
"pagi semua!" Kata Cindy menghampiri Sinta dkk saat apel pagi,
"Pagi dok" ucap yang lainnya.
Saat Salsa melewati Sinta dan teman lainnya dengan sinismya dia berkata
"Bye, kamu akan dipecat" ucapnya sambil berlalu ke barisannya sendiri.
"Ngga usah didengerin ancaman kaya gitu Sin" ucap Desi menenangkan Sinta.
Setelah apel pagi selesai , mereka sempat melihat manager Rumah Sakit yang sedang di omelin oleh orang, mungkin keluarga pasien pikir mereka.
"Saya disini bayar mahal ,kalian tahu?!" Ucap orang itu marah-marah.
"Katanya VIP tapi kok pelayanannya ngga memuaskan, sering kami dijutekin perawat sok cantik dan belagu!" Sambungnya.
Ucapan itu terdengar oleh Aji yang juga ikut apel pagi itu, lalu dia menelepon Ibunya.
"Bu, coba cek ada keributan apa di ruang manager" ucap Aji.
Setelah Aji berlalu, orang itu dengan masih marah-marah, sang manager hanya mengangguk seraya meminta maaf.
"Maaf, di lantai berapa pasien itu bu? " tanya sang manager.
"Di lantai 4" ucapnya ketus.
"Perawat siapa bu yang ibu komplain?" Ucap manager itu dengan mencatat di notenya.
"Katanya namanya Sinta dan Desi" ucap orang itu lagi, marah-marah, meski belum melihat kejadiannya langsung, hanya pasien dan ART nya yang tahu sosok yang jahat itu.
"Baik Bu, akan saya laporkan ke atasan ya" ucap manager itu.
"Halo, pak Hendra" teleponnya manager itu
Setelah menelepon, lalu memprosesnya , orang dari pihak keluarga pasien itu pulang.
Hendra seketika tanpa menyelidiki langsung mengeluarkan surat pemecatan ke Sinta dan Desi, tanpa surat rekomendasi apapun.
***
"Permisi, mba Sinta dan mba Desi" ucap karyawan Rumah Sakit.
Sinta dan Desi keluar ruangan menghampiri karyawan itu.
"Mba disuruh ke ruang HRD" ucap mas karyawan.
"Ooh iya, baik mas" ucap Sinta.
Dan mereka berjalan ke arah lift, sesampainya di ruangan HRD , diketuk pintunya.
"Masuk" ucap orang didalam ruangan.
"Duduk mba" ucap ibu HRD.
"Kenapa kami dipanggil kesini bu?" Tanya Sinta.
"Maaf ya mba, saya dapat surat dari wakil direktur langsung, Professor Hendrawan, untuk memecat kalian berdua, karena telah menyalahi Kode Etik Rumah Sakit" ucap Ibu HRD dengan menyodorkan dua surat untuk Sinta dan Desi.
"Kami salah apa bu?" , Tanya Desi tak terima.
"Kami ngga melakukan kesalahan apapun pun, dan kami juga belum pernah dapat komplain apapun dengan pasien kami" ucap Sinta.
"Tapi pagi ini kami dapat komplainan dari pihak pasien katanya namanya Sinta dan Desi" uca Ibu HRD .
Sinta dan Desi hanya berpandangan,
"Pasien atas nama siapa bu?" Tanya Sinta.
"Atas nama Bp. Susilo purwonegoro , pemilik perusahaan pt. AMA itu lo" ucap Ibu.
"Ha???? Yang bener aja bu, kami ini perawat ruang kelas lll, masa dapat pasien kaya, mestinya dia di kelas VIP dong?" Ucap Desi gereget.
Ibu HRD juga bingung, karena Sinta dan Desi sudah dia kenal baik, dan tanpa menyelidiki ini pun sudah kelihatan ada kejanggalan.
"Itu yang ibu juga ngga ngerti, tiba-tiba saja pak Hendrawan langsung mengeluarkan surat pemecatan ini" ucapnya bersalah.
