
"Bos , anak buah yang ditugaskan itu sekarang tidak bisa dihubungi" lapor salah satu anak buah Hendra, Hendra yang sedang main billiar di Rumahnya menoleh kearah anak buah itu.
"Terakhir apa laporan mereka?" Tanyanya.
"Mereka berhasil mengancam keluarga itu lalu bersiap balik kemari" jelas anak buah itu.
"Heem...biarkan saja, mungkin sedang bersenang-senang" ucap Hendra enteng.
Tanpa tau sebenarnya anak buahnya itu di sekap oleh Bara, tangan kanan Aji, saat anak buah itu memang sedang bersenang-senang di hotel terdekat, dalam keadaan mabuk dan ditemani wanita panggilan yang cantik tapi tak bermoral karena saat digerebek sedang tak berbusana sehelaipun.
"Mas, dibawa kemana anak buah ini?" Tanya anak buah Bara.
"Bawa ke markas cabang aja" ucap Bara, yang memang memiliki beberapa markas yang legal, dan kebetulan memiliki markas dekat, kira-kira 20 menit dari hotel itu.
Tawan di masukan ke ruang bawah Tanah, ada 3 anak buah di pisah, diruangan masing-masing, yang tertutup tembok , dan pintu jeruji besi, jendela kecilpun dengan jeruji besi, ada kasur untuk berbaring.
Diambil salah satu anak buah didudukan dan siap diinterogasi.
Byur! Terkejap-kejap anak buah itu seketika gelagapan saat sadar ada dimana dia, dikelilingi orang tak dikenalnya.
"Siapa kalian! Berani kalian! Belum tau siapa bos saya!" Nyalaknya
"Haha, kamu yang belum tau siapa saya" ucap Bara tenang
***
"Mas, maaf, Sinta ngga bisa lanjutin hubungan ini" ucap Sinta dengan mendorong dekapan Aji perlahan.
"Sayang, jangan bicara seperti itu" ditelangkuonya kedua tangan di kedua pipi chubby Sinta, membuat mata Sinta dan Aji bertatapan.
"Dengar, ngga akan terjadi apa-apa, mas tau apa yang terjadi dengan keluargamu mas lihat di HP Raisa ,adik mas , jangan khawatir, mas tau siapa dalang dibalik semua ini, mas akan telefon polisi biar mereka dipenjara" ucap Aji menenangkan Sinta yang sudah berkaca-kaca, mata indah itu sia meneteskan air mata Sinta dikecup Aji kedua mata Sinta.
"Tapi mas, pae dan mae khawatir denganku, kalo berbahaya malah Sinta ngga boleh kerja lagi, disuruh bantu mama dirumah aja" ucap Sinta sedih.
"Besok mas yang bicara dengan bapak ya" ucap Aji dengan tenang meski Sinta dah kalut, didekapnya Sinta ,dielus-elus rambut wangi Sinta, dicium ujung kepalanya.
"Dengar sayang, kamu milik mas Aji, ngga ada yang bisa mencelakai kamu dan keluargamu ,paham?"
Sinta hanya bisa mengangguk dan lega didalam dekapan hangat itu, Sinta mengakui dia terlanjur sayang dengan mas Aji, dan akan sakit sekali jika harus berpisah.
"Udah ah, jangan nangis terus, nanti mas telfon bapak dulu biar orang rumah tenang ya, tunggu mas bilang ke orang tua mas dulu buat meminang kamu" ucap Aji menggoda Sinta.
Sinta dibuat tersenyum malu dan menggangguk , hatinya kini berbunga-bunga kala mendengarkan tuturan Aji.
Ajipun mantap dalam hati, jika dia akan meminang Sinta, karena hanya dengan Sinta dia menemukan kenyamanan dan dapat terbuka.
"Yuk makan malam dulu" ajak Aji, membimbing Sinta ke restoran sebrang.
***
"Siap siaga ya untuk pasien ini" ucap Cindy ke perawat rawat inap itu.
__ADS_1
"Baik dok" ucap serempak saat menangani pasien komplikasi , dan pun usia suda lansia, jantung coroner ,gagal ginjal tapi masih keras kepala ingin pulang, beruntung pihak keluarga mendukung upaya yang dilakuka dokter dan perawat.
Saat jam istirahat, Cindy memilih kekantin, dikantin ada Sinta dkk yang sedang membeli makanan,
"Halo, suster cantik lantai berapa kalian?" Sapa Cindy ramah
"Kami dari rawat inap lantai 3 dok" Jawab Sinta tersenyum
"Oo iya, yang Minggu lalu dapat pasien ngeyel itu ya" ucap Cindy bergurau
"Hehe, bisa aja dok, ya banyak si pasien kaya gitu dok, maklum mereka sakit di usia renta, mudanya sehat dan banyak bekerja, jadi anti dengan Rumah Sakit" ucap Desi panjang.
"Saya Cindy, dokter anestesi, mungkin akan kerap bertemu kalian" ucapnya Cindy masih ramah.
