Anak Genius-Kesempatan Kedua

Anak Genius-Kesempatan Kedua
AGKK Bab 46 - Karena Alena


__ADS_3

Dijawab seperti itu oleh ibu tentu aku langsung terdiam seribu bahasa. Ternyata banyak pula yang tidak aku ketahui tentang apa yang terjadi di rumah ini.


Selama ini saat menelpon ibu hanya fokus tentang Alena yang melepaskan rindu dengan neneknya.


Tapi ternyata malah ada cerita seperti ini. Ibu Farah dan pak Emran sudah sering datang ke rumah.


Ya Allah, aku harus bagaimana ini?


"Tidak usah banyak berpikir, ayo kita duduk bersama," bisik ibu padaku, dia juga memeluk lenganku dan menarikku untuk segera duduk di sofa. Aku dan ibu duduk bersama, Alena sudah dipangkuan mas Haris dan duduk berdekatan dengan ibu Farah dan pak Emran.


"Maafkan kakek dan nenek Alena, kami baru bisa menemui kamu sekarang," ucap pak Emran, lagi-lagi mengucapkan kata maaf itu dan membuatku makin menunduk dalam rasa bersalah.


Karena akulah yang membuat Alena tak bisa bertemu dengan semua keluarga Pratama.


"Tidak apa-apa Kek, aku tidak marah kok. Kan sekarang kita sudah bertemu," jawab Alena, dia tidak merasa takut dengan orang baru sebab kini duduk di atas pangkuan ayahnya.


Suaranya yang terdengar ceria cukup membuatku merasa tenang.


"Mama dan Papa datang ke sini kenapa tidak memberitahu ku lebih dulu," kata Mas Haris kemudian.


Dan aku cukup terkejut saat ibu yang malah menjawabnya, "Ibu yang menelpon Mama dan Papa mu Haris, ibu yang meminta mereka untuk datang ke sini dan menyambut kalian pulang," terang ibu, suaranya sumringah sekali.


"Anin pasti terkejut ya?" tanya ibu Farah dan membuat jantung ku kembali berdenyut nyeri, hanya mampu menatapnya dengan senyumku yang hambar.


"Maafkan aku Bu, semua ini terjadi karen kesalahan ku di masa lalu," ucapku kemudian, rasanya hati ini akan terus ada yang mengganjal jika aku tidak mengucapkan kata maaf.


"Haris sudah menjelaskan semuanya pada kami Anindya, bahkan tentang keputusan kalian untuk menikah. Ibu dan bapak akan merestui," jawab ibu Farah, suaranya terdengar begitu lembut. Namun terasa menekan sekaligus.

__ADS_1


Dan membuatku makin tercengang. Kejutan yang datang bertubi-tubi sampai aku bingung harus bagaimana, bahagia atau justru bersedih.


"Ibu hanya kecewa kenapa baru sakarang kamu menemui Haris, harusnya sejak awal kamu katakan tentang Alena pada kami semua. Jadi ... Jadi Alena tidak akan menderita selama ini," kata ibu Farah dengan tangis yang tiba-tiba kembali menguasai dirinya.


Mendengar kalimat itu aku pun tak kuasa untuk menahan diri, hingga air mata ini pun ikut luruh juga.


Diantara pandangan mataku yang mengabur, ku lihat mas Haris bangkit dan menyerahkan Alena pada ibu.


Mereka tidak bicara apapun, namun ibu langsung membawa Alena pergi meninggalkan ruang tengah ini. Ruangan yang sudah penuh dengan air mata kesedihan.


"Sudah Ma, bukannya kita sepakat untuk tidak membahas ini lagi," kata pak Emran, samar-samar ku dengar beliau bicara seperti itu.


"Mama hanya ingin meluapkan apa yang ada di hati Mama, Pa. Melihat Alena hati ini jadi semakin sakit. Mama tidak bisa berhenti membayangkan bagaimana sakitnya jadi Alena selama ini," balas ibu Farah.


Aku sudah kehabisan kata-kata, hanya terus menunduk dan menerima semua kekecewaan ini. Aku memang pantas mendapatkannya. Pergi tanpa ada diskusi, lalu mendadak datang dengan membawa kabar yang tak baik. Kehidupan keluarga Pratama benar-benar aku permainkan.


"Ma, aku mohon tenanglah dulu. Jangan lupa ada Alena di sini," kata Mas Haris, dia duduk di samping ku dan mengelus punggungku lembut. Aku tau Mas Haris ingin menenangkan aku.


Ku dengar ibu Farah membuang nafasnya dengan kasar. "Mama menerima Anindya karena Alena, tapi hati Mama masih merasa begitu kecewa," putus ibu Farah.


Kalimat sederhana namun begitu menyakitkan bagiku. Mas Haris pun hanya terdiam. Kini justru memeluk pinggangku dengan kuat.


"Mama hanya sedang emosi, Papa mohon kalian untuk memahaminya," ucap Pak Emran.


Cukup lama kami berada di sini dalam keadaan yang tegang, sampai tangis ku dan tangis ibu Farah sama-sama mereda. Ibu Farah pun bangkit dari duduknya dan menemui Alena di dalam kamar bocah itu. Dia masih mengabaikan aku.


"Mama hanya butuh waktu untuk memaafkan kita," kata Mas Haris.

__ADS_1


Ya Allah, dia baik sekali. Bahkan menggunakan kata KITA padahal hanya aku yang membuat ibu Farah Kecewa.


"Iya Mas, aku tau, maafkan aku ya," jawabku kemudian, aku pun selalu merasa bersalah tentang hal ini pada Mas Haris, tentang semua kesalahanku.


"Iya, berapa kali aku harus mengatakannya, aku sudah memaafkan kamu," jawab Mas Haris.


Pria yang dulu begitu aku takuti, kini justru selalu menenangkan aku. Diam-diam kami pun saling menggenggam tangan dengan erat.


*


*


Jam 5 sore, ibu Farah dan pak Emran pamit pulang, berjanji besok akan datang lagi bersama dengan Dara.


Sementara Mas Haris akan tetap tinggal di rumah ini bersama kami. Sebelum pergi tadi pak Emran juga mengatakan jika besok magrib aku dan mas Haris menikah dulu secara agama. Nanti baru didaftarkan ke pengadilan agama.


Tidak ada pesta mengingat kondisi Alena dan aku pun sangat menerima itu. Justru rasanya malu sekali jika sampai ada acara besar-besaran.


"Nenek pulang dulu ya sayang, besok akan bertemu dengan Tante Dara," kata ibu Farah, dia selalu menatap ke arah Alena, tidak menatap ke arahku.


"Oke Nek, ternyata aku punya Tante juga," balas Alena dengan terkekeh, dia pasti tidak menyangka jik memiliki banyak keluarga.


"Nanti malam kakek akan menelepon Alena," ucap pak Emran, giliran dia yang pamit.


"Siap Kek!" balas Alena semangat.


"Kami pamit dulu Bu Husna, Anin," ucap pak Emran kemudian, sementara ibu Farah hanya memeluk ibu, tanpa melihat ke arahku lagi.

__ADS_1


"Tidak apa-apa," bisik Mas Haris padaku.


Aku mengangguk, mencoba senyum meski tetap saja merasakan sakit di hati.


__ADS_2