
"Kenapa jalanmu seperti itu? apa kamu sakit?" tanya mama Farah, ketika baru beberapa detik mereka berdua menginjakkan kaki di dapur. Setelah mama Farah perhatian ternyata ada yang aneh dengan cara jalan menantunya tersebut, sedikit mengangkang dan terlihat begitu hati-hati.
Namun belum sempat Anindya menjawab, mama Farah akhirnya sadar bahwa Anin dan Haris baru saja melewati malam pertama.
"Oh," ucapnya reflek, "Duduklah, kalau sakit tidak usah banyak jalan," kata mama Farah pula, buru-buru bicara seperti itu sebelum pembicaraan ini makin jauh kemana-mana.
Mama Farah tidak ingin Anindya nanti jadi canggung sendiri, malu jika dia membahas tentang mallam pertama.
"Bi, sajikan minuman Anindya di sini saja," kata mama Farah pula pada pelayan yang sedang bekerja di dapur.
"Baik Bu."
Satu pelayan yang lain mengantarkan minuman Haris dan papa Emran ke depan.
Sedangkan Anindya hanya bisa diam dan pasrah di dapur tersebut, jantungnya berdegup lebih cepat dan hanya menunggu perintah apa yang akan mama Farah berikan padanya.
Sungguh, Anindya merasa canggung.
"Mama akan buatkan jamu untukmu, sepertinya kamu lemas sekali," kata mama Farah kemudian.
"Tidak usah Ma, jangan repot-repot," jawab Anindya, dia mengigit bibir bawahnya setelah mengucapkan kalimat tersebut.
"Tidak apa-apa, semua bahannya ada, tinggal Mama buat sebentar. Ini tidak pahit, asam manis enak," kata mama Farah lagi.
Dan kini Anindya bingung mau menjawab apa. Meskipun ucapan mama Farah terdengar ketus, namun Anindya tetap bisa merasakan ketulusan di dalam ucapan tersebut. Membuatnya makin tak bisa berkata apa-apa.
__ADS_1
"Mama sangat berharap kamu dan Haris segera memiliki anak kedua, jadi tidak usah pakai KB. Tidak usah juga diundur-undur," ucap mama Farah.
Anindya langsung mengangguk, jika bicara takut salah.
"Jika kamu merasa repot, nanti mama yang akan mengurus anak-anak mu ..."
"Saat Alena sekolah nanti, sekolahkan saja dia di dekat sini ..."
Mama Farah terus bicara, meskipun kedua tangannya sibuk membuat jamu untuk sang menantu.
Sementara Anindya masih betah diam dan selalu mengangguk.
"Kalau Mama boleh minta, kalian tinggallah dulu di rumah ini beberapa bulan. Mama ingin sekali selalu bersama dengan Alena," pinta mama Farah, dia menyajikan satu gelas jamu di hadapan sang menantu.
Dan apa Anindya bisa menolak? Tentu saja tidak. Jadi saat dia mendengar permintaan mama Farah tersebut, Anindya langsung menjawab iya.
Padahal sungguh, dia pun bingung bagaimana baiknya. Jika mereka pindah ke sini nanti ibu jadi tinggal sendirian.
Sementara selama ini kami sudah memimpi-mimpikan untuk hidup bersama di rumah. Melihat Alena sehat dan bisa bermain dengan teman-temannya.
"Anindya," panggil Haris yang tiba-tiba datang ke dapur. Dia takut istrinya merasa tidak nyaman, jadi Haris langsung datang ke sini. Haris tau Anindya pasti merasa asing saat memasuki rumah ini, dan satu-satunya tempat yang membuat Anindya nyaman adalah berada di sisinya.
"Mas," jawab Anindya singkat.
"Mama minta pada Anin untuk kalian tinggal di rumah ini beberap bulan, mama ingin sekali berkumpul dengan Alena,Haris," kata mama Farah pula, lengkap dengan wajahnya yang nampak memohon.
__ADS_1
Haris terdiam sesaat, tidak langsung mengiyakan permintaan mamanya tersebut.
"Iya Ma, tentang Alena jangan diambil pusing, yang penting dia sehat. Nanti mau tinggal di sini atau di sana gampang urusannya," jawab Haris kemudian.
Namun jawaban itu membuat mama Farah membuang nafasnya dengan berat.
"Ya sudah, itu cepat diminum jamu mu. Hangat, tidak panas," balas mama Farah, lalu bicara lagi pada Anindya.
"Iya Ma," jawab Anin patuh. Sungguh, dia tidak berani sedikit pun menolak semua keinginan dan perintah sang mama mertua.
Selesai Anindya menghabiskan jamunya, Haris mengajak sang istri untuk ke kamar. Istirahat sebentar sebelum mereka makan siang bersama.
"Apa mama membuatmu tertekan?" tanya Haris saat mereka menaiki anak tangga secara perlahan.
"Tidak Mas, mama sangat baik padaku," balas Anindya.
"Jangan bohong."
"Iya Mas, serius."
"Benarkah?"
"Iya Maass," balas Anindya, jadi tersenyum melihat tingkah suaminya tersebut.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1