
Semua terperanjat dengan kemurkaan seorang Agus Diandra Wibawa, asistennya kemudian memanggil Hendra ke ruangan rapat, dan dikumpulkannya semua orang penting Rumah Sakit itu untuk menyidang Hendra dan anak buahnya.
Memang Hendra memiliki back up salah satu komisaris di Rumah Sakit itu dan dukungan dari perusahaan rival keluarga Wibawa, jadi kesalahan Hendra ini berkali-kali lipat, mungkin jika melakukan kesalahan atas kehendaknya sendiri dia akan disebut bersalah tapi jika menyangkut perusahaan rival maka Hendra dicap sebagai penghianat , pemberontak dan mata-mata atas semua tindakannya itu.
Aji pun mengikuti ayahnya, meski belum menduduki posisi apapun, tapi sebagai pewaris dia berhak untuk tahu.
Di dudukan Hendra di tengah, Hendra yang masih kebingungan hanya menyalak
"Ada apa ini! Apa salahku! Aku tidak bersalah! Banyak tugas yang harus kulakukan! Kalian minggir!" Kecam nya saat banyak anak buah yang menyeret Hendra untuk duduk.
Saat mata semua orang memandang bingung mereka hanya menurut dan menunggu direktur utama menyampaikan apa gerangan sebab mereka dipanggil kemari.
"Selamat sore semuanya" sapa Agus.
"Pertama saya mohon maaf tanpa rencana mengundang anda semua untuk menghadiri sidang darurat ini, tapi menurut saya ini urgent dah harus ditindaklanjuti sesegera mungkin" ucap Agus berusaha tenang, meski batinnya berkecamuk menahan amarah yang kian membuncah melihat Hendra dengan tampang seperti korban.
"Selamat sore pak Agus, kami berusaha memahami anda jika ini mendesak, tapi apa tidak seharusnya kita bicarakan baik-baik dahulu, dengan pemberitahuan dan apa gerangan sampai anda murka seperti ini?" Tanya komisaris ll yang bukan lain back up Hendra ini, dia berusaha menutupi kesalahan Hendra dan mencoba mencari jalan keluar dengan mengulur waktu supaya dapat menutupi kesalahan yang diperbuat Hendra ini.
Tapi apalah daya, karena bukan Agus yang membongkar semua rahasia gelap komplotan ini melainkan Aji , yang dinobatkan pewaris sah WIBO grup, bukan hanya pewaris Rumah Sakit melainkan pusatnya dari semua perusahaan yang ada.
Aji hanya tersenyum sinis melihat gelagat komisaris ini. Agus hanya bisa menutup mata karena batinnya sangat terluka melihat orang yang dia anggap sebagai saudara sendiri dan dipercayanya kini berbalik menyerangnya seperti belati, dia salah selama ini bukan memelihara kucing melainkan harimau yang siap menerkam, kini sadarnya iya akan jasa Aji, anaknya , diapun bertekad akan menuruti Aji untuk melamar pujaan hatinya itu.
Agus memberi kode kepada anak buahnya buat menyalakan LCD agar semua orang melihat bukti itu, dan membagikan semua salinan berkas-berkas tertulis ke meja-meja.
Seketika semua orang terperanjat atas bukti-bukti itu.
Hendra hanya bisa tertunduk lesu dan dengan hati jahat masih berpikir bagaimana lolos dari ini semua dan membalas perbuatan Aji dan keluarganya ini.
"Kurang Ajar! Dasar penghianat kamu!" Acung komisaris lll ke komisaris ll karena mereka berteman dekat tapi ternyata temannya ini penghianat.
"Penjara Hanya hukuman yang ringan!" Ucap direktur lainnya.
"Benar , apa hukuman yang pantas untuk kejahatan Hendra dan antek-anteknya ini?!" Ucap yang lainnya.
"Kalian jangan sok begitu, saya juga punya hak di Rumah Sakit ini!" Ucap komisaris penjahat.
"Diam kamu! Hanya karena punya saham 18% di Rumah Sakit ini bukan berarti kamu memiliki Rumah Sakit ini!" Ucap Agus yang memang sahamnya 55% jika digabung dengan istrinya, dia dan istrinya yang membangun dari nol arumah Sakit ini dibawah naungan WIBO grup kakek Aji.
Mereka jadi berdiskusi bagaimana cara menghukum Hendra, komisaris ll, dan anak buah lainnya, dan cara membalas rival mereka.
***
__ADS_1
"Hey ada keributan apa?" Tanya Aris ke kerumunan orang-orang di aula.
"Itu lo, Aji gercep bener nangkeo dalang dibalik pemecatan Sinta dan Desi itu lo" ucap Cindy, yang memang bisa mendapatkan berita terhangat, meski batinnya masih sedikit kalut dengan fakta pacarannya Aji dengan Sinta , tapi dia bisa bangkit dan membenahi hatinya lagi.
"Memang siapa yang ditangkap mba?" Ucap Bima yang sedari tadi memandang Cindy tak luput dari mata dan hatinya.
Seperti pepatah mati satu tumbuh seribu, saat Cindy menyadari kesalahan hatinya yang menyukai orang tak tepat, dia kini dapat melihat orang lain yang mencintainya denga tulus meski tanpa diungkapkan, memanglah kita tidak boleh egois atas keinginan kita ini, pikir Cindy.
Cindy tersenyum ke arah Bima, berdoa semoga memang Bimalah jodohnya, meski lebih muda 2 tahun.
"Itu lo pamannya cewek yang sok cantik itu" ucapnya.
