
Aji bersiap berangkat ke Rumah Sakit untuk memulai kerja, sejak sedari kecil dia telah dikhatamkan dengan berbagai kasus penyakit saat mengikuti ayahnya bekerja, ditambah dengan fokusnya dalam belajar dengan giat tanpa memedulikan situasi dan kondisi.
Aji mampu melanjutkan studi spesialis dengan hasil yang gemilang dengan IPK 4.00, meskipun kerap kali saat belajar badannya selalu diforsir hingga hidungnya mimisan , lelah, pusing, tapi tetap iya jalani , meski terkesan flat hidupnya dia mampu meraih hasil seperti sekarang DOKTER SPESIALIS TERMUDA, dibanding teman-temannya yang baru masuk Rumah Sakit kemarin yang baru profesi dokter , Aji mampu mengambil ujian STR sampai spesialis hanya dalam 2 tahun setelah sarjanahnya di prodi kedokteran dulu.
Hari ini di niatkan bekerja untuk keluarga, agar tidak mengecewakan ayah ibunya, mengingat kisah waktu SD dulu, dia merengek minta dibelikan motor dan akhirnya terjatuh dengan ayahnya dibelakang sebagai penumpang, sehingga ayahnya mengalami fraktur di bagian kaki kanannya , perlu digips selama 3 bulan dan bekerja harus dengan crutch ketek ditangan, sejak itulah Aji bertekad akan menjadi dokter yang bisa mengobati setiap pasiennya, karena rasa bersalahnya inilah dia selalu menghormati setiap kata-kata ayahnya, meski terkesan diktator, meski terkadang iya ingin berhenti , suatu ketika dibangku SMA dia pernah suka dengan kakak kelasnya dia tak berani ungkapkan karena tidak tau seperti apa cara mengungkapkannya, hingga perasaan suka menjadi biasa saja setelah melihat kakak kelas itu berpacaran dengan teman sekelasnya, Aji tetap fokus dalam pendidikannya hingga akhirnya belum memahami bagaimana rasanya sayang menyayangi orang lain selain keluarganya.
Aji berangkat dengan mobil BMW nya, setiba di Rumah Sakit dia selalu mendapati banyak wanita tersenyum seperti meminta perhatiannya, terutama Salsa yang pagi ini sudah dandan ala artist itu membawakan kopi panas keruangannya , meski didepan ruangan dokter Aji sudah ada Lusi , perawat senior pendampingnya .
"Mas Aji, saya bawakan kopi supaya lebih semangat kerjanya ya" ucap Salsa dengan nada manja dan memajukan buah dadanya diatas meja , sehingga terlihat belahan dadanya itu.
Aji yang meski tak mengerti sayang atau cinta apalah itu juga tau apa itu nafsu, dia hanya melirik dan berdehem "ehem" , menahan diri dengan berkharisma.
"Terimakasih, tapi besok jangan lagi, saya sudah minum kopi dirumah" jawab Aji. "Baiklah....tapi saya akan tetap kemari menyapa anda yang ganteng ini, idaman saya sekali lo, oh maaf saya belum memperkenalkan diri, saya Salsa , perawat di bagian rawat inap vip lantai 4 gedung B , keponakan wakil direktur Rumah Sakit ini professor Hendrawan" sambil senyum manja.
Suster Lusi yang sedari tadi melihat dan mendengar dibuat gemas olehnya, pasalnya bukan sekali ini, sudah berkali-kali dia mendekati dokter tampan di Rumah Sakit ini, tapi sayang belum ada yang minat dengannya.
"Maaf suster cantik, ini sudah jam 07.00 WIB, apa kamu ngga kerja sus?" Tanya Lusi.
"Oh iya , maaf sus, saya kembali dulu dokter, ingat ya, nama saya Salsabila , panggil Sasa ya" ucap manja salsa lagi sambil melambaikan tangan.
Aji yang sedari tadi sudah tidak menggubrisnya hanya membuka makalah hari ini, pasien seperti apa yang butuh penanganannya, karena ini di bagian rawat jalan gedung C, jarak antara gedung B dan C kurang lebih 10 menit.
***
Desi dan Sinta menjalani hari-harinya seperti biasa, hanya pertikaian kecil dengan perawat lantai atas sudah menjadi hal biasa bagi mereka.
Sinta telah bekerja di Rumah Sakit ini sesaat setelah dapat beasiswa , meski menjadi pesuruh, kerjanya belum jelas seperti kadang disuruh bantu bersihin bangsal pasien, kadang bantu masak di ruang gizi, terkadang jadi omelan dokter karena perawat yang ngga becus dia gantikan, dsb, dia jalani dengan ikhlas dan Istiqomah, pantang menyerah, berarti sudah hampir 5 tahun dia bekerja di Rumah Sakit ini hingga mendapat sertifikat STR nya tahun lalu dan diposisi sekarang ini, penuh ucap syukur alhamdulilah, dan atas doa orang tuanya yang tiada henti.
Mengingat orang tuanya, dia rindu dengan mereka, pasalnya sudah 6 bulan ini dia belum pulang, rumahnya hanya 3 jam dari Rumah Sakit ini tapi pulang selalu iya tunda, ongkos untuk pulang lumayan untuk tambah uang jajan adik-adiknya , ya dia tiga bersaudara, karena orang desa, meski sudah mengenal KB masih saja anaknya lebih dari tiga, ayahnya pernah berucap "banyak anak banyak rejeki" , dan "anak membawa rejekinya masing-masing" terbukti, dengan usaha dan ikhtiarnya beliau masih bisa menyekolahkan ketiga anaknya, Sinta pun yang sedang mengenang keluarga rindu ingin segera pulang, rencananya dia akan pulang hari Raya Idul Fitri ini, jadi sekitar 2 bulan lagi.
