ANATOMI CINTAKU (Dokter Spesialis Termuda)

ANATOMI CINTAKU (Dokter Spesialis Termuda)
kekuatan media sosial


__ADS_3

"Kamu katakan kekeluarga miskin itu jangan macam-macam kalo ngga punya kekuatan" ucap Hendra melalui telefon genggamnya.


"Oke bos" sahut anak buahnya.


Anak buah itupun berjalan ditengah-tengah desa yang sekarang penuh sesak karena musim lebaran di desa itu mereka saling bersilaturahmi, bersalam-salaman, banyak bunyi petasan ,kembang api dan tawa bahagia dimana-mana, heran anak buah itu, pasalnya dia anak dari kota dan besar didunia hitam jadi tidak tau apa itu silaturahmi dan saling memaafkan, meski kerap iya melihat di televisi namun belum paham benar.


***


"Assalamualaikum"


"Waalaikumsalam, Monggo ,silahkan duduk" ucap Sinta ke para tamu , banyak yang datang ke rumahnya ,karena pak Ali termasuk sesepuh di desa, didesa ada pondok pesantren dan pak Ali yang mengajar karena dulu pak Ali santri disitu, jadi banyak alumni santri datang bersilaturahmi.


Pak Ali memiliki beberapa tanah yang didapat dari warisan kakeknya Sinta dulu, biasa diolah orang lain dengan bayar sewa, karena dia sendiri bertani tapi tak cukup modal untuk mengolah beberapa tanahnya itu, namun cukup untuk makan dan biaya sekolah adik-adiknya, Sintapun mesti berjuang kala ingin berkuliah dan bekerja untuk merubah nasib keluarganya, makanya rumahnya sederhana dan penampilannya pun sederhana, tidak pernah mengada-ada seperti orang kaya, semampunya saja, meski dihati Sinta ingin seperti teman lainnya yang rumahnya telah dibangun dengan batako, punya mobil, motor , tapi sekarang dia sedang menabung sedikit-sedikit dan fokus membiayai sekolah adiknya dibantu orang tua dari hasil taninya, semoga yang diinginkan Sinta tersemogakan,begitu doanya, setiap lebaran dia dan keluarga menghabiskan biaya tak sedikit karena banyak tamu yang berdatangan, sajian camilan dan minuman di meja ruang tamu penuh, berbagai makanan lezat terhidang diruang makan, seperti itu tapi tak mengurangi rasa syukur dan berkah keluarga pak Ali justru karena silaturahim inilah rezeki keluarga itu terus mengalir.


"Siang pak" tiba-tiba datang 3 orang berseragam hitam , perawakan gede ,tinggi, kekar, seperti para bodyguard dan rentenir yang menagih hutang.


Pikir para tetanggapun apa pak Ali berhutang, kenapa ada bang tengul disini, begitu.


"Iya siang bapak-bapak, silahkan duduk" ucap pak Ali masih sopan.


Mereka pun duduk di kursi tamu, dan langsung to the point,


"Kami kesini diperintah bos kami, untuk memperingatkan keluarga bapak itu, terutama Sinta anak sulung bapak jangan mengganggu keluarga berkuasa, takut keluarga kalian terkena imbasnya, karena kalian orang kecil yang tidak punya kekuatan menghadapi itu" ucapnya.


Namun pak Ali dan keluarga , terutama Sinta yang diperingati masih belum mengerti.


"Maaf pak, memang siapa yang kami singgung ya?" Tanya pak Ali,


"Anak bapak ini sedang berpacaran dengan pewaris WIBO grup, pemilik Rumah Sakit Harapan Kita dan beberapa perusahaan lainnya, kami peringatkan jangan dekati anak itu, karena dia incaran bos kami, bos kami sudah merencanakan pernikahan keluarganya dengan pemilik WIBO grup ini" jelas orang besar itu.


"Kalian ini hanya orang kecil, yang ngga pantas untuk bersanding dengan orang kaya seperti bos kami , apalagi berpacaran dengan pemilik WIBO grup, ngga level" tandas orang berawak besar itu.


Pak Ali yang belum mengerti bahkan mengetahui perihal anak gadisnya dekat dengan siapa, meski ditekankan seperti itu dia masih bisa menahannya dan hanya menanggapi dengan baik dan tenang.


"Iya pak, nanti anak kami saya suruh menjauhinya, dia akan fokus saja dengan pekerjaannya" jawab bu Sari, mamanya Sinta.


Meski baik pak Ali maupun Bu Sari merasa ini kurang pantas, kenapa anak gadisnya dibilang ngga boleh dekat orang yang dibicarakan itu, mereka sedikit tersinggung, dan meskipun mereka bukan keluarga berada namun mereka berkecukupan dan masih disegani di masyarakat, namun orang-orang ini berani menghina mereka.


Tanpa sepengatuan orang-orang, adik perempuan Sinta, Ais namanya yang sedang bermain HP , ketika orang besar itu masuk rumah sudah ia video dan live di akun Ig pribadinya nya, sontak followernya menonton bahkan meneruskan berita itu, dan menjadi trending di media sosial.

__ADS_1


***


Raisa yang Ter-up to date pasal media sosial , dia mencari berita dengan kekuatan media sosial ini, maklum Raisa calon wartawan jadi jiwanya ingin berkelana mencari sesuatu yang seru, kala itu sedang bermain HP ,dan melihat video yang viral di Ig, dia menonton dan terkejut.


