
Pagi setelah malam perrtama pun akhirnya menyapa. Aku dan Mas Haris jadi kikuk sendiri. Tidak, Mas Haris tidak ikut kikuk, hanya aku sendirian yang merasa canggung. Apalagi bibir ini maunya tersenyum terus, membuatku jadi malu sendiri.
"Apa jalanmu sakit?" tanya Mas Haris.
Aku langsung menggeleng dengan cepat, "Tidak Mas!" jawabku buru-buru, bahkan terkesan menggebu. Malu sekali untuk mengakui bahwa percintaan kami semalam menimbulkan luka yang cukup perih di bagian inti.
Jika aku bilang ini sakit, itu sama saja aku mengakui keperkasaannya. Ah tidak! Aku sangat malu.
"Kalau begitu ayo kita keluar sekarang, Alena pasti sudah menunggu kita," ajak Mas Haris, dia mengajakku untuk keluar tapi malah mendekat. Dan satu yang tidak aku duga ternyata Mas Haris memeluk pinggangku untuk diajaknya keluar.
Ya Allah, aku malu sekali, merasa senang juga. Tapi entahlah, rasanya malu lebih menguasai. Jika kami seperti ini rasanya kami sedang tunjukkan pada semua orang bahwa semalam kami telah menyatu, jadinya akur dan terlihat mesra.
Hanya membayangkannya saja, sudah membuat pipiku rasanya panas sekali.
"Kenapa wajahmu merah?" tanya Mas Haris, langkah kami terhenti tepat di depan pintu. Mas Haris urung membuka pintu tersebut gara-gara melihat wajahku yang merah.
"Apa kamu demam?" tanya Mas Haris lagi dengan raut wajahnya yang seketika berubah jadi cemas. Mas Haris pun langsung memeriksakan keningku menggunakan salah satu tangannya.
__ADS_1
"Ti-tidak Mas, aku tidak demam. Aku hanya gugup," jawabku, jadi berbicara jujur karena tidak ingin dianggap berbohong.
Dan mendengar ucapanku tersebut raut wajah Mas Haris yang tadi tegang kini jadi mengendur Dan tersenyum kecil. Membuatku jadi mengigit bibir bawahku sendiri.
"Gugup? kamu malu?" Tanya Mas Haris .
Aku mengangguk kecil.
"Kenapa?"
Aku diam saja.
"Sstt!" ucapku buru-buru, bahkan ku tutup mulut mas Mas Haris menggunakan kedua tanganku agar berhenti bicara, dan saat itu Mas Haris malah memeluk pinggang ku semakin erat.
Diantara mulutnya yang kututup aku malah mendengar suara tawanya, renyah sekali. Tawa yang membuat hatiku jadi berbunga-bunga.
Jadi dengan canggung, ku tarik tanganku lagi, kini jadi menyentuh daddanya.
__ADS_1
"Kenapa harus malu? pemikiran seperti itu adalah pemikiran yang wajar ketika melihat sepasang pengantin baru. Bukan hanya ibu dan Dara, warga satu kompleks ini pasti akan berpikir yang sama," jelas Mas Haris, dia masih tertawa kecil ketika menjelaskan hal tersebut, membuatku makin malu saja dibuatnya.
Benar juga ucapanya, tapi tetap saja, aku malu. Apalagi jika nanti Dara dan ibu menggodaku, rasanya aku ingin bersembunyi saja.
"Ayo keluar," ajak Mas Haris lagi, masih dengan memeluk pinggangku akhirnya kami pun keluar.
Langsung disambut dengan Ibu, Dara dan Alena yang ternyata sudah berada di ruang tengah. Saat ini waktu menunjukkan jam setengah 7 pagi, mereka semua duduk di sana sepertinya menunggu kami untuk sarapan.
"Alhamdulillah, akhirnya mbak Anin sama mas Haris keluar, kirain mau seharian ngurung diri di kamar," goda Dara.
"Hus!" balas ibuku, dia memang memukul lengan Dara tapi juga terkekeh ketik melihat ke arahku.
Aaa, aku tau mereka akan menggodaku seperti ini.
"Akhirnya Mama dan Papa keluar, aku tadi mau masuk tapi Tante Dara tidak mengizinkannya," ucap Alena, dia ikut bicara, "Kata Tante Dara Mama dan Papa sibuk, memangnya sibuk apa?" tanya Alena pula dan membuatku kesulitan untuk menjawab.
Sementara Dara dan ibu sudah tertawa cekikikan.
__ADS_1
Ku lirik Mas Haris, dia malah terkekeh juga
Ya Allah.