
"mana?" Ucap pak Adam, kakek Aji.
Diterimanya berkas-berkas itu dari asistennya, map paling pertama berisi biodata teman-temannya, dan yang paling utama adalah profil Sinta Nur Intania, putri dari pasangan Bapak Ali Abdurohman dan Ibu Kartika Sari, alamatnya di desa Serang, Kejajar, Wonosobo, 3 bersaudara dengan adik laki-laki dan perempuan.
"Heeemmm Ali abdurohman , Ali...Ali...apa pak Ali yang tolong saya waktu dulu itu?" Gumam pak Adam sendiri.
Kenangan sewaktu dulu saat membuka cabang farmasi di Dieng itu, perusahaan rivalnya mengetahui jadwal kesana dan disabotase mobil yang dikendarainya , beruntung kakek Aji ini sempat beristirahat dan menginap di serang daerah tlaga menjer itu untuk survei dengan pak lurah Serang nah dia menginap di rumah pak Ali itu. Mobilnya di pinjam anak buah untuk membeli keperluan di kota , karena jarak tempuh lumayan jauh, dan ternyata anak buahnya kecelakaan akhirnya meninggal, dari situlah dia memperketat penjagaan keluarganya.
Diapun merasa berterima kasih karena sewaktu itu dipaksa untuk menginap disana, sedang ada hajatan cukur gembel anak gadisnya yang terakhir juga, jadi pak Ali memohon untuk pak Adam hadiri acara tersebut.
Tapi mereka bukan orang berada, apa orang tua Aji menyetujuinya?
Mungkin jika aku setuju , mereka akan menurut, kita lihat alurnya dulu, batin pak Adam lagi
***
"Woy! Tarawih dulu!" Ucap Aris ke teman-temannya
"Hem, bentar ngabisin ini dulu men" ucap Bima kalem menyesap putung rokok yang tinggal setengahnya.
Aris yang telah menerima jadiannya Aji dan Sinta, hanya bisa tersenyum miris seraya berdoa semoga langgeng buat teman baiknya dan gadis yang disukainya itu, sambil mengamati apa yang ada memusuhi mereka atau mereka akan putus, meski tetap berdoa moga langgeng, mereka bahagia dia juga akan bahagia, pikirnya.
Bima pribadi kalem tapi doyan makan itu ngrokok juga pasti ada camilannya , entah roti, gorengan, atau bahkan nasi.
Sekarangpun, dia ditungguin temen katanya ngabisin putung rokok yang tinggal separo juga sambil makan gorengan, abis 4 tempe dia makan.
Aji yang melihat kelakuan sobat nya itu cuma geleng-geleng kepala, pasalnya badannya ngga gendut justru kekar dan sixpack, lari kemana makanan-makanan itu ya.
"Yuk, buruan ntar telat" ujar Bima terburu-buru setelah camilannya habis. Aris Aji dan kawan-kawan lainnya dibuat terheran-heran, mereka yang gugup dari tadi sekarang dikira mereka yang santai.
***
Setelah tarawih selesai...
"Mas Aji, H-2 besok aku mau cuti lebaran kekampung halaman" ucap Sinta malam itu saat makan malam bersama di kantin bersama anak-anak lainnya.
"Hah, kok baru bilang?" Ucap Aji , mengingat ini tinggal seminggu sebelum lebaran, dan dia sedang padat-padatnya jadwal, berjaga menjelang Hari Raya banyak orang pingsan karena macet atau kecelakaan tak terduga, atau lain hal.
"Em...sebenernya ijin udah dari bulan lalu sebelum pacaran by, tapi lupa mau omongnya" ucap Sinta bingung dengan muka memelas.
__ADS_1
"Temani aku dong diRumah Sakit, ya? Banyak dokter ijin soalnya" jawab Aji.
"Maaf hubby, aku kangen orang tuaku dan adek-adek" ucap Sinta lirih.
Aji yang sedang memutar otak , gimana ya supaya mereka tetap bersama, apa aku ikut ijin ya, tapi baru kemarin kubilang iya ke Dr. Richard saat ditanya mau jaga hari lebaran ngga.
***
"Dah sahabatku yang paling baik, berjumpa lagi 4 hari berikutnya ya" ucap Desi berpelukan sama Sinta dan Susi.
"Iya , jangan lupa bawa oleh-oleh dari rumah masing-masing ya" timpal Sinta.
"Siipp dah" kata Susi menjawab.
Mereka berpisah di terminal Bus, meski Desi dijemput keluarganya dengan mobil dan Susi juga dijemput kakaknya , hanya Sinta yang naik Bus ke arah Wonosobo.
