
"Karena semua pemeriksaan telah selesai, jadi dokter akan pamit pulang," kata dokter Anton, pamit pada Alena yang jadi pasiennya.
"Iya Dok, hati-hati saat mengemudi mobil, jangan lupa gunakan sabuk pengaman," jawab Alena, dia bicara seperti itu mengikuti dialog yang ada di dalam salah satu adegan serial Barbie. Kalimat panjang lebar yang membuat dokter Anton jadi merasa gemas sendiri.
Dokter Anton bahkan mengelus lembut puncak kepala Alena.
"Saya permisi Pak, Bu," pamit dokter Anton pula, bicara padaku dan mas Haris.
"Baik Dok, mari saya antar hingga ke depan," ucapku dengan ramah, namun belum sempat aku beranjak langkah kakiku seketika terjeda ketika mendengar mas Haris langsung menyahut ...
"Tidak usah, kamu temani Alena saja. Biar aku yang antar dokter Anton," titah mas Haris, kali ini ku perhatikan wajahnya kembali nampak dingin. Lama-lama mas Haris seperti anak kecil yang moodnya suka berubah-ubah. kadang terasa begitu hangat tapi beberapa menit kemudian berubah jadi dingin.
Sementara aku selalu berada di posisi yang sama, posisi yang tidak bisa berontak apapun perlakuannya.
Setelah Mas Haris dan Dokter Anton pergi, ku tatap Alena dengan intens. Alena yang sejak tadi sudah berbaring di atas ranjangnya. "Sekarang waktunya Alena tidur, ya?" kataku dan Alena langsung mengangguk tanpa melayangkan sedikitpun protes.
"Aku ingin mendengar mama bernyanyi," pinta Alena dengan kedua matanya yang mulai terpejam.
"Baiklah," jawabku, lagu You Are My Sunshine aku nyanyikan untuk Alena.
Saat Mas Haris kembali masuk ke dalam kamar ini, Alena sudah tertidur.
"Alena sudah tidur Mas," laporku pula seraya turun dari atas ranjang.
"Hem, istirahat lah juga," jawab mas Haris.
"Aku telepon Namira dulu ya?" pamitku pula meski merasa sungguh tak enak hati. Tapi bagaimana lagi, aku butuh izin dan kepastian tentang hal ini. Tak ingin ada salah paham diantara kami.
__ADS_1
"Iya," jawab mas Haris singkat, dia bahkan tidak menatap ke arahku saat mengatakan itu. Sepertinya dia pun telah lelah berdebat, jadi terserah ku mau melakukan apa.
Ku lihat Mas Haris naik ke atas ranjang Alena dan mencium gadis kecil tersebut, jadi ku putuskan untuk keluar dan masuk ke dalam kamar.
Sekarang masih jam 9 malam, biasanya Namira belum tidur. Biasanya wanita cantik itu justru baru tiba di rumah.
"Assalamualaikum Nami," ucapku setelah panggilan ini terhubung, ku coba untuk bersikap biasa saja, tidak terlalu mengulik tentang hati kami berdua.
"Waalaikumsalam Mbak, ada apa?" tanya Namira pula.
"Alena sudah tidak sabar untuk pergi ke taman, jadi dia malah mengajak untuk pergi besok pagi," jelasku.
"Ya ampun, besok pagi aku sudah memiliki janji temu dengan pasienku Mbak," balas Namira, suaranya terdengar penuh penyesalan.
"Maaf ya Nami, Mbak juga tidak tahu jika tiba-tiba jadwalnya berubah seperti ini."
Mendengar jawabannya itu seketika hatiku berdesir, Allah seolah memberi jalan untukku ikut ke Taman tanpa menyakiti Namira, justru Namira pula yang memintanya.
"Maaf ya Namira, aku membuatmu repot."
"Tidak apa-apa Mbak, jangan meminta maaf. Aku justru berterima kasih Mbak Anin seterbuka ini denganku. Aku bersyukur karena Mbak Anin selalu menghargai keberadaanku," jawab Namira panjang lebar.
Ya Allah, Namira begitu baik.
"Baiklah, besok juga tidak sempat datang jangan memaksakan diri. Masih banyak waktu untuk pergi ke taman lagi," jelasku pula.
"Iya Mbak, tapi besok akan aku usahakan untuk datang ke taman. Kali ini spesial karena ini adalah pertama kalinya Alena keluar."
__ADS_1
"Terima kasih Namira," balasku, kuucapkan kata ini dengan begitu tulus.
Saat panggilan itu terputus aku pun jadi bernafas lega. Karena beberapa ketakutan yang sempat ku pikirkan ternyata tak terjadi.
Selesai menelpon Namira, aku keluar lagi dari kamar. Mencari dimana keberadaan Mas Haris, entahlah rasanya apapun yang aku lakukan kini harus laporan dulu dengan pria berwajah dingin itu.
Jika tidak begini, aku sendiri yang tidak tenang.
"Mas!" panggilku buru-buru, sebab ku lihat mas Haris hendak masuk ke dalam kamarnya.
Setelah langkahnya terhenti Mas Haris langsung menatap ke arahku, "Apa?" tanyanya dengan wajah yang datar.
"Namira besok pagi ada janji temu dengan pasiennya, jadi dia akan usahakan untuk menyusul. Tidak pergi bersamaan dengan kita," laporku kemudian.
Mas Haris malah diam, malah hanya menatapku. Apa dia tidak sadar jika tatapannya itu justru membuat aku kikuk sendiri?
"Su-sudah Mas, aku hanya ingin mengatakan tentang hal itu," ucapku lirih, seraya mengambil satu langkah mundur siap untuk pergi.
"Lain kali tidak usah sibuk mengurus orang lain sampai seperti ini, cukup pikirkan tentang dirimu sendiri," kata Mas Haris.
Kini giliran aku yang terdiam.
"Istirahat lah, besok tidak perlu menyiapkan apapun. Di rumah ini sudah ada pelayan," kata mas Haris lagi.
Aku hanya mampu mengangguk.
Sesaat kami saling tatap, sebelum akhirnya dia masuk ke dalam kamarnya dan menutup pintu.
__ADS_1