"Duh...gimana ini Des?" Tanya Sinta kebingungan.
"Kita mesti minta keadilan ke orang yang lebih diatas dari pak Hendrawan itu" ucap Desi.
__ADS_1
"Nanti coba ibu hubungi sekertaris direkturnya, atau pak direktur langsung Bp. Agus Diandra Wibawa" ucap bu HRD yang sudah kenal baik Sinta dan Desi ini berniat membantu atas ketidakadilan yang dialami Sinta dan Desi.
"Kalian pulanglah dulu, besok ibu kabari lagi" ucap Ibu HRD menenangkan mereka, mereka mengangguk dan berkemas kembali ke kost putri.
***
Sinta dan Desi hanya bisa menangis dikamar kost itu, dan diteleponnya orangtuanya Desi,
"Hallo ma" sesenggukan.
"Kenapa sayang?"
"Aku masa dipecat ma, padahal ngga melakukan kesalahan apapun" ucapnya menangis.
"Ya Alloh, nanti mama akan ke Rumah Sakit minta keadilan nak" ucap mamanya Desi.
Karena memang Desi orang berada, ayahnya seorang TNI, dan ibunya pun sama.
Tapi anaknya memilih jadi perawat tidak mengikuti orang tuanya , kata Desi dia takut melihat orang tuanya berdarah, jadilah dia memilih perawat untuk mengobati mereka, keluargapun terharu mendengar ucapan Desi.
Sinta pun menelepon keluarganya,
"Hallo nduk" ucap mae.
"Mak, Sinta di pecat dari Rumah Sakit" ucapnya menangis.
"Ya Alloh, kok bisa nduk, kamu salah apa?"
"Sinta ngga tau mak, tahu-tahu udah dipecat gitu aja" jawab Sinta menangis.
"Ya udah nduk, mungkin cobaan, kamu pulang dulu aja, nenangin diri dirumah ya" ucap mae menenangkan.
"Nggih mae" telepon ditutup.
Sinta berkemas hendak pulang, baru aja pulang sebulan lalu sekarang sudah harus pulang lagi, aku kerja apa nanti? Pikirnya.
Desi melihat Sinta berkemas jadi bertanya,
"Sin, kenapa berkemas, kita ngga salah apa-apa, gimana kalau besok di telepon ibu HRD" ucap Desi penuh harap.
"Nanti Des, kan ibu HRD baru mencoba, aku tau direktur itu sibuk, makanya urusan kecil-kecil dikerjakan wakil direktur dan dibawahnya, kalo menyelidiki mungkin butuh waktu semingguan kali Des", ucap Sinta berpikir.
"Apa ini ulah Salsa ya Des?" Ucap Sinta ,teringat ancaman Salsa , tadi pagipun dia mengancam begitu.
"Apa iya ya, Hendra itu kan pamannya Salsa" ucap Desi dengan penuh kemarahan.
"Yaudah, aku berkemasnya besok aja" Sinta menuruti, lalu tidur buat nenangin diri.
***
Saat dikantin Rumah Sakit, Cindy celingukan mencari keberadaan Sinta dan Desi, yang dilihatnya hanya Susi dengan muka lesu.
"Sus, mana Sinta dan Desi?" Tanya Cindy,
Seketika Susi menangis lagi, dielus-elus perawat lainnya, dan mengkode mata ke Cindy, Cindy jadi bingung.
"Cup cup, ada apa cerita sama aku, Susi" ucap Cindy.
"Huhuhuhu!!!" Tambah kenceng tangisan Susi. Dilihat orang-orang sekitar.
Dipojokan Aris melihat Susi menangis langsung menghampiri, dan dipeluknya.
"Kenapa sayang?" Ucapnya pelan.
"Huhu, Sinta dan Desi dipecat" ucapnya lirih.
Aris dan Cindy kaget seketika,
"Aji!" Dipanggil oleh Aris.
Aji yang dari tadi juga celingukan mencari keberadaan Sinta menghampiri Aris.
