Anak Genius-Kesempatan Kedua

Anak Genius-Kesempatan Kedua
AGKK Bab 45 - Kamu Tidak Pernah Tanya


__ADS_3

Mungkin karena melihat aku yang ragu untuk melangkah masuk ke dalam rumah, jadi Mas Haris langsung menarik tanganku dan menggenggamnya.


Namun sungguh, perlakuan seperti ini justru membuatku semakin takut. Rasanya aku harus kembali menciptakan jarak diantara kami berdua. Aku tak ingin melihat buruk di mata kedua orang tua mas Haris.


"Mas, jangan seperti ini, aku tidak enak hati dengan kedua orang tuamu."


"Baiklah," jawab Mas Haris patuh, langsung setuju untuk melepaskan genggaman tangan ini. Mas Haris pasti tidak ingin kami jadi berkelahi di hari yang bahagia ini, hari di mana akhirnya Alena pulang ke rumah.


Saat itu pintu utama rumah ini tidak ditutup, jadi setelah mengucapkan salam kami semua pun segera masuk ke dalam rumah. Alena ada di dalam gendongan Papanya.


Ibu langsung datang menyambut, "Masyaallah, Alhamdulillah Alena, akhirnya kamu pulang sayang," ucap Ibu penuh syukur, dia sedikit berlari menghampiri kami di ruang.


Di belakang ibu ku lihat ibu Farah dan pak Emran menyusul, sesaat kami saling tatap sebelum aku putuskan untuk Menunduk.


Ya Allah, kenapa jadi seperti ini.

__ADS_1


Situasi hati yang tak bisa aku kendalikan, takut dan cemas.


"Mbah Putri jangan menangis, kan aku sudah pulang," kata Alena, kini bocah tersebut sudah pindah ke gendongan ibu.


"Iya sayang, Mbah tidak akan menangis lagi. Mbah justru akan mengenalkannya Alena pada nenek dan kakek Alena yang baru," jelas Ibu, meski tak melihatnya tapi aku bisa merasa bahwa ibu sekuat tenaga menahan tangis haru, lalu menghapus air mata yang terlanjur keluar.


"Ini Nenek Farah dan ini kakek Emran, beliau adalah kedua orang tua papa Haris," terang ibu lagi, suaranya makin penuh suka cita saat menjelaskan hal tersebut.


"Benar Alena sayang, ini Nenek dan Kakek," jelas Bu Farah pula, suaranya lembut sekali, namun membuat hatiku berdesir nyeri.


"Apa boleh nenek memeluk mu sayang?" mohon ibu Farah pada Alena, dan akhirnya aku memberanikan diri mengangkat wajah.


Alena pun sontak menatap ke arahku meminta izin, jadi aku mengangguk untuk menjawabnya.


"Iya boleh," kata Alena dengan suaranya yang terdengar renyah.

__ADS_1


Saat Alena berada di gendongan dan pelukan ibu Farah, pak Emran pun lantas memeluk keduanya. Mereka menangis hingga menciptakan suasana haru yang begitu kental di rumah ini.


Tangis ibu Farah bahkan terdengar pilu, berulang kali meminta maaf kepada Alena karena baru bisa bertemu sekarang.


"Mas," panggilku lirih pada Mas Haris, aku tau ibu Farah dan pak Emran amat sangat bersedih, tapi tetap saja kami harus memperhatikan kondisi Alena. Kesedihan yang terlalu seperti ini pun dapat menganggu emosionalnya.


Untungnya Mas Haris langsung mengerti tanpa aku menjelaskan apapun.


"Ma, Pa, sudah ya," kata Mas Haris, dia mengambil Alena kembali untuk digendongannya. "Ayo kita semua duduk," ajak Mas Haris kemudian. Ibu Farah pun langsung mengangguk setuju, tangisnya masih sesenggukan. Aku bahkan seperti orang asing di sana, semua mata hanya tertuju pada Alena.


"Kenapa ibu tidak bilang jika ada ibu Farah dan pak Emran di rumah ini?" bisikku pada ibu.


"Sebenarnya ini bukan kali pertama mereka datang, Nin. Mereka sudah sering datang ke sini," jawab ibu pula, bicaranya pun ikut berbisik.


"Kenapa ibu tidak pernah cerita padaku?"

__ADS_1


"Karena kamu tidak pernah tanya."


__ADS_2