"Oo Salsa ya, pamannya brati Professor Hendrawan kan" ucap Aris.
"Iya, mereka ternyata melakukan banyak tindakan kejahatan, pak Hendra itu menyalahgunakan kekuasaan yang dimilikinya, dan Salsa juga memanfaatkan keuntungan dari posisi pamannya yang kejam itu dengan mengancam dan melecehkan banyak orang tak bersalah" ucap perawat senior disebelah mereka.
"Tapi orang-orang bersalah itu dirahasiakan identitasnya, kasihan nanti mereka ngga bisa melanjutkan hidup mereka" ucap perawat lainnya ikut merasa kasihan.
"Bener-bener ya itu keluarga parasit, ngga tau diuntung, udah kaya masih kurang , ngga bersyukur banget, apalagi dengan menggelapkan dana, mencari uang ilegal dengan menjual organ pasien dan macam-macam lainnya, jahat banget kan" ucap perawat itu bercakap-cakap.
"Mesti dihukum dengan kejam orang kaya gitu"
"Iya bener"
***
Kring!kring! "Halo assalamualaikum"
"Waalaikumsalam, sayang" ucap Aji.
Didengarnya suara halus disebrang tapi masih dengan nada sendu dan Isak tangis.
"Aku dah tau apa yang menimpa kamu dan Desi, yang sabar sayang, akan kuusut siapa yang bersalah, aku tau kalian berdua baik dan tidak bersalah" ucap Aji menenangkan.
"Iya mas, makasih ya udah mau bantuin" ucap Sinta sedikit lega.
"Sayang, aku ke kost kamu ya" ucap Aji.
"Oke mas"
Setelah sampai di kost putri, Aji sempat membeli martabak manis dan martabak telur untuk cemilan.
__ADS_1
"Assalamualaikum!" ucap Aji.
"Waalaikumsalam mas Aji" ucap Sinta membuka gerbang , dan disitu juga ada pemilik kost sedang duduk di teras rumah.
"Nduk disini ngga boleh bawa tamu cowok masuk kamar ya" ucap ibu kost.
"Ya Bu, ini hanya di teras rumah aja, bolah kan?" Tanya Sinta.
"Iya gapapa, mumpung ibu ngga ada kegiatan tak temenin disini" ucap Ibu.
"Iya Bu, makasih" ucap Sinta.
"Des, sini ada mas Aji" ucap Sinta memanggil Desi.
Desi yang matanya sembab dan merah keluar dari kamar dan menyalami Aji.
"Ada apa mas Aji?" Tanya Sinta yang sekarang sudah duduk di taras semua.
"Jadi dalang perbuatan itu Salsa, kalian ngga perlu khawatir, Minggu depan sudah bisa bekerja lagi seperti biasa, tapi mungkin tugas kalia bertambah karena kamar VIP itu kamar orang-orang penting mungkin akan dilimpahkan tugasnya ke kalian" ucap Aji panjang.
"Beneran mas?" Tanya Desi yang membelalakkan matanya.
"Ya, pamannya tadi sudah disidang, karena terbukti melakukan kejahatan yang tidak bisa dimaafkan, nanti kita juga akan memanggil piha berwajib dan menindaklanjutinya" ucap Aji.
"Waduh! Parah bener keluarga Salsa itu, bener-bener bejat mereka ya, ngga paman, ngga ponakan, beruntung mereka baru ketahuan sekarang, ngga dari dulu aja" ucap Desi marah-marah.
"Ya Alloh ada orang begitu ya, jahat sekali, semoga dibalas oleh Alloh, kena azab mereka itu" ucap ibu kost yang sedari tadi mendengarkan, karena dia tahu anak kost putri mereka ini baik banget, apalagi sering memberi cemilan ke dia kalo sore hari, saat puasa juga bantu-bantu bikin takjil ke mushola.
"Astaghfirullah, jangan doa begitu Bu ngga baik, mungkin selama ini ketutup rapat pintu hatinya, semoga mereka jadi inshaf dan menjadi orang yang baik setelah semua kesalahan mereka itu" ucap Sinta kasihan.
Aji cuma dibuat geleng kepala, Sinta yang sudah dijebak dan selalu di celakai oleh Salsa dan pamannya tapi masih mengasihani mereka dan berdoa yang baik untuk mereka, salut banget Aji dengan Sinta ini, harus langsung diamanin anak ini, ngga sabar pengen cepet-cepet melamar.
Dan dengan kedatangan Aji, kembali lagi nafsu makan Sinta dan Desi , mereka memakan martabak itu bersama-sama, setelah itu Susi yang masih lesu pulang ke kost melihat mereka jadi bingung ,karena seharian dia mengkhawatirkan mereka berduamalah sekarang tertawa sambil makan martabak.
"Kalian ini ya! Aku tuh nangis-nangis sedih kalian dipecat kok malah lagi tertawa sambil enak makan sih!" Teriak Susi jengkel.
"Em...ngga gitu Susi, tapi makasih udah khawatir sama kita" ucap Sinta
"Ini tadi mas Aji dah jelasin ke kita, katanya yang salah itu Salsa dan pamannya itu, kita bis akerja lagi Minggu depan, nunggu suasana Rumah Sakit kondusif" ucap Desi.
Lalu Susi menjadi sumringa wajahnya
__ADS_1
"Bener kalian bisa kerja lagi?!" Dengan senang memeluk Sinta dan Desi, karena ngga rela jika harus berpisah dengan sahabatnya ini.