
Suara pintu yang tertutup terdengar jelas di telingaku, Mas Haris bahkan bukan hanya menutup pintu itu tapi menguncinya juga sampai dua kali terdengar suara klik.
Huh, bingung dan gugup adalah apa yang kurasakan saat ini. bingung harus melakukan apa lebih dulu, gugup untuk memulai bicara dengan Mas Haris yang kini statusnya sudah berubah. bukan hanya mantan atasanku, bukan hanya papa kandung Alena, tapi sekarang jug adalah suamiku.
"Mas, ini baju lemasi kita berdua. Aku dan ibu kemarin menyusun baju mas Haris di sini," kataku, aku harus mulai lebih dulu untuk bicara. Bagaimanapun aku adalah pemilik asli kamar ini, jadi harus mempersilahkan Mas Haris agar merasa nyaman.
"Hem," jawab mas Haris singkat, lengkap dengan anggukan kepala yang dia tunjukkan.
"Aku akan ganti baju dulu, Mas," ucapku kemudian dan Mas Haris mengangguk lagi. sekarang aku masih menggunakan baju pengantin.
Mungkin sekitar 10 menit aku berada di dalam kamar mandi untuk mengganti baju dan membersihkan diri, ketika keluar aku sudah menggunakan baju tidur yang cukup tertutup, celana panjang dan juga kaos.
"Silahkan Mas, aku sudah selesai," kataku, mempersilahkan Mas Haris Jika ingin menggunakan kamar mandi.
"Iya," jawab Mas Haris singkat, bicaranya yang sedikit-sedikit seperti itu justru membuatku semakin bingung, komunikasi ini hanya terjalin satu arah membuatku jadi seperti bicara sendirian.
__ADS_1
"Oh iya Anin, ada sesuatu yang ingin aku katakan padamu sebelum masuk ke dalam kamar mandi," ucap Mas Haris.
Alhamdulillah, akhirnya dia bisa bicara banyak seperti itu. "Apa Mas?" tanyaku pula. Di tanganku masih membawa handuk dan aku menatap ke arahnya.
"Aku tidak akan menunda mallam perttama, jadi malam ini juga kita akan melakukannya," kata Mas Haris.
Deg! jantungku seperti berhenti berdetak saat ini juga, sementara kedua mataku sudah menatap lebih lebar ke arahnya.
Tidak menunda malam pertama, akan melakukannya malam ini juga. Ya Allah, selama ini pemikiranku tidak sejauh itu, bagaimana bisa kami melakukannya dengan canggung seperti ini.
"Me-melalukannya? Kenapa harus terburu-buru Mas?" jawabku dengan lidah yang terasa kelu.
"Memangnya kenapa? Kita sudah sah menjadi suami dan istri, lalu kenapa harus ditunda?"
"Bu-bukan seperti itu, maksudku, ku pikir kita perlu_"
__ADS_1
"Perlu apa? ini bukan yang pertama untuk kita Anindya. jangan seolah lupa," balas Mas Haris.
Ya ampun. aku sampai kehabisan kata-kata untuk menjawab.
"Aku akan membersihkan tubuh sebentar, setelah itu akan langsung melakukannya," kata mas Haris.
Seketika ini juga kakiku rasanya lemas sekali, bahkan rasanya pun seolah tak kuat untuk berdiri seperti ini. Apalagi Alena tidak ada di sini, dan aku tidak punya keberanian pula untuk membuka pintu yang terkunci tersebut.
Setelah Mas Haris bicara seperti itu, dia pun segera masuk ke dalam kamar mandi dan aku sontak mencari ranjang untuk duduk di tepian.
"Ya Allah, Astagfirullah bagaimana ini ... tenang Anin, tenang, bismillah saja, ya Allah," sungguh, aku jadi gugup luar biasa. Aku bahkan berulang kali mengusap wajahku frustasi, tidak sanggup menghadapi keadaan seperti ini.
Jantungku seperti ingin meledak, dulu kami bisa melakukannya karena aku terpengaruh dengan obat, tapi sekarang aku benar-benar sadar.
Masih gugup luar biasa Seperti ini tiba-tiba kulihat pintu kamar mandi yang terbuka, dan Mas Haris keluar ...
__ADS_1