
Malam itu diantarlah Desi, Sinta dan Susi oleh Nando menggunakan mobil mewahnya ke pelataran kost putri.
"Makasih mas" serempak mereka berkata, dilihatnya Sinta wajah Desi senyum-senyum sampai bibir itu lupa bagaimana cemberutnya 15 menit yang lalu.
"Memang jodoh brati beb, nyatanya Nando jadi Tukang Siomay demi kamu to?" Ucap Sinta menggoda Desi selepas mereka masuk ke kamar.
"Iya, cerita dong, tadi apa yang kalian obrolin?" Ucap Susi penasaran.
"Ah ntar ya, mau mandi dulu" ucap Desi dengan muka merah merona, Sinta dan Susi hanya tertawa melihat tingkah Desi yang menurut mereka imut itu.
"Jadi gimana ceritanya?" Ucap Susi lagi saat mereka sudah selesai mandi semua.
Menunggu jawaban Desi, Sinta membuat susu hangat untuk ketiganya.
"Em...tadi mas Nando ngelamar aku" ucapnya to the point.
"Ha? Serius?" Ucap kedua gadis berbarengan terkejut.
"Iya, jadi tadi tuh mas Nando kan ngaku kalo dia jadi tukang siomay itu buat deketin gadis yang disukainya, nah katanya gadis itu aku, saat aku ngga muncul seminggu ini dia mengatakan ingin aku jadi istrinya" jelas Desi masih dengan senyum manisnya itu.
"Ya ampun....kaya romeo and Juleha" ucap Susi.
"Juliet!" Timpal Desi.
"Ngga lah, Romeo and Juliet ngga langgeng, Desi kaya Rama dan Sinta" jelas Sinta.
"Lah...itu si maunya kamu biar samaan namanya, Sinta" ucap Susi, Desi hanya terkikik melihat tingkat laku kedua sahabatnya itu.
"Nah terus, kamu jawab iya kan?" Ucap Susi.
"Kamu nanya apa gimana?" Tanya Sinta.
"Hehe pasti iya kan kayanya, tuh mukanya merah merona kaya mentari pagi, tadi kalian ciuman ngga?" Tanya Susi nyablak.
"Hem...kamu tuh nyablak bener si, Jagan julid-julid ah sama temen sendiri" ucap Sinta.
"Lah yang biasanya nyablak aja si Desi, giliran aku yang nyablak kamu omelin mbekayu" rutuk Susi.
"Iya lah, kamu ngga kaya gitu modelnya" ucap Sinta.
"Lah kamu serius sama mas Nando itu, gimana orangnya?" Tanya Sinta yang kalem dan dewasa.
Setelah mendengar ucapan Sinta, Desi jadi berpikir,'aku dilamar cowok, seriusan ini? Cowok itu gimana ya sifatnya?' Tanyanya dalam hati.
"Itu juga jadi pertimbangan, dia terima sifat aku ngga ya? Secara akukan keras kepala, jutek, nyablak begini" tanyanya tiba-tiba lesu.
"Kalo kamu mah siapa aja juga mau Des, maksudku ,menurutmu Nando itu pilihan terbaik?" Tanya Sinta
"Dia baik sama aku si, perhatian dan kayanya dewasa ya" ucap Desi berpikir.
"Iya ,kamu berdoa semoga menjadi pasangan yang saling melengkapi dan bahagia ya" ucap Sinta seraya memeluk sahabatnya itu.
"Atututu ikuutt" Susi ikut nimbrung meluk mereka berdua.
Hati Desi menghangat memiliki sahabat yang support begini.
"Dah ah, yuk tidur" ucap Susi.
Ting! Ting! Ting! Berbarengan HP masing-masing berbunyi. Mereka saling memandang dan kemudian tertawa.
__ADS_1
"Siapa sih WA kompak banget barengan begitu?" Tanya Susi.
"Hee ini dari mas Aji, kagen kayanya" ucap Sinta senyum.
"Aku dari mas Nando hehe" ucap Desi cengar-cengir, tapi kemudian tatapan bertanya menghadap Susi, dengan penuh selidik dan tampang tengil Desi kembali.
"Hanyo siapa? Ngga mau cerita?" Tanya Desi.