"Ya dok, saya Desi, ini Sinta dan ini Susi, kami kebetulan sering shift sama, Susi bagian Gizi" ucap Desi memperkenalkan dan menjabat tangan satu persatu, pertemanan terjalin baik.
"Eh Des, beli siomay yuk" ucap Sinta,
Desi yang masih malas melihat akang siomay itu menolak , karena hatinya belum siap jika tahu bukan Desi lah pilihan mas Nando.
"Apa masih mangkal?" Tanya Susi.
"Siomay di Prapatan?" Tanya Cindy
"Iya yang disana, uenake pol, bumbu kacangnya legit, bikin kangen lah pokoke" ucap Sinta, berharap Desi mau melihat mas Nando, kali aja mas Nando jadi suka kalo liha Desi terus kan? Pikirnya.
"Ngga lah, aku dah beli ini, besok aja" kilah Desi.
Mereka makan di kursi terdekat dan asyik mengobrol, ditolehnya Cindy ke pojokan gedung itu, dia jadi senang sendiri.
"Eh ada dokter muda tampan lihatin kita" ucap Cindy ke yang lain.
Desi dan Susi yang tahu dokter itu selalu memandangi mereka kala membeli di kantin sudah biasa, apa lagi tahu Sinta lah yang dilihat oleh dokter Aji, tapi Susi melihat Aris tersenyum ke arah nya, Susi pun membalas tersenyum.
"Em...biasa itu dokter tukang nongkrong disitu, dokter tapi merokok coba, mengajari pasien jangan merokok tapi dirinya ngrokok juga, haha" canda Desi diikuti teman lainnya.
Aji dan kawan-kawannya yang memang memperhatikan gadis kesayangannya cekikikan dengan teman-teman.
"Asyik bener sih mereka, ngobrolin apaan?" Ucap Aris membuka obrolan
"Hem ,paling lagi gosip" jawab Bima asyik dengan makanannya.
"Bim, belum kenyang?" Tanya Aris melihat Bima makan nasi uduk dengan gorengan, 3 buah pula, padahal habis makan jatah siang itu tadi.
"Hem...belum, capek mikir terus ,lelah ini badan , butuh asupan" ucap Bima dengan mulut penuh.
"Makan dulu pelan-pelan Bim, nanti keselek" ucap Aji memperhatikan Bima.
Uhuk uhuk! Baru dibilangin, diambilnya minum es teh diseruput gugup oleh Bima,
"Ngga ada yang minta bro" ucap kawan lainnya ,dikuti tawa.
__ADS_1
"Hay ges, ngobrol apa?" Tanya Cindy menghampiri dokter-dokter pria.
"Kalo ngobrolin kamu nanti kamunya gengsi" ucap Aris godain.
Bima yang naksir Cindy jadi salah tingkah,
"Bim, makannya pelan-pelan ya" ucap Cindy perhatian, sambil diliriknya Aji, yang lagi lihatin gadis-gadis di kantin itu.
Cindy mengikuti pandangan Aji,
"Kamu suka ya sama salah satu perawat itu?" Tanyanya iseng.
Aji hanya cuek tak menggubris Cindy,
Kring! Ada telepon dari Bara,
"Gue cabut dulu" ucapnya sambil mengangkat telepon itu, berbincang dengan serius.
"Mba, ngga makan?" Ucap Bima menawarkan gorengannya, Cindy menerima satu dimakannya lalu balik ke arah gadis-gadis.
"Em ,mba kenal dokter-dokter itu?" Tanya Susi , yang khawatir apa ada hubungannya dengan Aris.
"Oh mereka dulu teman se SMA mba" ucap Cindy, karena memang Cindy beda 2 tahun dengan para gadis itu.
"Oo gitu, kirain mba suka sama salah satu dokter tampan itu" ledek Desi
"Eh iya si, ada yang mba taksir" Cindy mengakui.
"Em kami balik dulu ya mba" ucap Sinta.
"Iya , kalo main ajak mba ya" ucap Cindy riang
"Oke" jawab lainnya
***
"Aji, kamu sibuk?" Tanya ibu Aji memasuki ruangan Aji tanpa ketuk dan sudah masuk.
"Ada apa bu?" Tanya Aji masih dengan mode cueknya
"Ibu denger dari kakek kamu lagi pacaran, bener ngga?" Bu Mila menanyakan ke Aji untuk menyakinkan dirinya sendiri kalo anaknya ini masih normal.
"Iya Bu, aku lagi pacaran" ucap Aji singkat
"Syukur Alhamdulillah, Brati kamu normal nak, kenalin dong ke ibu" ucap Mila gembira
"Lah maksud ibu aku ngga normal gitu?" Tanya Aji kesal,
"Eh ,habis kamu ngga pernah menggubris kalo ibu kenalin sama anak teman ibu" ucap Ibu
"Em ,besok tak bawa kerumah" ucap Aji berpikir mengenalkan Sinta ke keluarganya itu
__ADS_1