ANATOMI CINTAKU (Dokter Spesialis Termuda)

ANATOMI CINTAKU (Dokter Spesialis Termuda)
Donor Darah atau Donor Cinta?


__ADS_3

Jadi Raisa mencoba mencari tau sendiri apa yang telah terjadi di Rumah Sakit, kalau kakaknya udah ngga jawab ya tetep ngga ada suara yang akan keluar meski di desak juga percuma.


Pagi hari setelah dari sekolah mengambil surat persetujuan dari Rumah Sakit , Raisa dan 2 teman lainnya akan ke Rumah Sakit bertanya mengenai hal apa yang perlu dipersiapkan dan kalau perlu meminta kontak siapa yang menjadi perwakilan dari Rumah Sakit itu.


Sesampainya di Rumah Sakit setelah bertanya ke resepsionis Raisa dkk dibawa mba resepsionis ke bagian gizi di gedung A lantai dasar, disana sudah ada beberapa perawat yang sedang menunggu.


"Pagi Sus, kami dari SMAN 1 mau menanyakan detail perihal acara donor darah yang diadakan besok disekolah kami" ucap Raisa sebagai perwakilan teman-temannya setelah memasuki ruang gizi.


"Iya , duduk dulu adek-adek", jawab Suster Susi itu.


"Jadi berapa total pendonor darah yang terdaftar dek?" Tanya Suster Sinta.


"Kami mau menyiapkan ampul penghilang rasa nyeri dan beberapa kantong darah dan alat-alat lainnya" lanjut Sinta sambil tersenyum,


Raisa terpaku melihat senyum manis itu, wajah cantik alami ditambah make up tipis-tipis menambah nuansa cantik natural , walau Raisa itu wanita dia terpukau dengan wanita dihadapannya itu.


"Dek, gimana?" Lanjut Sinta


"Eh iya kak, ini daftarnya" sambil menyodorkan berkas kepada Sinta , tertulis disitu ada 150 anak yang akan menjadi pendonor.


"Nah sekarang dari saya, setelah pendonor diambil darahnya dia akan merasakan lelah dan pusing, jadi untuk mengembalikan stamina dan kesehatan anak itu, saya dari bagian gizi memberi saran membuat makanan dan minum untuk pendonor ya" kata Susi,


"Iya sus" serempak jawaban anak SMA itu


"Pertama bikin apa ya, masak di sekolah aja atau pesan? "


"Kita ada ekstra tata boga sus, masaknya di sekolah aja" jawab teman Raisa.


"Oke, kita bikin bubur kacang ijo , susu kedelai, pisang dan jus jambu ya"


"Kalo yang ngga suka bubur kacang ijo gimana sus?" Tanya teman Raisa lainnya.


"Em..kita bikin nasi tim dengan oseng kangkung ati ayam apa ya, baik untuk memulihkan sel darah merah dan trombositnya" usul Sinta


"Iya bisa juga itu Sus, karena jumlahnya banyak kalo mau lauk yang mahal mungkin budget nya ngga sampai, hehe" jawab Raisa


"Oke seperti itu saja ya rapat kita hari ini" kata Suster Lely , suster senior yang hanya memantau dan mengawasi jalannya rapat


"Baik sus, terimakasih" pamit Raisa dan kawan-kawannya.


"Dek, boleh tinggalkan nomor HP di berkas ini, agar kami dapat menghubungi perwakilan dari kalian saat besok sudah tiba" ucap Sinta tersenyum


"Iya sus" Raisa menuliskan nomor kontaknya


Setelah anak SMA keluar ruangan, Raisa mengedarkan pandangan di gedung A itu, tapi blum ketemu plang "rawat jalan" , maklum meski termasuk keluarga yang punya Rumah Sakit tapi blum pernah kesitu, kecuali saat dia dilahirkan, saat ada denah disebelah mba resepsionis bertuliskan rawat jalan ada di gedung C , karena langsung jalan utama gedung sebelah IGD ini, dia pun mengajak temannya untuk melihat-lihat.


"Guys , jalan-jalan dulu yuk, mumpung dah disini, kalo disekolah ntar masuk kelas lagi ,mana guru killer yang lagi ngisi" jawab Raisa,


"Oke" serempak menjawab.


Sesaat Raisa melihat siluet kakaknya berjalan kearah belakang gedung B, karena waktu sudah jam 10 siang, mungkin jeda istirahat sebelum jam makan siang nanti.


"Mo ngomong apaan?" Kata Aji kepada Aris , setelah Aris  WA nyuruh ketemu sama Aji di tempat rokok itu.

__ADS_1


"Gue mau jujur, gue suka ma Sinta , lo juga naksir dia?" Jawab Aris,


"Gue cuma tertarik" singkat Aji.


"Kalo lo cuma mau mainin perasaan cewek-cewek kek biasanya, untuk kali ini gue minta lo mundur, karena gue pengen dapetin dia" ucap Aris.


"Oke" jawab Aji dengan santainya, meski batinnya berkata lain, tapi dia cukup menahan diri.


Raisa yang melihat ini, membuat kesimpulan sendiri ,'oh kakaknya lagi rebutan cewek, mesti gue dukung dong' berbalik ke arah pintu keluar menuju angkot ke sekolah.


"Lah ngga jadi jalan-jalan ra?, tanya temannya.


