
"Assalamualaikum" ucap Aji dan Sinta.
"Waalaikumsalam" ucap bi Atun membuka pintu.
"Orang-orang kemana bi?" Tanya Aji.
"masih di kamar masing-masing den" ucap bi Atun,
"Suruh mereka ke ruang TV ya bi, mau saya kenalin gadis disebelah saya ini" ucap Aji seraya mengajak Sinta duduk di ruang keluarga.
"Mas Aji!" Seru Raisa kala dia keluar kamar membuka pintu sebelum di panggil.
"Oo Hay, mba Sinta ya?" Ucap Raisa.
"Lo...dek Raisa kan?" Ucap Sinta.
"Iya, masih ingat aku kan mba?"
"Iya dong, kamu kan ana OSIS di SMAN 1 kan, masa gadis cantik mba lupa" ucap Sinta tersenyum bersalaman dengan Raisa.
"Hee makacih mba, aku lo yang nyuruh mas Aji buat pendekatan sama cewek yang disukainya, abis usia udah tua ngga punya cewek, dikiran ngga payu" ucap Raisa
"Iih masa sih, tapi emang mas Aji itu kaya pengeran es sebelum nembak mba tau" jawab Sinta
"Siapa yang udah tua? Aku baru otw 26 tahun!" Jawab Aji ketus,
Sinta duduk di tengah sofa panjang, di sebelahnya Aji dan Raisa, tapi Aji di cuekin , Sinta dan Raisa asyik ngobrol sendiri, jadilab Aji pindah ke sofa sendiri yang berhadapan dengan Sinta.
"Lah ngapa pindah?" Tanya Raisa.
"Abis jadi kacang" ucap Aji jutek.
"Lah...kakak sih baru ngenalin, kemarin-kemarin asyik berdua, sekarang biarin asyik sama Raisa dong" sambil menjulurkan lidah.
"Haha, apasih ngobrol bareng si, masa kacang-kacangan" ucap Sinta tersenyum.
Dan tak lama datang Ibu nya Aji.
"Assalamualaikum" salamĀ Sinta mencium tangan ibu Aji.
"Waalaikumsalam, dah lama nduk?" Tanya Ibu Mila.
"Belum, ini baru ngobrol sama dek Raisa" ucap Sinta tersenyum.
"Dah lama Bu, orang udah 20 menit" jawab Aji masih jutek karena dikacangin.
"Kamu kenapa kak?" Tanya bu Mila.
"Itu tuh, lagi mode cewek pms, wkwkwk" jawab Raisa ngeledek.
"Pms? , apa itu dek?" Tanya ibu,
"Pre menstruasi sindrom, alias lagi haid, sensian ,haha" ucap Raisa geli.
"Huss dek, udah jangan di jaili terus mas Aji nya, ntar ngambek lo" ucap Sinta.
"Iya sih, klo dah ngambek susah nyenenginnya" ucap Raisa menautkan kedua alisnya.
"Udah udah, kamu namanya siapa sayang?" Tanya ibu.
"Eh iya, Bu ini Sinta ,pacar Aji" ucap Aji singkat memperkenalkan.
"Oo Sinta, nama yang cantik" ucap Ibu tersenyum , meski dalam hati bertanya-tanya siapa sosok Sinta, anak mana, orang tuanya siapa, keluarganya gimana, tapi tertutupi dengan senangnya Aji ternyata mau memperkenalkan pacarnya ini, yang dikira Aji ngga suka sama gadis ternyata punya asmaranya sendiri, biarlah nanti kutanya Aji.
"Iya Bu, perkenalkan, saya Sinta Nur Intania, saya seorang perawat, dan kenal mas Aji karena dia dokter di Rumah Sakit tempat saya bekerja" ucap Sinta yang belum tahu jati diri Aji sebagai pewaris WIBO grup, sempat orang yang mengancam ke rumah mengatakan itu tapi Sinta dan keluarganya masih belum mengerti.
Aji hanya tersenyum saja kala seperti itu saja info yang diketahui Sinta, kalo tahu dia lebih dari seorang dokter mungkin Sinta bisa kabur, sebelum itu terjadi mesti diikat dulu Sinta ini, dengan ikatan pelaminan.
"Oookamu perawat, iya Aji beruntung bisa bekerja jadi dokter di Rumah Sakit itu ya" ucap Ibu Mila sesaat ketika Aji mengedipkan matanya tanpa tak perlu banyak-banyak menjelaskan, biarlah nanti Aji yang panjang kali lebar menerangkan yang menjadi pertanyaan Ibunya.
