
POV Haris
Cie seneng kan ada tulisan POV Haris? Hahahaha, berchandyaaaa 🤣🤣🏃🏃
Oke mulai.
Ehem! POV Haris ini ya ...
*
Ku tatap wanita yang sekarang berada di dekapan ku, aku bisa melihat dengan jelas tatapan cemburu dari Anindya.
Ya Allah rasanya hatiku senang sekali, bersyukur saat Anin cemburu seperti ini. Bukannya langsung menjawab pertanyaan Anindya, aku justru diam lebih dulu, menatapi wajahnya yang cantik. Sementara bibirku sesekali mengulum senyum.
"Mas, jawab. Kenapa malah diam saja dan menatapku seperti itu," ucap Anindya. Bibirnya mengerucut dengan menggemaskan.
Ku cium saja lah.
Cup!
__ADS_1
"Jangan marah-marah," ucapku setelahnya, setelah berhasil mencuri sedikit ciuman dari bibir ranum tersebut.
Kulihat Anindya mengedipkan kedua matanya dengan cepat, pipinya pun dalam sekejap berubah merah merona. Aku tau kini dia sedang tersipu malu. Oh Anindya Anindya, sejak dulu hingga sekarang kamu tidak berubah, selalu membuatku tak bisa berhenti untuk menatap wajahmu.
"Kamu ingin tau bagaimana aku dan Namira bisa bersama?"
"Iya, Mas," jawab Anin dengan cepat. Dia yang tadi menunduk malu kini langsung menatap ke arahku.
Kami masih sama-sama berdiri di depan meja rias, aku juga masih memeluk pinggangnya erat. Tapi aku tidak berencana untuk bergeser dari tempat ini, biarlah kami bicara dengan posisi intim.
"Salah satu temanku memperkenalkan kami, Mama Farah juga sudah mendesak aku untuk menikah, jadi kami memutuskan untuk saling mengenal dan tak lama kemudian bertunangan. Tapi sejak awal jodohku adalah kamu, karena itulah tiba-tiba kamu datang dengan Alena dan rencana pernikahan ku dengan Namira batal," jelasku apa adanya, tak ada sedikitpun yang aku tutup-tutupi.
Anindya tidak tahu bahwa kalimat itu hanyalah kebohongan, aku yang tak ingin Anin kembali pergi jika aku jujur sejak awal.
Tapi sekarang Anindya sudah jadi istriku, dia tak akan bisa kabur lagi meski aku mengutarakan semua isi hati. Termasuk cintaku yang menggebu untuknya.
"Tidak, perasaan ku pada Namira hanyalah simpati, sebab selama ini dia memang baik," balasku.
Wajah Anin berubah, kedua matanya nampak sendu. Mungkinkah dia tidak mempercayai ucapan ku? Bagaimana ini? Aku selalu bingung jika dihadapkan pada situasi seperti ini. Aku tidak pandai untuk menjelaskan.
__ADS_1
"Dulu aku mengatakan mencintai Namira hanyalah bohong, hanya agar kamu tidak pergi, tidak terganggu dengan perasaan yang aku punya untukmu," terangku lagi.
Tidak ku duga tiba-tiba Anindya justru memeluk ku. "Iya Mas, aku percaya, maaf jika selama ini aku selalu meragukan kamu," balas Anindya.
Kutelan ludah dengan kasar, benarkah Anindya mengucapkan kalimat itu? Benarkah aku tidak salah dengar? Jadi sekarang dia benar-benar percaya bahwa aku hanya mencintainya?
"Maafkan aku Mas, aku tidak akan pernah mempertanyakan tentang Namira lagi," ucap Anindya kemudian.
Aku hanya diam, tak tau harus bicara apa. Jadi yang bisa ku lakukan hanyalah membalas pelukannya dengan lebih erat. Sesekali mencium puncak kepala istriku.
Ini hanyalah pelukan, namun begitu berarti dan sangat menenangkan.
"Apa kamu masih ingat Anindya, bagaimana saat pertama aku mengatakan cinta pada mu?" tanyaku.
"Masih Mas."
"Bagaimana?" kutanya seperti ini Anindya justru semakin menyembunyikan wajahnya di dalam daddaku. Bukannya segera pergi ke rumah mama Farah, kami malah betah di sini.
"Jangan ditanya, aku malu," jawab Anindya.
__ADS_1
"Kamu ingin aku mengulanginya sekarang?"