ANATOMI CINTAKU (Dokter Spesialis Termuda)

ANATOMI CINTAKU (Dokter Spesialis Termuda)
Lamaran Tak Terduga


__ADS_3

"Pak, anak buah itu sudah mengaku , memang diperintah oleh Hendra, kami rekam sesuai perintah" ucap anak buah Bara.


"Oke, kita perlu mencari bukti kejahatan Hendra lainnya, mari kembali ke markas utama, kita lapor ke bos Aji" ucap Bara.


Mereka kembali ke markas utama, tapi anak buah masih disekap di markas cabang ,dijaga beberapa orang yang kompeten.


Dengan IT handal, dan hacker ilegal dari dunia hitam tidak butuh waktu lama mendapatkan bukti-bukti kejahatan Hendra dalam flashdisk dan DVD, untuk berkas-berkasnya mereka meretas dimana posisi itu, dan segera mereka tahu titik letak lokasi nya.


Tut! Tut! "Hallo"


"Hallo mas, kita dah menemukan beberapa bukti kejahatan Hendra, tapi untuk berkas-berkas pembuktiannya masih Hendra sembunyikan di brangkas tersembunyi , dilokasi X disebuah ruang bawah tanah markas Hendra". Lapor Bara lewat telepon.


"Oke, nanti kita bicarakan selanjutnya ,kutemui kamu langsung" ucap Aji.


"Siap mas"


***


"Hallo , Assalamualaikum, siapa ini?"


"Hallo, waalaikumsalam pak, ini saya Aji, orang yang dikabarkan dekat dengan Sinta, maaf belum menemui bapak langsung, soalnya saya masih bertugas di Rumah Sakit" ucap Aji sopan.


"Iya , ada apa nak Aji?" Tanya Bapak,


"Begini pak, bapak dan keluarga jangan risau dengan orang tidak dikenal yang mengancam bapak sekeluarga, sudah saya atasi dan tidak akan terjadi lagi" jelas Aji.


"Alhamdulillah lah nak kalo sudah diatasi, kalo ada masalah diselesaikan dulu, takutnya Sinta yang kenapa-kenapa" ucap Bapak khawatir.


"Iya pak, maturnuwun, Sinta akan saya lindungi dengan sebaik-baiknya, insyaallah akan saya kenalkan ke keluarga saya besok" kata Aji.


"Nak Aji beneran serius dengan anak saya, Sinta?" Tanya bapak dari sebrang telepon itu.


"Iya pak, saya nyaman dengan anak bapak, bulan depan saya silaturahmi kerumah bapak ya?" Ijin Aji.


"Iya nak Aji, tolong jaga Sinta disana, dan kamu jangan macam-macam ya, kalian belum mahromnya" ucap Bapak mengingatkan.


Aji sebenarnya cengar-cengir saat bapak bilang begitu, untung ngga bertemu langsung bisa kena amukan bapak Sinta, Aji pun berprinsip akan melakukan hubungan suami istri setelah dia mengucapkan Ijapkobul di hadapan penghulu dan keluarganya.


Setelah telepon berakhir dengan salam, Aji membuka map pasien , tiba-tiba ibunya masuk dan mengatakan omong kosong itu.


Sesaat setelah ibunya mengatakan untuk mengenalkan gadis yang disukainya itu ,aji berpikir memang sudah saatnya keluarga mengetahui hubunganku, supaya Sinta pun juga aman dari ancaman.


"Ibu juga nanti tahu siapa dia" ucap Aji menenangkan Ibunya itu.


Tapi sebenernya bukan tenang malah ibunya makin penasaran dan makin menjadi dalam mencecar Aji untuk menjelaskannya.


Namun Aji sudah melenggang pergi meninggalkan ruangan yang masih ada ibunya itu.


***


"Pak Hendra" ucap Aji singkat masuk keruangan Hendra , tanpa mengetuk dulu.


Hendra dibuat kesal melihat Aji tanpa sopan masuk ke ruangannya, tapi dia tahan mengingat Aji pewaris dari Rumah Sakit ini, dan dipaksanya untuk tersenyum mukanya itu.