"Kenapa Ris?"
"Sinta dan Desi di pecat" ucapnya
"Ha??? Siapa yang mecat!" Ucapnya marah.
"Ya ngga ngerti lah, Susi nangis-nangis begini, kamu urus gih!" Ucap Aris.
__ADS_1
Aji langsung berlalu ke arah lift menuju ruang ayahnya , Dirut di Rumah Sakit itu ,yang bersebelahan dengan kantor ibunya juga sebagai komisaris.
Cindy melihat itu melongo, ada hubungan apa Aji dengan Sinta, memberanikan diri bertanya ke Aris.
"Ris, apa hubungan Aji?" Tanya Cindy
"Sinta pacar Aji" ucap Aris.
Seperti kesambet geledek, mata Cindy tiba-tiba berkaca-kaca, lalu dia berbalik ke ruangannya sendiri.
Dari kejauhan Bima melihat itu, hatinya pun ikut teriris tau Cindy menyukai Aji.
'aku masih punya harapan kan' tanyanya dalam hati.
***
"Aji!" Ucap Salsa kala melewati pintu wakil direktur.
"Apa?" Ucap Aji ketus.
"Jangan ketus-ketus dong" ucap Salsa.
"Kamu jangan dekat-dekat saya" ucap Aji saat Salsa mau belayut di lengannya.
"Kamu sok banget sih?!" Ucap Salsa,
"Nah keluarkan tabiat buruk kamu, gadis ngga suci" ucap Aji berlalu.
Salsa terkejut mendengar ucapan Aji terakhir itu.
***
"Tok tok" pintu diketuk,
"Masuk" ucap orang didalam,
Setelah masuk, Aji melihat Ayah dan Ibunya berbincang diruangan itu.
"Bu, tadi aku sempat telepon untuk melihat keributan pagi itu" ucap Aji seraya duduk.
"Oo iya, itu udah diselesain Hendra" ucap Ibu.
"Selesai apanya, yang ada tambah masalahnya" ucap Aji , dia menelepon orang terpercayanya Bara.
"Halo, bar, kamu ke ruangan ayahku, bawa semua buktinya" ucap Aji.
"Memangnya kenapa ji?" Ucap Ayahnya,
Karena Hendra orang yang dipercaya ayahnya, percaya buta tepatnya, bisa-bisanya Hendra kerja asal bapak senang begitu, pintar sekali menjilatinya, pikir Aji.
"Yah, kamu harus tahu kelakuan orang terpecaya ayah bagaimana" ucap Aji.
"Nah terus apa hubungannya sama keributan pagi itu" ucap Ibu nya ngga ngerti.
"Bu, selidiki dulu sebelum memecat orang, meng-hire orang berkemampuan itu susah Bu, apalagi Sinta dan Desi, yang udah terbukti berkinerja baik, Sinta itu pacar aku bu!" Ucap Aji dengan nada tinggi di akhir kalimat.
"Memangnya Hendra memecat Sinta?" Tanya ibunya.
"Iya! Dan atas dasar apa main pecat orang seenak jidat begitu!" Ucap Aji marah dan frustasi.
Ibunya seketika mengerti keadaannya,
"Berarti ada yang ngga beres dengan kinerja Hendra, yah!" Ucap Ibunya.
Ayahnya yang semalam sudah diceritakan ibunya mengenai Sinta, dan tau istrinya ini ngga sembarang orang dengan gampang dia sukai itu tapi dengan Sinta dia suka ,dan mau anaknya melamar, jadi berpikir dalam.
Toktok! Pintu diketuk.
"Masuk"
"Mas ini berkas yang diminta" ucap Bara.
"Ya makasih, duduk Bara" ucap Aji, karena Bara sudah seperti adiknya sendiri.
"Ayah coba lihat kinerja orang terpercayamu ini".
Setelah dilihatnya, raut muka itu seketika murka
"Hendra!!!!" Teriaknya
__ADS_1