Anak Genius-Kesempatan Kedua

Anak Genius-Kesempatan Kedua
AGKK Bab 41 - Dalam Keadaan Sadar


__ADS_3

Mas Haris telah mengorbankan banyak hal untuk kami memiliki keluarga yang utuh. Melepas Namira sampai bersedia belajar untuk menerima aku dengan sepenuh hati.


Mendengar kejujurannya itu membuatku kembali menunduk. Mas Haris dan Namira telah sama-sama mengambil langkah, namun aku yang selalu ragu.


Ya Allah, mantapkanlah hati hamba untuk menjalani ini semua. Batinku, coba menguatkan diri. Tak ingin lagi merasa kalah dengan perasaan tak pantas bersama dengan mas Haris, tak ingin kalah dengan perasaan bersalah pada Namira.


Namun ikut yakin untuk melangkah ke depan, yaitu menikah dengan Mas Haris.


Saat aku mengangkat pandangan ternyata Mas Haris masih menatapku seperti tadi.


"Maafkan aku Mas, aku tidak menghargai keputusan Mas Haris dan Namira," ucapku kemudian.


"Bismillah Anin, jika kita bersama-sama untuk mengambil langkah, Insyaallah nanti pasti akan ada jalan," balas mas Haris.


Aku hanya mampu mengangguk mendengar ucapannya tersebut. Tapi dari pembicaraan ini kami telah sama-sama sepakat untuk nanti segera menikah. Tepatnya setelah Alena diizinkan pulang ke rumah.


Mas Haris kemudian mengulurkan tangan kirinya, telapak tangannya terbuka meminta aku untuk menggenggam.


Dengan perasaan yang campur aduk, aku akhirnya memberanikan diri untuk menggerakkan tangan kananku. Sampai jatuh di tangannya dan kami saling menggenggam dalam keadaan sadar.

__ADS_1


Ya, sangat sadar kami saling menautkan jemari ini. Ku rasakan mas Haris menggenggam tanganku dengan cukup kuat, hingga rasa nyamannya sampai di hatiku yang berdegup.


Sepanjang perjalanan itu kami tak pernah melepaskan genggaman tangan ini. Mungkin akan sulit bagi Mas Haris untuk bisa mencintai aku, tapi untukku ini begitu mudah.


Jam 10 tepat kami telah tiba di basement apartemen, Mas Haris turun lebih dulu lalu membantuku keluar. "Aku akan mengendong Alena," ucap mas Haris, dan saat ini barulah genggaman tangan kami terlepas.


"Iya Mas," jawabku.


Coba untuk membiasakan diri dengan kedekatan kami, tak ingin canggung atau sampai kabur lagi.


Yang harus aku lakukan justru berusaha membuat Mas Haris nyaman, kamu harus sama-sama berusaha untuk menciptakan keluarga yang utuh dan bahagia.


"Tidurlah sayang," jawab Mas Haris.


"Anin, telepon lah dokter Anton untuk datang. Aku merasa badan Alena sedikit hangat," titah mas Haris kemudian.


Deg! Jantungku seketika berdenyut nyeri, seolah dalam sekejap langsung diremat.


"Benarkah, Mas?" tanyaku dengan cemas, langsung ku periksa suhu tubuh Alena dengan tanganku sendiri. Dan benar saja, dahi, tangan dan bahkan kaki Alena terasa hangat. Tak seperti biasanya.

__ADS_1


Diantara langkah kami yang melaju cepat untuk menuju unit apartemen, aku pun dengan tergesa menghubungi dokter Anton.


"Dok! tolong datang ke apartemen sekarang juga, badan Alena terasa hangat!" ucapku dengan menggebu saat panggilan itu tersambung. Aku sampai tak mengucapkan salam lebih dulu.


"Baik Bu, tenangkan diri Anda. Ganti baju Alena menggunakan baju yang nyaman, longgar dan bahannya lembut."


"Baik Dok," jawabku pula, sungguh kini aku mendadak cemas. Takut sesuatu yang buruk kembali menimpa Alena.


Tiba di apartemen, aku dan Mas Haris langsung menuju kamar Alena. Kami bersama-sama membuat Alena jadi merasa nyaman, aku mengganti baju Alena dan Mas Haris melepas sepatunya.


"Tenangkan dirimu Anin, dokter Anton akan segera tiba di sini," ucap Mas Haris.


Sementara Alena kulihat sudah kembali tertidur dengan nafas yang terdengar kasar.


Mas Haris menarikku untuk masuk ke dalam pelukannya, sedikitpun aku tidak berusaha untuk melepaskan diri, justru ku balas pelukan ini dengan cukup kuat.


Ya, sekarang aku tidak sendiri lagi. Sekarang akan ada Mas Haris yang mendampingi aku dan Alena.


Di dalam pelukan ini, aku menangis dengan tertahan.

__ADS_1


Ya Allah, hamba mohon, jangan buat Alena sakit lagi.


__ADS_2