
Pagi ini di lobi Rumah Sakit banyak orang melihat ke ruang pertemuan dokter.
"Pagi begini ramai sekali sih?" Tanya Sinta kepada Desi teman seprofesi dan seusianya itu,
"Denger denger ada dokter baru yang masih muda Lo" jawab desi,
"Terus dokter baru kenapa ramai sekali, dokter spesialis apa itu?" Tanya Sinta lagi,
"Katanya tuh spesialis organ dalam, masih muda lo baru 25 th tapi udah spesialis ,jenius dari para jenius ya" jawab Desi,
"mau ikut nimbrung ga?" Lanjutnya,
"Ngga lah, aku ada piket pagi, mau ke ruangan langsung" jawab Sinta sambil melangkah ke arah berlawanan menuju lift,
"Eh ikut ikut" sahut Desi.
Sinta dan Desi adalah perawat dibagian rawat inap di Rumah Sakit Harapan Kita di Jawa Tengah usianya sama 24 tahun , Desi dari keluarga berada jadi dia lulusan D3 keperawatan di sebuah universitas ternama, berbeda dengan Sinta, dia dari anak keluarga pas-pasan dan dengan kepintaran dan keuletannya mendapatkan beasiswa dari Rumah Sakit itu untuk melanjutkan pendidikan D3 dan bisa bekerja seperti sekarang ini.
Mereka naik lift lalu menekan tombol 3 ke bagian rawat inap pasien dewasa. TING! lift berbunyi dan pintu terbuka , mereka bergegas ke ruangan di pojok sebelah kiri karena waktu menunjukan pukul 05.50 WIB untuk persiapan pergantian shift pagi. Setelah sampai ruangan kemudian absent di kotak sidik jari, lalu mencuci tangan dengan sabun, menggunakan antiseptik ditangan, memakai masker , dan bersiap menata obat untuk pasien minum pagi saat sarapan.
"Sin, nanti sore ada kunjungan dokter baru ke setiap pasien rawat inap ini, beserta dokter senior dan susternya , tolong persiapkan data-data nya ya" kata perawat senior shift malam tadi, Bu Lely namanya.
"Baik Bu" ,jawab Sinta.
Drek! Bunyi rak dorong berisi makanan dari poli gizi,
"Sus , sarapan pasien sudah siap" kata Susi sang ahli gizi.
"Oke ,yuk" jawab Sinta membawa rak obat pagi.
"Sus , udah liat dokter baru itu? Tampaannn syekali.." kata Susi,
"Ih lebay nya , setampan itu kah?" Tanya Sinta penasaran,
"Iya sus, badannya tegap ,tinggi, putih , bibir tipis, hidung mancung, mata sayu bulu mata lentik banget" ,jawab Susi,
"Tapi atmosfirnya kaku hihi",
"maksud kamu dia judes?" Tanya Sinta , sambil membuka pintu pasien,
"Selamat pagi pak" sambil tersenyum,
"Disini kami bawakan sarapan anda dan obat anda , mohon untuk diminum tepat waktu ya pak" ,
"baik sus, terimakasih" ,jawab penunggu pasien sambil lesu,
"Baik Bu, nanti setelah sarapan ada sesi bersih-bersih mohon kerjasamanya ya" lanjut Sinta masih tersenyum,
"Iya sus" jawab pasien dan penunggunya.
"Tadi tanya apa Sus Sinta?" Tanya Susi, "Apaan ya? Lupa hehe" jawab Sinta.
__ADS_1
Saat sampai di ujung koridor mereka bisa melihat kebawah menyempatkan berhenti karena ada rombongan dokter lewat hendak memasuki ruang IGD disebrang gedung.
"Sus, itu yang baris kedua dibelakang dokter Richard , dia dokter baru itu , ada tiga dokter baru ,ganteng-ganteng, tapi yang paling menonjol yang tengah, yang aku jelasin tadi itu Lo" bisik Susi.
"Kamu tau ngga namanya siapa aja?" Bisik Sinta balik, terpana melihat para dokter berjas putih itu.