"Mba Sinta ini baik bu, waktu acara donor darah di sekolahku , mba Sinta yang dateng ke sekolah" ucap Raisa.
"Oo jadi kalian kenal di sekolah Raisa ya" ucap Ibunya.
"Iya, Raisa humoris banget ya Bu, asyik kalo ngobrol sama dia" seraya menyanjung Sinta.
Mereka asyik mengobrol ngalo ngidul setelah 15 menit baru sadar Aji yang sudah manyun main HP sendiri.
"Kacang godok kacang goreng" ucap Raisa iseng.
__ADS_1
"Tau ah, cewek kalo dah ngumpul begitu tuh, yang lain minggir" ucap Aji ketus.
Saat waktu sudah menunjukan pukul 20.40 WIB, "kruuukkk kruyuukk" bunyi perut Raisa malu.
"Ya Alloh, ibu sampai lupa , udah lewat jam makan malam, ini dah malam banget lo" ucap Bu Mila.
"Bi! Makanannya udah diangetin?" Tanya Bu Mila
"Udah bu, hampir dingin lagi" ucap bi Atun
"Yuk makan semuanya" ucap Bu Mila.
"Yuk mba makan" ajan Raisa
Sinta hanya tersenyum mengangguk, melihat Aji masih serius main HP.
"Mas ayo" ajaknya masih tersenyum.
Aji melihat senyum itu dan luluh semua kekesalannya dan bangkit mengikuti mereka.
"Em...bapak kemana bu?"
"Oo ayah masih di Rumah Sakit, mungkin pulang larut" ucap Ibu.
"Oo gitu..." ucap Sinta.
"Kamu dah berapa tahun kerja di Rumah Sakit itu nduk?" Tanya Ibu ,sedikit-sedikit menyelidiki.
"Saya sudah 5 tahun berjalan Bu"
"Laahh memang usiamu berapa to nduk?" Dikira ibunya udah 30-an tapi mukanya masih belia.
"Saya baru 24 tahun ini bu" ucap Sinta malu.
"Udah tua ya Bu" sambungnya meringis.
"Itu masih muda sayang" ucap Ibunya.
"Heee tapi kalo saya pulang kampung yang ditanya kapan nikah, usia udah tua, katanya saya tuh prawan tua" ucap Sinta, sontak semua tertawa.
"Ya ampun masa prawan tua si mba?" Tanya Raisa sambil mengusap air mata tertawanya tadi.
"Hehe ,iya ,soalnya usia saya di desa itu biasanya udah punya 2 atau 3 anak, hihi" ucapnya sambil tertawa.
"Brati desamu itu masih desa banget ya nduk?" Ucap Ibu.
"Iya deh bu, masa 24 tahun udah punya 3 anak, Brati nikah usia berapa si?" Ucap Raisa.
"Nikah usia 16 tahun" ucap Aji.
"Ii masa usiaku sih?! Ngga maulah nikah usia segini, masih mau main aku tuh" ucap Raisa jengkel mendengar jailan kakaknya itu, semuanya tertawa lagi, lalu makan malam.
"Saya antar Sinta pulang dulu bu" ucap Aji.
"Pulang kemana?" Tanya ibu.
"Saya ngekost bu, didekat Rumah Sakit" ucap Sinta hendak berpamitan.
"Nginep aja nduk disini" bujuk Ibu nya.
"Besok-besok ya bu, makasih, besok saya shift pagi soalnya" ucap Sinta.
"Oo ya udah hati-hati ya" kata Bu Mila.
"Ya bu, Assalamualaikum "
"Waalaikumsalam"
Sinta dan Aji melaju ke arah kost putri, waktu sudah menunjukan pukul 22.30 WIB, kantuk Sinta sudah tak bisa ditahan, dia terlelap di bangku depan mobil itu.
"Sayang...mau tidur dimobil apa mau turun tidur di kost?" Tanya Aji pelan ke telinga Sinta.
"Eemmm" ucap Sinta.
Dikecupnya kening Sinta, lanjut pipi nya, dan kemudian telinganya, Sinta yang geli langsung bangun mengerjap-ngerjap mata kaget seraya memegangi telinganya.
"Ya Alloh ada yang masuk ketelingaku!" sontak dilihatnya Aji tertawa menutup mulutnya disebelahnya itu.
"Iihh mas Aji!! Kamu ngerjain aku ya" ucap Sinta manyun.
__ADS_1
"Haha, abis kamu tidur nyenyak bener, akunya cape tau nyopirin kamu" ucap Aji iseng.
