
"makan bakso yuk, mumpung belum puasa" ucap Desi sore itu.
"Iyo ,ntar malem udah sahur yo" jawab Sinta.
"Skuy lah" jawab Susi.
"Mba ini baksonya" ucap penjual bakso
"Iya, makasih" jawab Sinta, makan bakso dan minum jeruk anget.
"Wah wah enak nik makan bakso, ciri khasnya orang kampungan" tiba-tiba Salsa datang dan Geng nya
"Kalo kampungan kamu kenapa kesini" ujar Desi jengkel.
"Lah suka-suka gue lah, guys mo makan bakso ngga?" Ucap Salsa ke temannya
"Kayanya enak ,panas pedes ,sore-sore mendung gini" jawab temannya
Sesaat bakso mereka jadi, mereka makan bakso dengan lahap.
"Katanya makanan kampungan tapi makan lahap bener" sindir Desi, Sinta yang baik hati ngga mau ada pertengkaran mengelus pundak Desi,
"Des ,udah, jangan nyari masalah" ucapnya.
"Sa, gimana dokter Aji , udah Lo taklukin belom?" Ujar teman Salsa,
"Udah dong, ntar malam gue ketemu dia di hotel bintang lima itu guys, mau dijodohin paman gue, hehe"
"Enak ya lu, punya paman kaya bisa diandelin bua dapetin gebetan"
"Iya dong"
Sinta yang mendengar itu, masih diam meski dengan deheman kecil meredam amarah yang kiap muncul "ehem".
"Tadi pagi gue bawain coklat lo, dan Aji terima, bilang "oke ,makasih" gitu katanya, seneng lo pemberian gue diterima" ucap Salsa lagi
"Iihh gemes deh..." jawab temennya
Desi yang sabarnya setipis tisu dibelah dua kalo ngadepin hal-hal kasar itu udah gemas dibuatnya, pasalnya dia tau Aji itu pacarnya Sinta, ngga bakalan mau deket cewek lain, orang kaya es begitu.
"Dih, dasar kecentilan , pacar orang aja digodain terus" sindir Desi.
Salsa yang denger berbalik dan melotot ke arah Sinta,
"Kalo pacar lo kenapa, belum ada janur kuning melengkung, bakal gue rebut cowok lo itu, ngga level lo dapet dia!" ucap Salsa kasar
Sinta yang sejak tadi diam tapi diteriakin Salsa mengerutkan dahi,
"Kamu mau rebut pacar saya?!" Geram Sinta
"Iya, lo ngga sebanding sama gue, gue kaya, cantik , pinter ,cocok buat orang kaya Aji, ngga kaya lo udah miskin, kalah cantik" cibirnya
Sinta yang sadar akan kekurangannya hanya menahan air mata dengan bersabar, meski serasa ada batu nyangkut di tenggorokan.
__ADS_1
"Coba aja kalo kamu berani" ancam Sinta
"Ga berani kenapa, emang om gue mau jodohin gue ma Aji, lihat aja nanti" ucap Salsa penuh kemenangan.
Sinta udah ngga mood makan bakso, yang masih setengahnya, tapi ngga dimakan sayang, mubazir , dia inget keluarganya yang tiap hari cuma makan tempe dan tahu, hanya kadang kala makan bakso itu
"Mba dibungkus ya"
"Idih ,makanan sisa dibungkus" kata temen salsa beranjak dari tempat duduknya lalu hendak menyiram bakso ke kepala Sinta, dengan reflek Sinta berdiri dan hanya mengenai lengan bajunya saja,
"Aw! Panas!" Jerit Sinta
Belum juga lengan sembuh dari memar tempo hari sekarang kena bakso panas,
"Ya Alloh!, gila kamu sa! , kena karma baru tau rasa! ,teriak Susi,
Desi yang kala itu kalap lalu mengambil jeruk anget nya melempar ke baju Salsa tapi ngga kena karena Salsa melompat kesamping, dengan senyum sinis penuh kemenangan.
"Lihat aja , kalo masih berani kalian sama kita-kita, bisa lebih dari ini" Salsa dan gengnya pergi dengan bakso baru dimakan sedikit.
"Ayo sin, buruan balik ke kost , ganti baju, takut kenapa-kenapa itu tangan" ucap Susi.
Mereka berjalan cepat hampir berlari ke kost putri.
Aji sore itu masih belum berdamai dengan Aris yang masih diem hanya berjalan berdua dengan Bima, mau ke kedai kopi terdekat , melihat Salsa dan gengnya tertawa terbahak-bahak keluar dari kedai bakso, tak lama kemudian melihat Sinta dan teman-temannya tergopoh-gopoh ke arah kost mereka, sontak Aji berlari menuju Sinta meninggalkan Bima.
"Eh ji ,mau kemana lu!" Teriak Bima, berlari mengikuti.
"Sayang kamu kenapa!" Ucap Aji agak keras karena masih sedikit jauh dari Sinta, Sintapun berhenti dan melihat kebelakang.
"Siapa yang lakuin ini ke kamu ,yang!" Ujar Aji dengan nada keras, tak biasanya seorang Aji akan meluapkan emosi , yang biasanya ya kaku bagai es itu.
"Eh,balik dulu yuk ke kost" ucap Sinta bingung.
