Anak Genius-Kesempatan Kedua

Anak Genius-Kesempatan Kedua
AGKK Bab 49 - Jangan Menangis


__ADS_3

"Ya ampun, kenapa aku jadi menangis," ucapku dengan tertawa kecil, buru-buru menghapus air mata yang mengalir tak bisa ku kendalikan.


Semalam aku pikir Mas Haris menelpon Namira, tapi ternyata dia menghubungi Jodi untuk menyiapkan ini semua. Dan saking terharunya aku sampai menangis seperti ini, membuatku jadi malu di hadapan Jodi.


"Menangis saja tidak apa-apa, itu kan tangis bahagia," jawab Jodi kemudian dan membuatku menepuk lengannya karena merasa kesal, aku tau Jodi meledekku.


"Hais, jangan sentuh-sentuh aku. Nanti ada yang cemburu," kata Jodi lagi dan membuatku jadi ingin menendangnya.


"Ehem!" dehem Mas Haris yang tiba-tiba datang tanpa suara, aku sampai kaget dan berhenti menghapus air mata. Untunglah kini wajahku sudah kering, jika tidak Mas Haris pasti akan mempertanyakan kenapa aku menangis. Malu sekali Jika Aku menjawab karena terharu Mas Haris telah menyiapkan MUA dan juga gaun untuk ijab kabul.


"Mas," sapaku dengan cepat, aku juga segera berpindah posisi hingga berada di sampingnya.


"Mama, Papa dan Dara masih dalam perjalanan menuju kemari," kata Mas Haris kemudian.


"Iya Mas," jawabku pula.


"Permisi Pak, Bu, saya akan persiapkan yang lainnya," ucap Jodi, mulai pamit dengan bahasa formal lagi, jika seperti ini kata dia aku bukan temannya, tapi calon istri bossnya.


"Apa yang kalian bicarakan? Sepertinya seru sekali, sampai kamu menangis," tanya Mas Haris ketika Jodi telah pergi, ketika kami hanya tinggal berdua di ruang tamu ini.


Ya Allah, ternyata Mas Haris mau lihat saat aku menangis tadi. Sekarang aku harus jawab apa?


Mas Haris bahkan mengangkat tangan kanannya untuk menyeka sisa air mata yang ada di sudut mataku. "Katakan," kata Mas Haris dengan suara yang mendadak berubah dingin.

__ADS_1


"Maaf Mas, aku tadi menangis gara-gara terharu," jawabku, akhirnya bicara jujur tentang alasan kenapa aku menangis.


Entah kenapa dihadapan Mas Haris aku sulit sekali untuk bicara bohong. Baru berencana untuk berbohong saja jantungku sudah berdegup tidak karuan, jadi yang keluar dari mulutku pasti kejujuran.


"Terharu kenapa?"


"Terharu Mas Haris sudah menyiapkan baju yang bisa kupakai saat ijab kabul nanti, bahkan menyediakan MUA yang membantuku untuk merias diri," jawabku dengan tatapan yang menatap ke bawah, aku malu untuk menatap mata mas Haris.


"Kata Jodi, meskipun pernikahan kita ini pernikahan siri tapi Mas Haris ingin aku mendapatkan pernikahan yang layak, terima kasih," ucapku kemudian.


Sejenak tidak kudengar Mas harus menanggapi ucapanku tersebut, yang kulihat malah kakinya mendekat lalu tubuhku di peluk erat. Namun aku buru-buru melepaskan diri, melihat kiri dan kanan takut jika ada yang lihat. "Mas, nanti dilihat orang-orang," ucapku berbisik.


Mas Haris malah lagi-lagi diam, membuatku bingung sendirian.


"Malam ini kita menikah siri, besoknya aku akan langsung mendaftarkan pernikahan kita ke KUA. Tidak sampai dua minggu kita akan mendapatkan buku nikah itu," jelas mas Haris panjang lebar.


Kenapa di detik-detik menuju halal ada saja yang membuat kami berselisih paham.


Tak ingin perdebatan kami ini jadi panjang, jadi aku kembali melihat ke kiri dan kanan memastikan apakah ada orang di sekitar kami, ternyata tidak ada, jadi ku beranikan diri untuk maju satu langkah, untuk kembali mendekat pada pria itu.


Tapi aku tak punya cukup untuk keberanian untuk memeluknya, jadi aku hanya mengambil tangan Mas Haris untuk digenggam erat.


"Maafkan aku Mas, dan terima kasih," ucapku.

__ADS_1


Mas Haris diam saja, namun dia membalas genggaman tanganku ini. Seperti ini saja sudah membuatku merasa lega.


Jam pun bergulir. Sekitar jam 8 pagi ibu Farah, pak Emran dan Dara telah tiba. Dara awalnya menangis juga saat bertemu dengan Alena, tapi seiring waktu kini keduanya telah tertawa bersama. Bermain bersama pula.


Sepanjang persiapan pernikahan kami, ibu Farah terus mengabaikan aku, bahkan selalu menghindar jika tidak sengaja kami bertemu.


Tapi pak Emran terus meyakinkan aku, bahwa mama Farah hanya butuh waktu. Meski sikapnya acuh begitu dia tetap menerima pernikahan ini dengan baik.


Bahkan mama Farah menyiapkan bingkisan yang begitu mewah, besar dan banyak isinya untuk para tamu nanti.


Selesai shalat magrib, tamu-tamu yang kami undang mulai datang.


Jantungku berdegup sekali, kadang masih tidak menyangka jika aku akan menikah dengan mas Haris, mantan atasanku.


"Alhamdulillah Nduk, ibu bersyukur sekali. Akhirnya kamu akan menikah, hanya tinggal menunggu menit," kata ibu, dia datang ke kamar tempat aku menunggu, ibu memelukku erat sekali.


Sekarang di kamar ini hanya ada kami berdua, Alena sudah tidak mencari-cari aku, sudah sibuk sendiri dengan Dara dan teman-temannya yang lain.


"Iya Bu, Alhamdulillah, aku juga tidak menyangka. Seperti baru kemarin kita mencari hutangan untuk biaya rumah sakit Alena, dan sekarang aku sudah hendak menikah dengan papanya Alena."


"Ssstt, jangan menangis." kata ibu, dia sepertinya tau jika aku akan menangis, bagaimana tidak? Sekarang saja mataku sudah berkaca-kaca.


"Sekarang sudah saatnya kamu untuk bahagia Anin, jadi jangan ingat lagi yang sedih-sedih," ucap ibu.

__ADS_1


"Iya Bu."


"Ya Allah, malam ini kamu cantik sekali," puji ibu pula, dan membuatku tersipu malu.


__ADS_2