"Sin, menurut kamu akang siomay gimana orangnya? Celetuk Desi,
Sinta yang sedang melamun sontak kaget," akang siomay kenapa?" Tanyanya balik,
__ADS_1
"Dia jatuh" jawab Desi singkat,
Sinta makin kaget "jatuh dimana?" ,
Desi yang sudah biasa ngobrol sama sahabatnya ini kalo lagi ga nyambung suka tambah dingawurin "jatuh dihatiku" jawabnya lugas.
Sesaat Sinta berpikir beberapa detik , "eehhh ,kamu kepincut sama akang siomay?" Jawabnya.
Ting tong! Ting tong! Bel pasien berbunyi, karena jadwal mereka sedang shift malam, waktu menunjukan pukul 22.15 WIB , Sinta bergegas ke bangsal pasien,
"bagaimana Bu, ada yang bisa saya bantu?" Tanya Sinta sambil tersenyum,
"ini sus, selang infusnya Ndak jalan" jawab anak pasien yang menunggunya,
"ooh baik saya perbaiki, sudah ya Bu, mas, saya permisi dulu" pamitnya.
***
Malam itu dokter Aji belum pulang, tanpa niat apapun dia berjalan mengitari gedung B selepas kunjungannya sore tadi ke rawat inap , tanpa sengaja melihat dua sejoli yang sedang bermesraan di ujung koridor dekat ruang gizi dan toilet,
Lanjut berjalan keatas dia melihat perawat Sinta yang berjalan keluar dari bangsal pasien , ada rasa geleyar didada melihat parasnya yang ayu, sebelum terlihat gadis itu dia segera turun lewat tangga sebelah lift agar tidak ketahuan tapi saat menuruni tangga pertama,
Sinta pun sudah melihat sosoknya 'ngapain dokter Aji kesini malam-malam ya?, ah mungkin ada yang tertinggal' pikirnya lalu masuk ke ruangan.
***
Dirumah Raisa ketiduran di ruang TV dengan tidur beralaskan buku dimuka dan tidur bersila , didampingi bi Atun disebelahnya tanpa berani membangunkan,
"kenapa ngga disuruh pindah bi?" Tanya Aji, "Ini den tadi udah tak bangunin malah ngamuk , susah bangunin non Raisa", jawabnya,
"Iya biar aku yang bangunin, dek dek bangun pindah kamar gih" ucap Aji sambil goyangin pundak Raisa,
"Eh....ntar lagi" nglanturnya Raisa,
__ADS_1
"Sekarang pindah kamar, dingin disini dek" bujuknya Aji lagi,
Raisa membuka matanya lalu mengucek-ucek "kakak udah pulang?, ayah ibu blum pulang", lalu beranjak ke kamar.
***
Pagi hari ini Aji mengambil cuti sehari untuk melepas penat setelah berminggu-minggu disibukan kerjaan di Rumah Sakit tiada henti.
Aji yang sedang duduk di teras rumah setelah lelah berolahraga disamperin Raisa ,
"Kak , ngga nugas?" , tanyanya duduk di sebelah Aji,
"Ngga, mau libur bentar" jawab Aji,
"Ngga kangen sama yang di Rumah Sakit?" Sentil Raisa,
"Kangen siapa , kaya kamu tau aja" ,
"Ya kali ada calon kakaku yang cantik manis baik hati dan bisa diajak curhat, ngga kaya kakak cowokku ini diajak curhat malah ngajak berantem" sahut Raisa,
Celetukan Raisa mengingatkan kejadian beberapa hari lalu saat ia melihat cocok Sinta yang dengan tegar bekerja sampai larut malam di Rumah Sakit itu, 'kenapa setiap ngomong cewek , aku selalu ingat gadis itu?' Batinnya .
"Tau ngga kak, makanan dari mulut turun ke perut, kalo cinta dari mata turun ke hati, percaya deh dari kakak tiap hari lihat aja lama-lama suka , dari suka timbul rasa cinta, cinta menggebu beralun menjadi sayang, sayang yang nyaman akan langgeng sampai akhir hayat nanti" celotehnya Raisa panjang - panjang.
Aji hanya mendengarkan dan menyahut "Kamu kaya emak-emak, haha"
"Sembarangan kamu kak" sambil memukul ringan lengan kakaknya
" Itu namanya tahapan cinta kak, sama kaya anatomi tubuh, cinta juga perlu proses dan punya karakteristiknya sendiri".
"Halah kaya kamu udah dapat tambatan hati yang tepat aja" jawab Aji.
"Nah itu yang lagi aku cari kak, caraku mungkin berbeda dengan kakak" jawab Raisa sambil beranjak pergi naik sepeda,
__ADS_1
"Kamu mau kemana dek?" , "Refreshing".
Setelah Raisa pergi , Aji terpikir perkataan Raisa itu, apa iya aku mulai suka sama Sinta? Suka jadi cinta , cinta jadi sayang, sayang yang nyaman, kenapa aku jadi rindu melihat senyum itu? Ya Alloh,ngga kerja jadi ngelantur pikiranku sambil beranjak masuk rumah hendak mandi