
Jam 5 sore akhirnya Namira mengambil waktu istirahatnya sendiri, dia masuk ke ruang prakteknya dan duduk di kursi kerja.
Sebenarnya rumah sakit ini sangat ramai dengan pengunjung, namun dia selalu merasa sepi. Dan makin kesepian saat dia sendirian di ruangan ini.
Itulah kenapa Namira lebih senang bekerja dan bekerja, membuat otaknya sibuk hingga hati tak punya kesempatan untuk menguasai diri.
Baru mendudukkan dirinya di kursi tersebut, tiba-tiba perhatiannya teralihkan saat mendengar suara ponselnya bergetar. Dengan perlahan dia buka laci meja kerjanya dan mengambil ponsel tersebut.
Tertulis nama Mas Haris di dalam panggilan telepon tersebut, membuat hatinya lagi-lagi berdesir dengan nyeri. Meski sudah mengakhiri semuanya, nyatanya hati ini butuh waktu lebih banyak untuk pulih.
Setelah berkutat dengan hati dan pikirannya sendiri, akhirnya Namira menjawab panggilan telepon tersebut.
"Assalamualaikum," ucap Namira, tanpa ada kata Mas yang dia ucapkan. Takutnya ini adalah panggilan dari Mbak Anin. Bisa saja hal seperti itu terjadi kan?
Tapi ternyata dugaannya salah, ternyata memang benar mas Haris yang menghubungi.
"Waalaikumsalam, apa kamu sibuk?" tanya mas Haris di ujung sana.
"Tidak Mas, ada apa?" tanya Nami pula, terasa jelas begitu dingin hubungan keduanya.
__ADS_1
"Papa ingin aku segera membuat pengumuman tentang pernikahanku dengan Anindya, ku harap kabar itu tidak membuat mu merasa tak nyaman," kata Haris. Dulu saat mengakhiri hubungan, Haris sudah berulang kali meminta maaf pada Namira dan keluarganya.
Tapi meski begitu dia sadar dia telah menyakiti Namira dan seluruh keluarga gadis itu. Jadi meski kini dia telah bahagia berkumpul dengan keluarga, Haris tetap ingin menari bahagia di atas penderitaan orang lain. Untuk beberapa hal, dia masih ingin menghargai Namira.
"Tidak apa-apa Mas, pada akhirnya semua orang juga akan tau tentang hal ini," jawab Nami, bicara diantara dadanya yang terasa begitu sesak.
"Terima kasih Nami, hanya ini saja yang ingin ku katakan padamu. Ku matikan teleponnya. Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam," jawab Nami. Setelah putus panggilan telepon itu, jatuh pula air mata Namira. Namun dengan segera dia hapus dan menarik serta membuang nafasnya dengan kasar. Ingin tenang, tak ingin kesedihan ini menguasai diri.
Namira yakin dia hanya butuh waktu untuk pulih, kelak hanya waktu lah yang membuatnya sembuh.
Entah takdir seperti apa yang akan menghampirinya di depan nanti, Namira sudah pasrah.
*
*
Di ujung sana, Haris pun segera meletakkan ponselnya di atas nakas setelah menghubungi Namira. Dia dan Anin kini sudah berada di rumah, sang istri masih berada di dalam kamar mandi.
__ADS_1
Setelahnya Haris putuskan untuk keluar kamar dan menemui Alena yang sedang bermain dengan Dara di ruang tengah.
Alena dan Dara memainkan boneka Barbie, Alena berperan sebagai polisi wanita dan Dara berperan sebagai pencuri. Mereka berdua memegang boneka Barbie yang seolah saling kejar-kejaran, sampai Dara tertawa terbahak-bahak.
Dan Haris langsung duduk di sofa dan memperhatikan keduanya. "Tembak sayang," kata Haris.
"Dor Dor Dor!" kata Alena pura-pura menembak.
"Tidak kena, tidak kena," balas Dara dengan nada meledek, lalu tertawa sendiri karena kesenangan menggoda sang keponakan.
Haris malah jadi kesal sendiri pada adiknya tersebut, jadi dia ikut menahan tangan Dara agar sang pencuri tidak dapat kabur lagi.
Kesempatan itu Alena gunakan untuk menangkap pencuri nakal.
"Kena!!" pekik Alena saking senangnya.
"Curang!" kesal Dara.
Namun Alena dan papanya tetap tertawa penuh kemenangan. Suara tawa yang mampu di dengar oleh seisi penjuru rumah ini.
__ADS_1