Sesampainya di kost, karena itu khusus kost putri, Aji dan Bima tidak diperbolehkan memasuki kamar , saat Sinta berganti pakaian dengan kaos lengan pendek memperlihatkan lengan putihnya yang sekarang ada lebam biru tempo hari dan merah karena ketumpahan bakso tadi, menemui Aji ,Bima yang sudah ditemani Desi dan Susi.
Diambilnya cemilan di kamar ,ada biskuit dan kripik kentang, juga air mineral.
"Mana obat p3k nya?" Tanya Aji ke Sinta
"Eh, ada sebentar" ucap Desi yang bangun dari duduknya mengambil p3k di kamar mereka.
"Sini saya yang obatin" kata Aji, Sinta hanya pasrah dan bersiap menerima omelan Aji yang panjang itu, entah kenapa Aji hanya akan ngomong panjang lebar dengan Sinta seorang, dengan keluarganyapun dia irit banget bicaranya.
"Ini lebam biru ulah siapa?" Tanya Aji penuh selidik, "jatuh di laboratorium itu kan" tandasnya.
Sinta dan teman-temannya dibuat terkejut, kok Aji tau? Pikirnya serempak.
"Iya" jawab Sinta lirih.
Emosi Aji yang sudah meluap itu tiba-tiba padam setelah melihat Sinta memegang tangannya menenangkan,
"Ngga papa, cuma kaya gini besok juga hilang, besok kita udah puasa ngga baik kalo marah-marah dan memendam rasa dengki, biarlah Alloh yang membalasnya nanti"
__ADS_1
Makin bertambahnya rasa cinta Aji ,Sinta memanglah pribadi yang sederhana dan berbudi luhur , bentukan dari orang tuanya yang memang disegani dimasyarakat.
"Yaudah , yuk diminum dulu, walau adanya air putih" sambung Sinta.
"Baiknya ibu peri" celetuk Desi, yang membuat Sinta tersipu malu,
Semuanya dibuat bangga dan terharu dengan sikap dan sifat Sinta ini, pasalnya mereka tau apa itu baik hati tapi tidak semua orang bisa menjalani.
***
Malam harinya, Aji di telfon ibunya untuk menggantikan mengisi acara rapat komisaris dengan para jajaran direksi di sebuah hotel, dan pesta pembukaan cabang baru perusahaan farmasi , ditemani kakeknya yang bukan lain CEO WIBO grup itu, ibu dan Ayahnya masih di kota lain tempat cabang baru itu berada.
Salsa yang kala itu merengek ingin ikut pamannya dan minta di kenalin dengan Aji, pamannya yang hanya punya anak laki-laki satu-satunya merasa Salsa seperti putrinya sendiri, meng-iyakan karena dirasa Salsa sosok yang pas untuk Aji , sebagai pewaris WIBO grup ini, dengan tujuan serakahnya dia ingin memiliki perusahaan raksasa itu melalui keponakannya ini.
"Terimakasih untuk para hadirin yang berkenan datang malam ini, diacara tasyakuran pembukaan cabang baru kami dibidang farmasi" ucap kakek Aji, Adam Bagaskara Wibawa.
Acara berjalan lancar, ketika mendekati akhir ,
"Selamat malam pak Adam, saya Professor Hendrawan, mau memperkenalkan keponakan saya yang cantik jelita untuk menjadi teman cucu anda, ini Salsabila"
"Halo, malam kek" sapanya sok akrab,
"Malam" ucap kakeknya singkat, karena kurang suka orang yang belum kenal udah sok akrab itu, Salsa sudah dapat nilai minus satu dari kakeknya, Aji yang sedang berbincang dengan orang dipanggil kakeknya,
"Nak, kemari" kata kakeknya
"Permisi sebentar, iya kek, ada apa?" Pamitnya dari lawan bicara menghampiri kakeknya, saat melihat Salsa dan pamannya sontak suasana hatinya menjadi mendung , dengan sorot mata malas,
"Ini ada yang mau kenalan sama kamu"
"Udah kenal kek, saya ngga akrab dengan dia" ucapnya ketus ke kakeknya, karena memang Aji dan kakeknya itu seakrab kawan sendiri, dibanding dengan ayah ibunya.
Kakeknya yang mengerti suasana hati Aji, hanya memaklumi, mungkin dia bukan pilihan tepat bagi Aji.
"Malam pak hendrawan, sepertinya saya permisi lebih awal karena besok ada jadwal operasi pagi sekali" pamit Aji tanpa menghiraukan sosok Salsa disitu
"Oh iya, silahkan" jawab pamannya kalah.
***
Kakeknya kembali dengan Aji , saat di lobi hotel berbisik ke Aji.
"Kamu ngga suka gadis tadi ji?"
"Ngga, dia itu playgirl kek" jawabnya to the point, kakeknya yang terkejut dan menjawab,
"Oo begitu, kakek selalu mendoakan apapun yang terbaik buat kamu"
"Iya kek, aku udah punya pilihanku sendiri" jawab Aji lugas
"Aku pulang dulu kek" meninggalkan kakeknya dengan para pendampingnya , karena CEO tidak mungkin pergi tanpa asisten dan bodyguard.
"Coba selidiki Aji dekat dengan siapa" ucapnya ke asistennya itu pelan.
__ADS_1
"Baik pak" tegas asistennya itu