Anak Genius-Kesempatan Kedua

Anak Genius-Kesempatan Kedua
AGKK Bab 57 - Bosku Di Perusahaan


__ADS_3

Dokter Anton juga ikut pamit saat Namira pamit. Jadi dari ruang tengah itu kami bersama-sama keluar untuk mengantarkan kepulangan Namira dan dokter Anton.


"Mama Nami, besok main ke sini lagi ya kalau libur. Kan mama Nami belum main di kamarku," ucap Alena. Selama ini Namira memang menyayangi Alena dengan tulus, jadi wajar saja jika kini Alena pun menyayangi Namira dengan tulus juga. Aku tidak merasa keberatan tentang hal ini. Malah senang melihat kedekatan keduanya.


"Iya Sayang, tapi Mama tidak bisa janji ya. Jangan ditunggu, pokoknya nanti tiba-tiba mama Nami akan datang," balas Namira.


"Seperti superhero dong," balas Alena pula lalu terkekeh sendiri. Kini gadis tersebut sudah tidak berada di gendongan sang ayah, sudah berdiri sendiri di antara para orang tua.


"Sudah ya, Mama pamit dulu," kata Namira lagi saat dia hendak naik mobil.


Alena juga langsung melambaikan tangannya sebagai tanda pisah, "Terima kasih Dokter Anton," kata Alena pula pada sang dokter.


Aku, Alena, mas Haris dan ibu masih berdiri di sana melihat dua mobil itu keluar dari area rumah kami.


Ibu lantas mengajak Alena untuk masuk, sementara aku dan Mas Haris mengekor di belakang. Tiba-tiba Mas Haris langsung memeluk pinggangku begitu saja, membuatku sampai terkejut sendiri.


Ingin melepasnya pun aku tidak punya keberanian, apalagi setelah jadi istrinya. Maka aku harus menurut pada apapun yang Mas Haris yang lakukan.


"Hari ini kita berkunjung ke rumah mama ya? Kamu dan Alena belum pernah main ke sana, kita ajak ibu juga," ajak Mas Haris.


Dan aku langsung mengangguk setuju dengan cepat. Pernikahan ini memang terburu-buru sekali, sampai aku belum sempat mendatangi rumah kedua orang tua Mas Haris. Tiba-tiba datang untuk pertama kali dan langsung berstatus istri.


"Lebih baik kalian pergi berdua saja dulu, ibu dan Alena bisa pergi lain hari," ucap ibu, beliau mendengar pula ucapan Mas Haris dan jadi berpendapat seperti itu.


"Seharian ini biar Alena ibu yang jaga, biar Alena istirahat di rumah saja," timpal ibu kemudian.


"Iya, aku tidak ikut tidak apa-apa kok, aku akan main dengan Mbah Putri," ucap Alena, ikut bicara juga.

__ADS_1


"Terima kasih cantiknya Papa, Alena memang anak yang baik dan pintar," balas Mas Haris, dia melepaskan pelukannya di pinggang ku untuk mencium Alena yang digandeng oleh ibu.


Ciuman yang membuat Alena geli dan jadinya tertawa.


"Sana bersiaplah," titah ibu kemudian dan aku mengangguk.


Saat ibu dan Alena menuju ruang tengah, aku dan Mas Haris kembali masuk ke dalam kamar untuk bersiap-siap pergi. Aku juga membawa hadiah pemberian Namira di tangan kananku, lalu ku letakkan di meja rias.


Tanpa pikir panjang, aku pun coba membuka hadiah tersebut. Terlihat seperti gaun.


"Apa itu?" tanya Mas Haris, pertanyaannya membuat pergerakan tanganku terhenti, jadi urung mengeluarkan gaun tersebut dari dalam paket bag.


"Sepertinya baju Mas," jawabku kemudian.


"Sejak tadi ku perhatikan kamu diam saja, apa yang sedang kamu pikirkan?" tanya Mas Haris, setelah berdiri di hadapan ku dia malah mengajukan pertanyaan ini. Padahal ku kira dia benar-benar bertanya tentang hadiah dari Namira.


Apa mereka dijodohkan? jika iya mama mama Farah dan pak Emran pasti menyesalkan pula jika pernikahan mereka jadi batal.


Entahlah, mendadak banyak pikiran sendiri.


"Katakan, ada apa?" tanya Mas Haris, mulai mengintimidasi aku dengan tatapannya yang intens. Dia bahkan mengikis jarak dan menarik pinggangku untuk di dekap erat.


Mana bisa aku bicara dengan normal jika posisinya seperti ini. Bukanya menjawab, aku malah merasakan debar.


"Apa kedatangan Namira mengganggumu?" tanya Mas Haris.


"Bukan seperti itu Mas."

__ADS_1


"Lalu apa? Bukannya kita sudah sepakat untuk saling terbuka, jadi sekarang katakan apa yang kamu rasakan?"


Aku terdiam sesaat.


"Anindya," kata Mas Haris karena aku hanya diam, dan saat dia memanggilku seperti itu, aku seperti mendengar Pak Haris sebagai bosku di perusahaan dulu. Bukan Mas Haris suamiku.


"Tapi jangan marah _"


"Katakan."


"Kalau aku ngomong jangan dipotong."


"Katakan."


"Iya iya!" jawabku dengan bibir mengerucut.


"Apa?"


"Bagaimana Mas Haris dan Namira bisa bersama? katanya mas Haris sudah mencintai aku sejak dulu," tanyaku dengan suara yang ku yakin terdengar begitu menuntut.


*


*


Bersambung ...


Maaf ya upnya lama ❤️❤️

__ADS_1


__ADS_2