Keluarga mereka udah saling mengenal, bahkan Sinta, Desi dan Susi udah sempat menginap dirumah masing-masing, bagi keluarga Desi dan Susi yang notabene kaum berada mereka fine fine aja bergaul dengan Sinta, karena Sinta dan keluarganya orang yang baik hati dan disegani di masyarakat.
Sinta menaiki Bus, dan menggoyangkan tangan ke arah temannya, "dada, Miss you all" ucap ya tersenyum.
Aji yang sebenernya melihat dari balik mobil yang terparkir merasakan rindu yang teramat sangat saat melihat sosok Sinta dan Bus nya menghilang dari pandangan di padatnya jalan itu.
Ajipun beranjak masuk ke mobil BMW nya, melaju ke kliniknya yang baru dibukanya seminggu lalu.
***
"Pak, gadis yang disukai pewaris WIBO itu sedang pulang kampung hari ini" ucap anak buah suruhan Professor Hendrawan di kantornya.
"Hem... itu berarti kesempatan untuk Salsa" tersenyum menakutkan, dengan pikiran piciknya itu.
"Cari tau alamat anak itu, kita beri dia ancaman supaya jera, tidak mendekati dokter Aji lagi"
"Iya om, biar dia sadar posisinya, orang ngga punya bermimpi dasar Upik abu" ucap Salsa yang tiba-tiba masuk ke ruangan tanpa mengucap salam dan malah menguping pembicaraan.
"Kamu berani menguping pembicaraan penting om ,Sa?!" Ucap tegas Hendra dengan nada ditekankan.
"Eh..Sasa ngga bermaksud menguping om, tapi kebetulan Sasa lagi masuk ke sini" elak Salsa.
"Hem... karena kamu dah dengar tak perlu kuulangi penjelasan apapun, kuperintahkan kau dapatkan Aji, supaya keluarga kita bisa menguasai harta mereka" ucapnya ganas.
__ADS_1
Salsa yang hanya memikirkan obsesi memiliki Aji tak ambil pusing perihal pamannya yang mau harta atau warisan apalah itu, dia hanya ingin Aji. Titik.
Obsesinya berlebihan, bukan cinta namanya tapi obsesi dan psiko Salsa ini, apapun yang diinginkan harus dia dapatkan.
Untuk dokter-dokter sebelumnya yang dia inginkan juga mereka mendapat banyak masalah darinya, ada yang menyerah menjadi dokter tapi ada yang bertahan dan mendapatkan kebahagiannya sendiri.
Sungguh menakutkan orang psiko beruang ya.
***
"Hallo Aji, apa kabar?" Ucap manis seorang gadis kota cantik menghampiri Aji di lobi Rumah Sakit itu.
Aji yang sedang bersama Aris dan Bima sontak menoleh serempak ke asal suara.
Mereka dibuat terkaget pasalnya gadis cantik itu adalah teman SMA mereka, lebih tepatnya kakak kelas mereka di SMA yang dulu sempat ditaksir Aji tapi tidak jadi karena sudah berpacaran dengan teman sekelasnya .
Aji , Aris , Bima dan gadis itu dulu satu sekolah tapi beda universitas. Hanya Aji dan gadis itu yang satu universitas di Jakarta , hanya beda prodi, Aji di jurusan kedokteran spesialis organ dalam, sedangkan Gadis itu di jurusan kedokteran Anestesi.
"Iya , kabar baik, kamu?" Ucap Aji biasa.
"Aku luarbiasa, saat bertemu kamu disini" ucapnya riang, dia adalah Cindy.
Tapi Cindy belum menyadari Aris dan Bima, karena dulu mereka adik kelasnya, meski menempel pada Aji, maklum banyak makhluk yang sering menempel sama Aji ,pikirnya.
"Hallo kak Cindy" ucap Aris riang, "Tambah cantik aja nih" godanya.
"Em...kalian kenal saya?" Ucapnya baku
"Nah iya lah kita kan dulu satu SMA" jawab Aris.
"Kita dulu sekelas sama Aji mba, mba ngga ingat mungkin karena mba kakak kelas kami" lugas Bima kalem.
"Oooh iya , kamu Bima ,atlet basket itu kan? Da kamu Aris anak KIR kan?" Ucap Cindy,
Ya Cindy dulu anggota OSIS , dan sering melakukan cek dan registrasi untuk anak-anak ekstrakulikuler di sekolah.
Termasuk hafal nama-nama anak yang sukses di bidang ekstranya masing-masing itu.
Aris dan Bima melihat Aji, karena mereka tau dulu Aji sempat naksir Cindy, dilihatnya paras ganteng itu, sikapnya....
__ADS_1