"Ya udah besok aku yang ngopir"
Emang bisa bawa mobil?"
"Ngga bisa, pake motor matic" ucap Sinta
"Motornya mana?" Tanya Aji lagi
"Ngga ada, hehe" jawab Sinta
"Brati tetep aku dong yang nyopir" jawab Aji
"Ya udah besok aku dilatih bawa mobil" ucap Sinta.
"Ngga lah, bahaya" jawab Aji lagi posesif.
"Yaudah , aku masuk dulu ya hubby....." ucap Sinta membuka pintu, lalu ditarik dulu ke dekapan Aji, dikecupnya bibir ranum itu.
"Good night my dear" ucapnya lembut.
Sinta dibuat salah tingkah laku ke luar mobil dan melambaikan tangan , masuk ke kost putri.
Aji tutup muka merasaka degupan jantungnya yang tidak keruan, ingin rasayanya memakan Sinta, buru-buru dia mau minta ijin ke orang tuanya buat nglamar Sinta.
***
Sesaat Aji sudah sampai dirumah, dilihatnya ibu masih menunggu Aji di ruang TV.
"Kak, sini duduk dulu" ucap Bu Mila.
"Kenapa Bu?" Tanya Aji duduk di sofa sebelah.
"Jelasin dulu soal Sinta" ucap Ibu
"Lah kan udah dikenalin tadi" ucap Aji , lalu dilihatnya ibunya diam, dan Aji mengerti, mungkin ini juga kesempatan dia minta ijin mempersunting Sinta.
"Sinta, dia anak yang dapat beasiswa dari Rumah Sakit kita, dia anak yang pinter, tekun, ulet, rajin, dan baik hati" ucap Aji.
Dan saat mengatakan beasiswa ibunya paham, tapi banya yang dapat beasiswa , kalo disuruh buka arsip akan memakan waktu lama, tapi satu hal yang dia tahu, yang dapat beasiswa berarti anak pintar tapi buka dari kaum berada.
"Jadi dia miskin, tapi anaknya si cantik, pakai apa dia bisa dapetin hati kamu kak" ucap ibunya sarkastik.
"Bu, tadi ibu suka sama Sinta, kok sekarang jutek" ucap Aji.
"Ya oke kalo hartamah kita udah turah turah, dia baik, tapi keluarganya gimana?" Tanya ibu
"Bapaknya Sinta sesepuh di pondok pesantren" ucap Aji,
Ibunya jadi merasa cocok kala mendengar bapaknya brati keluarga itu keluarga orang baik.
"Yaudah kapan kamu mau nglamar? Nanti biar ayah ,ibu yang kasih tahu" ucap Ibunya Aji.
Aji kegirangan mendengar ibunya setuju.
"Bulan depan ya Bu, kita lamar Sinta, takut keduluan yang lain, Sinta itu banyak ya mau" ucap Aji khawatir.
Ibunya paham kala melihat sosok Sinta, siapapun pasti mudah jatuh hati dengan gadis cantik nan baik hati, apa lagi masih polos begitu.
"Oke, atur saja tanggalnya, nanti ayah yang antar kamu" ucap Ibu meyakinkan.
Karena ayahnya itu tipe suami takut istri,pasti apa yang diinginkan ibunya asal itu baik ayahnya akan menuruti.
"Oke, makasih Bu" ucap Aji bangkit dan masuk kekamar denga langkah ringan.
Raisa yang mengintip dan mencuri dengar diketahui ibunya dari awal.
"Kamu juga tidur dek" ucap ibu, Raisa cuma buka pintu nyengir-nyengir.
***
"Pah! Aku mau nglamar Sinta" ucap cowok jangkung tampan itu.
"Sinta mana?" Ucap papanya
"Sinta anaknya pak Ali yang dulu tetangga kita" ucap anak cowok itu.
"Oo ya udah ayo, Sinta nya mau?" Ucap papanya
__ADS_1
"Sinta belum tau, besok aku samperin di tempat kerjanya" ucap cowok itu, bukan lain Ibrahim, atau sering dikenal Ahim , Ayahnya punya usaha jual beli tanah, dan dia memang menginginkan lahan punya pak Ali itu, karena tempatnya strategis, dipinggir jalan, akses air gampang, bisa untuk usaha apapun, tapi pak Ali tetep kekeh sampai klsekarang jadi pertanian, meski dalam hati pak Ali ingin tanah itu untuk rumah anaknya kelak.
Dengan siapa Sinta akhirnya?