahun yang lalu Namira pernah melakukan operasi transplantasi jantung, memang dia hanya dokter pembantu, namun Namira cukup mengambil banyak peran dalam operasi tersebut. Awalnya semua berjalan dengan baik, namun di minggu pertama setelah operasi pasiennya mulai kembali merasakan sakit. Namira melakukan sebuah kesalahan fatal yang membuatnya terus menghukum diri, sebab anak itu akhirnya meninggal dunia.
Dan disaat bertemu dengan Alena, Namira seperti menemukan kesalahannya yang dulu. Itulah kenapa dia begitu menyayangi Alena terlepas bahwa Alena adalah anaknya mas Haris. Melalui Alena, Namira seperti menemukan kesempatan kedua untuknya sendiri.
Dengan cara menyerah atas mas Haris, dan membuat kehidupan Alena jadi lebih baik.
Aku makin menangis saat mendengar cerita tersebut, entah bagaimana caranya aku membalas semua kebaikan Namira. Aku sampai tak mampu berkata apapun.
Yang ku dengar di ujung penjelasannya, Namira justru tertawa pelan. "Aku bersyukur karena wanita itu adalah mbak Anin, insyaallah aku akan rela," jelas Namira.
__ADS_1
"Maafkan aku, Nami. Maafkan aku," pintaku dengan sungguh-sungguh.
Sampai akhirnya kami menangis bersama dalam sambungan telepon tersebut. Dan Namira adalah yang lebih dulu memutus telepon ini.
Saat aku masih menghapus air mata, ku dengar suara pintu diketuk dari luar. Buru-buru aku bangkit dan membukanya, karena langsung mengira bahwa itu adalah Alena.
Dalam sekejap hatiku kembali diselimuti rasa bersalah, sebab cukup lama aku meninggalkan anakku tersebut.
Deg! Jantung ku makin berdegup saat ku lihat ternyata yang di depan pintu bukanlah Alena, melainkan mas Haris seorang diri.
"Maaf Mas, dimana Alena?" tanyaku, masih ku seka sisa-sisa air bening di ujung mataku.
Ah tidak, tidak ada aku di dalam pilihan itu. Pilihannya hanyalah Alena dan Namira.
"Banyak Mas, banyak yang kami bicarakan dan Namira bisa mengerti keadaan ini. Dia sangat baik," jawabku pula.
"Sudah ku bilang dia akan mengerti, hanya kamu yang sulit sekali untuk mengerti," balas mas Haris ambigu, membuatku bingung untuk memahami apa maksud ucapannya.
Kemana arah pembicaraan mas Haris kali ini?
Bahkan setelah mengatakan itu, dia langsung berbalik dan hendak pergi begitu saja. "Mas!" cegahku dengan cepat.
__ADS_1
Sampai langkahnya yang telah melaju jadi terhenti dan kembali berbalik menatap ke arahku.
"Hari minggu besok, aku tidak akan ikut pergi ke Taman_"
"Kenapa?" tanya mas Haris dengan cepat.
"Namira ingin sekali saja dia memiliki waktu bersama kalian berdua."
"Dan kamu mengizinkannya?"
Aku mengangguk.
Mas Haris menatapku makin dingin, entahlah, kenapa sorot matanya begitu tak ramah.
"Namira sudah menceritakan padaku tentang pasiennya yang seperti Alena," ucapku lirih, seketika ingin membicarakan tentang hal ini juga dengan mas Haris.
"Aku tau," jawab mas Haris singkat.
Membuatku jadi bingung harus bicara apalagi. Namun akhirnya ku putuskan untuk diam, membiarkan mas Haris yang kembali melanjutkan langkahnya untuk pergi.
Setidaknya dengan ini, kami sama-sama tau. Bahwa makna kesempatan kedua itu bukan hanya untukku saja, tapi juga untuk mas Haris dan Namira.
__ADS_1