"Tumben mas Aji datang kemari, ada apa?" Tanya Hendra masih dengan senyumnya itu, mengingat kemenangannya dalam mengancam Sinta dan keluarga, pacarnya Aji, dia mengira Aji sudah putus dan ingin melanjutkan rencana pertunangan yang direncanakan Hendra itu.

__ADS_1


"Kamu tahu pak untuk apa saya kemari?" Ucap Aji masih dalam wajah khasnya yang kaku dan berwibawa.


"Oh untuk mengenalkan keponakan saya kan?" Ucap Hendra kegirangan.


"Saya kesini untuk memperingatkan anda, jika anda masih berani berulah dan mengancam keluarga gadis saya, anda berhadapan dengan saya" ucap Aji ketus dengan memicingkan matanya.


Hendra yang dibuat terkejut kenapa Aji tahu itu sempat membenarkan raut mukanya menjadi bingung.


"Mengancam? Apa maksud kamu nak Aji? Saya ini sudah sepuh , harusnya kamu sopan dong, masuk saja ngga salam" ucap Hendra dalam mode bingung dan senyum yang dipaksa.


"Jangan sok naif ya pak, saya tahu semuanya, dan hati-hati atas semua tindakan ilegal bapak, saya punya kunci untuk menjebloskan bapak kepenjara" ucap Aji


"Em...kepenjara sepertinya hukuman yang ringan, lihat saja nanti jika kamu berani berulah" ucap Aji tersenyum sarkastik lalu berbalik meninggalkan Hendra yang dalam pose terkejut di ruangannya itu.


Hendra seketika mengambil HP nya menghubungi anak buah terpercayanya.


"Kamu hubungi anak buah yang diutus untuk mengancam gadis itu dan keluarganya" ucap Hendra ketus dengan nada marah ke anak buahnya.


"Baik bos" ucap anak buahnya.


2 menit kemudian telepon dari anak buah dia angkat,


"Bos, anak buah itu masih tidak dapat dihubungi"


"Bangsat! Cepat lacak dimana keberadaan mereka"


"Memangnya ada apa bos?" Tanya anak buah itu.


"Ngga usah banyak tanya kamu! Aji tadi mengancam saya!" Bentak Hendra tapi masih memberitahunya.


Telepon dimatikannya lalu dia pulang ke markas tak memperdulikan tugasnya di Rumah Sakit.


***


"Kang siomaynya dua porsi" ucap gadis perawat cantik.


"Ya mba, pedes?" Tanya Nando,


"Yang satu pedes satu ngga" ucap gadis itu itu sambil cekikikan dengan teman-temannya melihat wajah Nando, tak memungkiri memang wajahnya ganteng, tapi gadis-gadis itu tak ada yang berani mengajak mengobrol apa lagi menggoda seperti yang dilakukan Desi karena dipikir mereka kenapa dekat tukang siomay, lain Ha dengan Desi, yang tak memandang status ,ya sudah satu Minggu ini dia selalu mangkal saat jam-jam Desi keluar dari Rumah Sakit, tapi tak dijumpainya sosok Desi, kemana gerangan dia? Ngga pernah mampir beli siomaynya, gimana cara ngungkapinnya kalo Desi saja tak menemuinya ya? Ucap Nando dalam hati.


Nando juga sebelas dua belas dengan Aji yang tidak tau cara mengejar pujaan hatinya, beruntung Aji yang mau mengungkapkannya dulu dan mencari keberadaan Sinta dan juga satu tempat kerjaan jadi memudahkannya PDKT, berbeda dengan Nando ,dia menunggu Desi menghampirinya dan dia baru akan mengatakan perasaannya, lucu memang.


Saat pelanggan hampir sepi, dan waktu menunjukan pukul 20.00 WIB dilihatnya gerbang Rumah Sakit, apa Desi lewat pintu belakang ya?


Tapi seketika sosok Desi muncul, memang Desi selalu lewat pintu utama hanya Nando kebetulan sedang ada banyak pelanggan jadi tidak begitu memperhatikan.