Seingat Sinta yang dua itu Koas di Rumah sakit ini , tapi di bagian IGD 2 tahun lalu, yang satu bernama Bima dengan perawakan tegap tinggi 173 cm , kulit sawo matang, muka bulat, rambut keriting, hidung mancung, alis tebal, dan bibir berisi, ganteng dan pembawaannya kalem dan sejuk, kalo yang satunya Aris , dengan perawakan tegap tapi tingginya lebih rendah 3 cm dari dua lainnya, muka kecil , hidung sedang ala Indonesia, bibir tipis , sawo matang , alis dan kerlingan matanya menandakan dia ora jail dan humoris, murah senyum juga, beda dengan yang tengah itu , pembawaannya berwibawa , rada segan kalo mau ngobrol , tapi ada rasa dag dig dug saat melihat dia, sesaat Sinta tersadar akan lamunannya saat orang yang dipandang menengadah keatas dan sedikit tersenyum, sontak kedua gadis itu kikuk dan salting alias salah tingkah.
"heee, uwes uwes ,balik ning ruangan neh, ngko kena tegor Lo" ucap Sinta ("hee, sudah , balik ke ruangan lagi, nanti kena tegur Lo"), "he eh, yo cepet", sahut Susi sambil mendorong rak makanan yang sudah kosong itu.
Sore hari pun tiba, sekarang waktu menunjukan pukul 14.45 WIB waktu pergantian shift hampir tiba, tak lupa Sinta , Desi dkk menata dan merapikan obat-obat dan alat-alat ketempat semula, ada stetoskop, termometer, timbangan , pengukur tinggi badan, buku, bolpoint , dsb. Tak lupa menyiapkan data yang telah diminta suster Lely , suster senior pagi tadi , data tersebut adalah data terbaru mengenai pasien-pasien dalam Minggu ini, tak lupa komputer yang masih menyala membuka data pasien-pasien tersebut.
Rombongan dokter kunjunganpun tiba ,
"Sore sus, saya mau data pasien lantai ini" ucap salah satu perawat asisten para dokter , "baik sus, disini sudah lengkap silahkan dicek" jawab Desi , sambil menyodorkan bantek tebal dan stik note tertempel disampingnya, juga buku-buku lainnya , tak lupa mempersilahkan duduk didepan komputer diruangan itu.
Asisten dokter itu pun mengambil dan membuka memperlihatkan kepada dokter itu, "Oke ,langsung ke pasien saja" jawab dokter Richard , dokter senior disitu.
Berbalik menuju ruang pasien , total rombongan ada 2 dokter senior, 3 dokter baru, dan 5 perawat pendamping dokter, ditambahan Desi, Sinta, dan 2 teman lainnya mengikuti rombongan ke ruang pasien.
"Dokter Aji, gimana menurut anda pasien ini?" Tanya dokter Richard.
"Dok, menurut saya...." penjelasan yang panjang , antara dokter dengan suara rendah.
Sinta dkk hanya terpesona dengan kecakapan dokter Aji tersebut, betapa piawainya beliau meskipun terhitung baru namanya dokter spesialis tetaplah sesuai namanya, mereka senyam senyum sendiri memikirkan batin masing-masing.
Kunjunganpun selesai memakan waktu kurang lebih 45 menit untuk semua pasien di lantai ini total ada 30 pasien , berat maupun ringan. Mereka dievaluasi oleh dokter baru tersebut dengan akurat , para dokter senior pun meng-iyakan ketrampilan para dokter itu.
Selepas absent pulang Sinta dan Desi hendak pulang,
"Kang beli siomaynya dua porsi, dibungkus aja ya, makasih" kata Sinta ke Abang siomay itu,
"Gimana apanya Des? " Sinta balik bertanya, "Yaelah, kaya aku ngga tau kamu aja, tadi kamu liatin dokter Aji terus tau, biasanya kamu tuh kalem , terkesan ngga terlalu mengurusi makhluk yang namanya laki-laki" sentil Desi ,sahabatnya sekarang.