'Ini mba Sinta kan, apa jangan-jangan ini keluarga mba Sinta' pikir dia tercengang, sontak iya berteriak


"Kak Aji!!!!"


Aji yang sedang mencuci mobil didepan dibantu mang Ujang kaget ,


"Apa sih Raisa ini, cewek kok teriak kaya monyet di hutan aja"


"Hihi Hem Hem", mang Ujang terkikik mendengar celetukan Aji yang jengkel, Aji masuk rumah menghampiri Raisa.


"Apaan?!" Ucapnya ketus,


"Ini ada berita heboh ,ngga usah ketus begitu dong, ini demi kakak tau" ucap Raisa memberikan HP nya untuk dilihat Aji,


Aji melihat itu dan seketika itu dia merasa marah karena dia paham siapa yang ada di layar sentuh kotak itu,


"Kurang ajar , awas kamu Hendra!" Ucap Aji, dia masuk kamar mengambil HP nya sendiri,


"Pinjem bentar"


Tut! Tut! "Hallo"


"Bara, kamu bawa anak buah menuju alamat Sinta, cekal anak buah Hendra, kita buat perhitungan dengan Hendra, kumpulkan bukti-bukti kesalahannya sampai terkecil sekalipun" perintah Aji ke Bara, anak buah terpercayanya didunia hitam.


Ya, Aji sebagai pewaris WIBO grup pastilah mengenal cara main bisnis, terungkap maupun tersembunyi, meski dia dan keluarganya tak pernah menyalahgunakan kekuatan dan tak pernah terjun ke dunia hitam secara langsung, hanya memanfaatkan jaringan komunikasi dunia hitam untuk memperbaharui koneksi dan menghindari ancaman saja, pikirnya.


"Siap bos!" Ucap Bara


Aji melakukan panggilan lainnya,


"Assalamualaikum sayang"


"Waalaikumsalam salam mas, mas maaf , sepertinya hubungan ini ngga bisa aku lanjutkan" ucap Sinta dengan Isak tangisnya, hati Aji seperti diperas mendengar suara lirih Sinta dengan deru ingusnya di HP itu.


"Kenapa kamu tiba-tiba ngomong gitu sayang?" Ucap Aji dengan berpura-pura belum mengerti dan berharap Sinta tidak memutuskan hubungan mereka begitu saja, Aji tidak rela dan tidak akan pernah melepaskan Sinta , hatinya telah tertambat teramat sangat.

__ADS_1


"Jangan mikir macam-macam sayang, aku tetap setia sama kamu, apapun yang terjadi kamu dan keluargamu akan aku lindungi" ucap Aji.


"Besok kita bicarakan lagi ya" ucap Sinta lirih, lalu sambungan terputus, Aji yang marah ingin rasanya dia mencekik Hendra,


'awas aja kamu Hendra, belum tau siapa yang kau singgung' batin Aji marah.


***


"Huft, besok udah kerja lagi...., masih males" ucap Desi manja dan rebahan di kost putri, dia dan Susi telah tiba pagi ini, namun Sinta mereka duga tiba nanti sore , karena dia pasti mengambil bus sore untuk menambah waktu kebersamaannya dengan keluarganya itu.


"Minal Aidin wal Faizin ya Des" ucap Susi


"Iya sama-sama beb, maafin kesalahanku juga ya" ucap Desi, mereka cipika cipiki.


Dua anak itu bercengkrama dengan asyiknya tanpa terasa adzan Dzuhur berkumandang, setelah sholat,


"Ih laper, beli siomay yuk" ajak Desi


"Yaudah skuy" balas Susi


Setelah beberapa menit berjalan, mereka tidak melihat gerobak siomay yang biasa mangkal di perempatan itu.


"Duh si akang ngga mangkal sus" ,ucap Desi cemberut karena batin dia ingin melihat wajah akang siomay itu.


"Emm sekali-kali coba beli di resto itu yuk" ajak Susi


"Ih mahal ngga?" Ucap Desi


Susi dan Desi meski dari kaum berada mereka terbiasa hidup berhemat, setelah kerja mereka belum memakai uang keluarga , hanya mengandalkan gaji masing-masing, meski dapat jatah uang saku di ATM masing-masing biarlah jadi tabungan pikir mereka kompak.


"Iii nyobain" ucap Susi lagi


"Yaudah yuk"


Mereka berjalan ke arah resto itu, saat ini mereka ngga mengenakan seragam melainkan memakai baju , dan baju baru karena masih suasana lebaran, jadi terlihat wajah yang cantik manis semakin berseri-seri memperlihatkan keindahan masing-masing,


'banyak lebah berdengung' batin Desi, karena memang banyak cowok yang lihat dan bersiul, tertawa dan menggoda dua gadis ini.


Saat memasuki resto, Desi melihat siluet Nando akang Siomay di sebelah Kasir masuk ke pintu khusus karyawan, namun dengan pakaian formal, mengenakan kemeja dan sepatu fantofel, 'bang Nando kerja di resto sekarang?' Tanyanya dalam hati, tapi dia melihat karyawan resto lainnya mengenakan kaos hitam dengan emblem logo resto, dan celemek di pinggang mereka.

__ADS_1


Siapa bang Nando ini?


__ADS_2