Nandopun memberanikan diri menghampiri Desi dan teman-temannya itu,


"Malam mba" ucapnya sopan


"Iya malam kang" kata gadis-gadis itu serempak, Desi yang berjalan dibelakang belum memperhatikan siapa yang mengajak bicara itu, dan dilihatnya itu seketika bola matanya yang sudah belo makin bulat menjadi,


"Em, permisi saya mau bicara sama mba yang dibelakang itu, boleh?" Ucap Nando ke perawat-perawat itu,


"Oo mba Desi ya, iya silahkan" ucap Sinta

__ADS_1


"Des, kita tunggu di halte itu ya" sambung Sinta gembira, berharap sahabatnya ini dapat mengungkapkan perasaannya, karena seminggu ini melihat tingkah Desi yang biasa riang jadi mendung , suasanapun jadi tambah kalut dan sesak.


"Dek, mas mau bicara" ucap Nando pelan,


"Cie cie, jangan macem-macem kamu ya mas, 10 menit aja, belum mahromnya" ucap Susi menggoda.


"Hehe, iya iya"


Merekapun meninggalkan Nando dan Desi berdua dihalaman Rumah Sakit,


"Ehem, kita ngomong di teras Rumah Sakit itu ya" ucap Nando


"Oo iya, bentar aja ya mas" ucap Desi yang sudah menutupi sedih hatinya dengan senyum manis meski dipaksakannya.


Saat mereka sudah duduk, masih ada ruang ditengah,


"Mau bicara apa mas?" Ucap Desi


"Em, kenapa dek Desi ngga beli siomay mas lagi?" Batinnya kenapa yang kutanya malah ini?


"Oo aku beli kok, siomay mas enak banget, selalu bikin kangen, minggu ini sibuk, jadi aku nitip Susi yang beliin, mas ngga inget itu cewek yang tadi ngomong sama mas itu" cerocos Desi menutupi salah tingkahnya kala berdua dengan Nando.


"Oo iya, inget, maksud mas sebenernya bukan nanya itu" ucap Nando lalu diam ,bingung gimana memulainya.


"Em ,lalu mau ngomong apa mas? Mas ada yang sakit? Daftar aja di Rumah Sakit" ucap Desi masih belum mengerti Nando mau ngomong apa karena Nando dari tadi diam aja.


"Em , kamu mau ngga jadi istri mas?" Nando langsung to the point aja.


Dan seketika mata Desi membulat untuk yang kedua kalinya, dan terpaku bak patung manekin.


Nando duduk berdekatan dengan Desi, lututpun bersentuhan, diambilnya kedua tangan gadis itu, 'mungil sekali tangannya' pikir Nando, yang tangannya memang besar dan kecoklatan.


"Mas sengaja jadi tukang siomay buat deketin kamu dek, mas mau ngungkapin perasaan mas tapi ngga tau caranya" ucap Nando menjelaskan.


"Eh...iya" ucap Desi, lalu dicubit tangannya sendiri


"Aw!"


Nando tertawa melihat tingkat Desi yang Absurd itu, "kamu ngapain si dek?"


"Eh ini nyata ya ,bukan mimpi?" Tanya Desi,


"Kupikir mas Nando suka gadis lain, jadi Desi menghindar, untuk melupakan perasaan ini, tapi Desi selalu tambah kepikiran mas" ucap Desi dengan bulir air menetes dari mata indahnya itu.


Nando dibuat kalang kabut jadinya, dipikirnya ngelamar semudah glinding siomay ya, ini malah lawan bicara jadi nangis, dikira nyakitin anak orang duh....


"Dek, cup cup, jangan nangis, maksud mas bukan bikin kamu nangis" bingung Nando dibuatnya, lalu di dekap tanpa sadar Desi yang kini nangis sesenggukan bak anak kecil kehilangan mainan kesukaannya.


"Mas sayang adek" ucap Nando berbisik di telinganya.


"Desi juga sayang mas" ucap Desi sesenggukan.


"Jadi mau kan jadi istri mas?" Ucap Nando to the point lagi, melepas dekapannya melihat gadis yang dicintainya ini.


"Mau..." ucap Desi seraya menganggukkan kepala perlahan.

__ADS_1


"Alhamdulillah, makasih sayang" dikecupnya Desi di keningnya.


__ADS_2