"Iih apa si, ya ora wong mung menikmati ciptaan Alloh yang indah ,hehe" sahutnya Sinta,
"Kalo aku si tetep seneng liatin mukanya kang siomay hehehe" celetuk Desi tanpa tedeng aling-aling, sontak akang siomaynya mesam mesem muka panas adem kesenengen dipuji perawat cantik seperti Desi, ya Desi termasuk perawat cantik di Rumah Sakit ini, dengan perawakan mungil hanya 150 cm , kulit putih, muka bundar, mata belo,bulu mata lentik , ya manis sekali, sedikit berbeda dengan Sinta, perawakannya lumayan tinggi 156 cm , muka oval, bibir berisi berbentuk panah Arjuna , mata cerdas dengan bulu mata lentik, hidung mancung untuk ala Indonesia , alis rapi tanpa pensil , manis versinya masing-masing,
Balik lagi di Akang siomay celetuk " Nduk emang mau sama tukang siomay?"
Masih sambil senyum, Akang siomay memang ganteng, perawakannya tegap tinggi, kulit gelap terbakar matahari tidak menutupi badan kekarnya dibalik kaos oblong yang ia kenakan, rambut lurus , dagu lancip , alis tebal, sorot mata tajam, tapi senyum dan masih humoris , terkesan dibalik humor nya mata itu menilai setiap inchi lawan bicaranya, seperti kebanyakan para businessman.
Desi yang ditanya pun balik senyum dan salting , celetukannya kekerasan hihi ,
"Hee kerja mah apa aja yang penting halal kang, sekarang aku nyari yang tanggung jawab dan mau bekerja keras bukan mengandalkan warisan orang tua" jawabannya mengena banget untuk mereka ber tiga , termasuk Sinta, dia setuju 100% untuk jawaban itu.
Tapi lain hal, itu terdengar oleh Salsa dan gengnya , perawat lantai 4 rawat inap kelas Vip , yang kebetulan lagi beli bakso di kios sebelah.
"Halah gombalnya pinter banget ya, jadi begini kelakuan suster lantai 3 ya" sindir Salsa.
Sinta yang tak mau beradu debat dipinggir jalan hendak menjawab tapi keduluan Desi "Emang situ ngga pernah godain cowok ya" , balik sindirnya , karena sudah terkenal Salsa sering memberi hadiah ke dokter dokter yang ditaksirnya ,entah coklat, jajan atau bekal makan siang, sambil berkata manja, cara berpakaiannyapun sengaja jahitan dipaskan bentuk tubuhnya yang molek , semua mata yang memandang tubuh itu tidak memungkiri bahwa itu sungguh menggoda, pun dengan make up ala make up artist yang cantik luar biasa.
__ADS_1
"Idih suster kampungan belagu" balasnya lagi.
"Udah Des udah..." ucap Sinta pelan sambil memegang pundak Desi, Desi pun yang menyadari gelagat Sinta yang tak nyaman tak menyahut lagi, dan siomay pun jadi,
"Makasih kang, pas ya" ucap Sinta dan memberikan uang Rp.20000,
"Ya mba, sama-sama" jawab kang siomay. Mereka berduapun langsung pulang ke kost putri di gang ketiga dari jalan utama lingkungan itu.
***
Di Rumah dokter Aji , Raisa Rahayu Ajeng adik semata wayang dari Aji Purnama Wibawa dokter spesialis organ dalam, sedang merajuk di sofa kesayangannya di ruang keluarga itu,
"Huhuhu" tangisnya gadis 16 tahun itu , ayahnya yang seorang ketua dokter spesialis jantung itupun cuma geleng-geleng kepala , ibunya komisaris di Rumah Sakit tempat Aji sekarang bekerja, ya Rumah Sakit itu milik keluarga besar Aji yang dibangung dari nol hingga besar seperti sekarang.
