
Kembali ke POV Anin ya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Mas, ayo kita pulang sekarang," ajakku, setelah cukup lama kami berada di sana. Aku juga takut Mas Haris jadi lelah karena memangku Alena seperti itu.
"Iya, telepon lah pak Budiman agar datang ke sini."
"Iya, Mas," jawabku patuh.
Setelah pak Budiman datang, kami pun beranjak untuk pulang. Mas Haris menggendong Alena, namun tetap bisa membawa tikar gulung tersebut, sementara pak Budiman membawa dua tas yang kamu bawa. Sedangkan aku? Tidak membawa apapun, hanya membawa diri dan berjalan di samping Mas Haris.
"Mas, biar aku saja yang bawa tikarnya, ya?" pintaku, jadi tak enak hati sendiri jika seperti ini.
"Tidak usah, aku masih mampu membawanya," tolak mas Haris.
"Tapi_"
"Berjalan saja di sampingku, itu sudah cukup membantu," kata Mas Haris, sampai memotong ucapanku hingga terhenti.
Lagi-lagi aku hanya bisa pasrah, kami berjalan hingga akhirnya tiba di mobil. Alena duduk di kursinya sendiri yang sudah diatur sedemikian rupa hingga tidurnya tetap nyaman. Mas Haris memintaku duduk di tengah dan dia di dekat pintu.
Setelah semua siap, pak Budiman segera melajukan mobil keluar dari area taman dan masuk ke jalan raya.
__ADS_1
"Mana ponselmu?" tanya Mas Haris, tangannya pun terulur seolah ingin aku segera menyerahkan ponsel milikku ini. Dan memang pada akhirnya ku serahkan ponselku begitu saja, tanpa penolakan sedikitpun.
"Jangan hapus foto ini," kata Mas Haris, dia menunjukkan foto saat kami tidak sengaja berciuman.
Aku tidak menjawab apapun, hanya menunduk dan menahan malu.
"Ibuku ingin melihat Alena, jadi ku kirimkan foto dan video yang ada di galeri mu," kata Mas Haris kemudian.
"Iya, Mas," jawabku lirih.
Dulu aku pernah beberapa kali bertemu dengan kedua orang tua Mas Haris, ibu Farah dan Pak Emran. Juga adik perempuan Mas Haris yang bernama Dara.
Dulu hubungan kami cukup baik, aku yang bekerja secara profesional dan mereka yang memperlakukan secara profesional juga.
Tapi sekarang aku jadi sangat malu, bagaimana saat bertemu nanti, apa yang harus ku lakukan selain meminta maaf.
Pikiranku buyar saat Mas Haris kembali menyerahkan ponsel itu padaku. "Ada balasan pesan dari Namira," kata Mas Haris.
Dan langsung ku buka pesan itu untuk membacanya. 'Iya Alena sayang, ayo kita pergi taman lain kali,' tulis Namira.
Tapi entah kenapa aku merasa seperti ada kesedihan dalam pesan yang Namira kirim, benarkah ada lain kali untuk hal ini? Sementara kesempatan yang Namira minta seolah kini telah gugur begitu saja.
"Mas," panggilku pada mas Haris.
__ADS_1
"Hem, apa?" tanyanya yang bicara dengan suara pelan pula.
Aku sungguh ingin tau bagaimana hubungan Mas Haris dan Namira yang sebenarnya, kenapa rasanya mudah sekali Mas Haris mengakhiri hubungan mereka berdua. Tapi untuk menanyakan hal itu, ternyata aku butuh banyak keberanian, karena sekarang saja lidahku mendadak kelu.
"Apa kata Namira?" tanya mas Haris kemudian, mungkin karena aku diam saja, dia jadi mengajukan pertanyaan lebih dulu.
"Kata Namira, kita bisa pergi ke taman lain kali."
"Hem, pergilah bertiga, kamu, Alena dan Namira. Itu bukan masalah kan?"
Aku terdiam sesaat, bingung mau menjawab apa atas ucapan tersebut.
"Hubunganku dengan Namira sudah berakhir Anin, jadi jika Namira masih ada diantara kita, itu hanya tentang Alena, bukan aku," jelas Mas Haris kemudian, dia juga kembali mengingatkan bahwa Alena mengingatkan Namira pada pasiennya yang dulu, pasien yang gagal dia tangani hingga meningggal dunia.
Tentang Namira yang punya kesempatan kedua untuk membuat pasiennya kini hidup dengan baik, melalui Alena dia seperti ingin menebus kesalahannya di masa lalu.
Aku kembali terdiam mendengar ucapan tersebut, membenarkan ucapan Mas Haris dan juga kembali bertanya-tanya, sebenarnya bagaimana perasaan pria itu pada Namira.
"Apa Mas Haris tidak keberatan melepaskan Namira begitu saja? maaf jika aku mempertanyakan tentang hal ini."
"Tidak, karena kami sudah sepakat. Seperti saat kami bersama, sekarang kami pun sepakat untuk berpisah ... Harusnya kamu hargai keputusan kami, dan berhenti mencari cara untuk menyatukan kami," balas Mas Haris, dia menatapku intens.
"Karena tiap kamu berusaha menyatukan kami, itu justru akan semakin menyakiti Namira," timpal Mas Haris kemudian.
__ADS_1
Dan membuatku makin kehabisan kata-kata.
"Dulu, aku memang mencintai Namira. Tapi sekarang cintaku hanya untuk Alena, dan belajar untuk mencintai kamu," putus Mas Haris.