"Ngga lah, gue lagi inget ada janji" jawabnya singkat.


***


Di kedai bakso depan Rumah Sakit , Sinta dkk lagi makan, lalu duduk di meja sebelah Aris dan Bima dengan sengaja.


"Mba, tau ngga bedanya bunga ama kamu?" Goda Aris ke Sinta,


Sinta menoleh dan tersenyum mengangguk tanda hormat, "apa mas? Jawabnya kalem,


"Kalo bunga incaran lebah kalo kamu incaran hatiku" jawabnya to the point,


Sontak Sinta dan temannya cekikikan,


"Suit suit" siul Desi tambah godain Sinta, Sinta yang digoda jadi bingung dan salah tingkah cuma bisa tersenyum,


"Dok, temen saya ini masih polos belum pernah pacaran, jangan macem-macem kamu ya" ancam Desi ke Aris.


"Uhuk uhuk" .


Desi yang lihat Bima lalu ngasih minum, "pelan-pelan dok, ngga ada yang minta",


Sontak Aris dan lainnya tertawa.


"Iya, makasih dek" jawab Bima menerima air minum itu.


"Mba cantik boleh minta nomer HP nya ngga?" Kata Aris lagi ke Sinta.


"Cuma mau ngobrol buat nambah temen" sambungnya,


"Boleh, pinjam HP mas sebentar" jawabnya,


"Nomernya Sinta aja dok?" Tanya Susi godain,


"Eh nomer kalian juga, kan mau nambah temen" jawabnya Aris sambil tersenyum malu


"Oke oke" jawab Desi, singkatnya mereka bertukar nomer HP lalu Sinta dkk kembali ke Rumah Sakit duluan.


***


TING! Bunyi Hp Sinta, lalu dibukanya ada pesan WA, "Assalamualaikum, semangat kerjanya suster cantik" ,bertuliskan dokter Aris di layar itu.

__ADS_1


Sinta tersenyum melihatnya ,"waalaikumsalam, iya dok" ,jawabnya simple.


"Cie cie yang senyum-senyum sendiri" sentil Desi


"Apa si Des, senyum itu ibadah"


"Iya iya, tertawa itu Sunnah, gitu kan?" Timpal Desi


"Tau ah" jawabnya Sinta cemberut meninggalkan mereka menuju bangsal pasien.


***


Sepulang kantor Aji akhirnya bertekad fokus pekerjaan saja tanpa memedulikan perasaan lagi meski didesak Raisa tiap hari untuk mencari tambatan hati apalah itu, tapi takdir Tuhan siapa yang tahu ,saat  istirahat di ruang TV...


Adiknya yang hari ini lagi asem mukanya tiduran di sofa sebelah, "kenapa dek?" Tanyanya.


"Cape, pusing, rebahan aja yang paling wuenak" jawabnya malas.


"Kita mempunyai kepala, mata , mulut, tangan, kaki untuk apa jika bukan untuk bekerja? Jantung sebelah kiri kamu bekerja tanpa henti, tanpa kamu sadari, hiduplah penuh semangat jangan hanya rebahan dan rebahan" kata Aji.


"Tapi kak, hati itu juga penting, perasaan itu bikin segalanya jadi berwarna" kata Raisa adiknya sambil lesu lunglai di atas sofa.


"Warna warni pelangi kali ah, gaje kamu", Sahut kak Aji sambil mlengos meninggalkan adiknya.


"Ah kakak mah ga ngerti, makanya punya pacar jadi tau apa itu cinta , ngga tubuh orang aja dibongkar-bongkar ,cinta juga punya bagiannya" ketus Raisa sambil mengangkat kepala melihat kakaknya pergi.


"Ya ya besok kupelajari anatomi cinta kaya apaan" jawab kak Aji.


Saat tangannya memegang gagang pintu sontak berhenti ketika mendengar apa yang diucapkan adiknya itu berikutnya.


"Tadi aku ke Rumah Sakit lo, ketemu perawat cantik, manis dan baiikkk lagi" sanjungnya.


"Ketemu siapa? , di bagian apa?" Aji berbalik dan bertanya kepada adiknya itu.


"Ngga tau bagian apa, tapi tadi udah WA-an, pengen deh dia jadi pasangan kakak, serasi loh" jawabnya.


"Jawab dulu pertanyaan ku" gemas Aji.


"Ngga tau bagian apa, perawat yang mau bantuin kegiatan PMI besok pagi itu, namanya Sus Sinta". Jawabnya enteng,


Deg! jantung Aji berdegup kencang, Raisa kenal Sinta?, katanya aku serasi sama dia, senang didadanya menderu tapi muka tetap datar kaya triplek.


"Ooh, jam berapa acaranya?" Tanya Aji


"Jam 9 pagi, kenapa? Kakak mau ikut acara itu?" Tanya Raisa tertarik,


"Ehem, ntahlah , lihat besok" ucap Aji


"Kakak mau PDKT kan sama mba Sinta?" Godanya.


"Apa PDKT itu?, aku cuma mau lihat kinerja kamu kaya apa" elaknya


"Iih kak, PENDEKATAN maksudnya, iya kan?" Sahut Raisa bersemangat

__ADS_1


Aji cuma berbalik masuk kamar tanpa jawaban apapun.


__ADS_2