Aji yang baru pulang dari Rumah Sakit itu heran melihat kelakuan adiknya semenjak masuk bangku SMA ini kerap uring-uringan,
"Selamat malam den" sapa bi Atun , sambil menerima jaz putih, dan tas dokternya, "Malam" jawabnya singkat sambil langsung ke kamar untuk mandi dan ganti baju.
Waktu menunjukan pukul 20.00 WIB , kebiasaan keluarga Aji kumpul diruang keluarga selepas makan malam, meski malam tak selalu bersama ,ibunya pulang larut mengurusi bisnis Rumah Sakit, ayahnya juga kadang ada jadwal operasi, yang selalu stay di rumah tepat waktu adalah Raisa adiknya, yang lagi uring-uringan entah apa gerangan.
Didekatilah oleh Aji "kamu kenapa, Nduk? " ,
"Huhuhu...cowokku mutusin aku tadi sore, gimana ini kak?" Tangisnya tambah menjadi-jadi, meski didepan teman dan pacarnya Raisa tipe jaim atau jaga image, kalo didepan keluarganya terutama kakak semata wayangnya ini dia manja sekali, tapi kakaknya ngga tau tabiat didepan teman-temannya yang sok cool begitu,
'Apa pacarnya betah sama gadis cengeng begini' batin Aji,
"La kok iso putus ki piye?" (Bisanya putus itu gimana?) Tanya Aji bingung,
"Sore mau lo aku rapat OSIS , lagi ngusulke acara ekstra PMI anggone donor darah , dikirane lagi mesra-mesra sama ketua OSIS-se" tangis adiknya (sore tadi aku rapat OSIS, sedang mengusulkan acara ekstra PMI untuk donor darah, dikiranya lagi mesra-mesraan dengan ketua OSIS).
Aji yang ngga ngerti gimana rasanya cinta ya dibuat ketawa,
"Ngga masuk akal banget si pacarmu itu, udah lah, ngga usah dipikirin fokus aja sama acara donor darah itu tadi" jawab Aji.
"Ckck, kak Aji ni ngga tau rasa cemburu apalagi cinta , aku ni udah sayang sama mas Heri, dia ngga percaya malah nuduh-nuduh yang ngga ngga" ratapnya lagi,
Aji yang ikut jengkel karena Raisa ngga dengerin cuma bisa jawab,
"Yaudah lah, besok nyari cowok lain aja" dengan gampangnya, seolah pacar itu seperti teman biasanya.
Raisa hanya bisa dibuat dongkol sama jawaban kakaknya itu, tapi setelah unek-uneknya keluar dan lelah menangis akhirnya pun Raisa main HP dalam diam.
Aji melanjutkan nonton TV mencari channel berita untuk melihat keadaan dimasyarakat karena berkutat di Rumah Sakit seharian membuat lelah pikiran dan badannya.
"Kak, gimana rasanya kerja di Rumah Sakit kita?" Tanya Raisa tiba-tiba,
" Biasa aja" jawab Aji, seketika mengingat saat hendak ke IGD dia menengadah keatas melihat dua perawat cantik sedang mengintip, 'ada-ada aja kelakuan mereka, kaya kurang kerjaan, besok kalo udah tak datangi tak kasih tugas yang banyak' batin Aji dibalik senyum misteriusnya tersimpan banyak petaka untuk perawat itu, duh kasihannya para perawat cantik itu.
"Kan beda suasana saat Koas di jakarta kak, keadaan disini lebih nyaman dong pastinya" sahut Raisa, "biasa aja" jawab Aji lagi,
"Apa jangan-jangan kakak kecewa ninggalin jakarta, pasti ada cewek yang disukai kak Aji disana ya?" Tanya Raisa lagi, "biasa aja, ga kecewa, cewek yang suka saya" jawab Aji singkat lagi, Raisa dibuat gemes jadinya.
__ADS_1
"kakak tuh ya, tubuh orang tuh punya jiwa, jiwa punya perasaan kak, nanti di tempat kerjaan ada yang kakak cintai harus kasih tau aku loh" sahut Raisa ,
"Hem...kalo ada" jawab enteng Aji, tanpa tau kata Raisa bagaikan doa.