
"Aku hanya butuh satu kata darimu Anin, katakan kamu bersedia kita menikah. Maka aku akan memperjuangkan kalian berdua," ucap mas Haris kemudian.
"Tapi bagaimana dengan Namira, Mas? Dia begitu menyayangi Alena, aku tidak sanggup membuatnya terluka."
"Percaya saja padaku, aku tidak akan membuat hubungan kalian bertiga jadi hancur, kamu, Alena dan Namira," jelas mas Haris, dia menatapku sendu, seolah memberi isyarat bahwa dia juga sedang berjuang dalam hubungan ini. Bukan hanya aku, Namira dan Alena saja yang terluka. Tapi dia juga, pria yang telah jadi ayah dan kini sedang coba membahagiakan anaknya.
Jika ku ingat-ingat sudah terlalu banyak mas Haris meminta ku untuk menikah dengannya, dan kini lidahku kelu untuk menjawab tidak.
Apalagi saat melihat sorot matanya yang layu, aku tak kuasa untuk menolaknya kesekian kali. Terlebih ini semua demi Alena, bukan tentang hidupku sendiri.
Mas Haris tadi mencekal pergelangan tangan ku, kini cekalan itu perlahan mengendur dan dia ganti menggenggam erat tanganku yang dingin.
"Katakan pada Namira bahwa aku tidak menanggapi ucapanmu tentang pernikahan kami, selebihnya serahkan semuanya padaku," kata Mas Haris, dari ucapannya itu dia seolah menebak bahwa aku mempertanyakan tentang pernikahan ini karena permintaan Namira.
"Namira tidak memintaku untuk mempertanyakan tentang pernikahan ini Mas. Ini semua atas keinginan ku sendiri," jawabku kemudian.
__ADS_1
Kulihat mas Haris hanya menganggukkan kepalanya kecil, "Beri aku waktu untuk menyelesaikannya semuanya," kata mas Haris kemudian.
Aku bisa apa jika sudah begini?
"Minggu besok Namira ingin mengajak Alena untuk piknik, jadi kita akan pergi bersama," kata mas Haris dengan tangan yang semakin meremat tanganku di dalam genggamannya.
Rasanya ingin ku tarik saja tangan ini, karena membuat hatiku berdebar. Namun mas Haris masih menahannya dengan kuat. Aku merasa kami sedang berselingkuh di belakang Namira. Ya Allah, perasaan ini terasa begitu menyiksa ku.
"Besok saat Alena bangun, katakan padanya bahwa aku akan ikut pulang. Katakan bahwa Mamanya akan kembali menikah dengan Papa, Ya?" tanya mas Haris.
Ya Allah, aku harus bagaimana? semoga keputusan ku ini tidaklah salah.
Dan kulihat mas Haris langsung membuang nafasnya dengan lega. Dia pun mengusap puncak kepalaku dengan lembut, aku masih duduk di pinggiran sofa, hingga posisiku jadi makin rendah di hadapannya.
"Alhamdulillah," ucap mas Haris lirih, namun masih mampu ku dengar dengan jelas.
__ADS_1
"Sekarang istirahat lah," kata mas Haris pula dan lagi-lagi aku hanya bisa mengangguk.
Selepas pembicaraanitu, kini aku masuk ke dalam kamar dengan pikiran yang makin kusut.
Aku mengatakan kepada Namira bahwa akan membantu agar pernikahannya dengan Mas Haris bisa segera dilaksanakan, tapi bukannya terlaksana pernikahan itu malah terancam gagal.
Aku malah menyetujui untuk menikahi dengan mas Haris.
Tiap kali aku ikut campur dalam hubungan mereka berdua yang ada malah semakin rusak seperti ini.
"Ya Allah," ucapku seraya mengusap wajah frustasi. Tidak tahu lagi harus bagaimana jadi ku putuskan untuk mengambil air wudhu di dalam kamar mandi. Melaksanakan shalat isya yang tertunda dan kembali merenung di hadapan Allah.
Subhanallah, Alhamdulillah, Allahuakbar.
Kuulang terus kalimat Zikir itu sampai hatiku merasa tenang. Alena, Namira dan mas Haris.
__ADS_1
"Ya Allah, berikanlah jalan yang terbaik untuk kami semua. Tunjukkanlah jalan yang tetap bisa kami lalui bersama tanpa saling menyakiti."
Aamiin.