"Em..mau cerita ,tapi kemarin belum ada waktu"
"Hei hei kamu anggep aku sahabat bukan si?" Tanya Desi dengan tingkah cemberut yang dibuat-buat.
"Siapa itu??" Tanya Desi
"Ini mas Aris"
"Jadi kamu pacaran sama mas Aris?" Tanya Sinta
"Em...belum, sebenernya mas Aris dah kuanggep kakak sendiri si" ucap Susi.
"Kakak sendiri apa kakak sendiri?" Tanya Desi menggoda Susi.
"Em sebenernya baru kemarin mas Aris nembak aku, tapi kutantang kalo berani jangan di HP gitu"
"Wesss cakep!!" Ucap Desi tepuk tangan bersama Sinta,
"Iyalah, giliran godain cewek berani, masa nembak pujaan hati lewat HP, ngga gentle" ucap Sinta.
Lalu mereka membalas WA masing-masing.
Dan pergi tidur dengan wajah berseri.
"Cie yang senyum-senyum sendiri" goda Raisa melihat kakaknya tersenyum melihat layar kotak itu, dideketinnya duduk di sofa ruang TV, diintip HP nya lalu Aji membalikan HP.
"Kepo" ucapnya singkat.
"Iihh pasti mba Sinta ya?" Tanya Raisa.
"Tuh tau"
"Kakak cerita soal aku ngga?" Tanya Raisa.
"Lah ngapain?"
"Iihh aku kan adek semata wayang kamu ka, masa aku ngga dikenalin , diceritain dong soal aku ke mba Sinta" Rajuk Raisa yang ngebet pingin punya kakak perempuan.
"Iya besok tak bawa sini mba Sinta biar kamu kenalan langsung" ucap Aji.
"Huh kakak ngga asik" ucap Raisa lalu memainkan HP sendiri.
Dret dret! HP Aji bergetar karena dia silent tadi setelah meeting belum di aktifkan kembali.
"Hallo" ucapnya sambil beranjak ke kamar.
"Huh giliran udah cinta mesranya kaya apaan tau, dulu-dulu kukasih saran dicuekin gitu aja" ucap Raisa tapi dengan hati senang dengan perubahan Aji sekarang.
Tapi Aji buka angkat telepon untuk bermesraan melainkan kepentingan yang jauh lebih berbahaya.
"Mas, kita punya bukti kejahatan lainnya dari Hendra" ucap Bara.
__ADS_1
"Hem , apa itu?"
"Dia menjual bagian organ pasiennya yang sudah meninggal tanpa persetujuan pihak keluarga"
"Bagaimana kalian bisa tahu?"
"Kami sudah merekonstruksi CCTV yang mati di lorong-lorong Rumah Sakit dan kamar mayat" ucapnya.
"Oke kumpulkan bukti-buktinya, aku segera kesana 5 menit lagi" ucap Aji menutup telepon, waktu menunjukan pukul 22.30 WIB belum terlalu malam untuk keluar, dia berganti pakaian dengan jaket kulit dan jeans robeknya ,keluar menggunakan motor sport kesayangannya.
Memang seorang Aji tidak ada yang menduga dengan tampang kaku dan berwibawa bisa brandal juga.
Tin! Bunyi klakson depan gerbang, segera dibuka oleh anak buahnya.
"Disini mas" kata Bara.
Aji mengecek semua berkas-berkas , kemudian menyetel ulang flashdisk dan DVD ,terakhir melihat CCTV temuan terbaru itu, saat di setel.
Ada dua pasangan sedang bermesraan dan melakukan hubungan suami istri di lorong itu.
'Siluetnya dilihat itu seperti Salsa' pikir Aji, karena CCTV remang-remang.
"Eeeh maap , salah buka yang itu" ucap anak buah Bara malu.
"Nggapapa, bisa dirubah jadi berwarna ngga?"
Bara dan anak buah itu terkejut melihat ucapan Aji, dikirannya Aji pikirannya ngeres, tapi anak buah itu menuruti ucapannya, dirubah ke aturan berwarna, dan memang benar itu Salsa.
"Simpan dulu jangan dihapus" ucap Aji, dan membuat Bara salah paham cuma bisa geleng-geleng kepala.
"CCTV mengenai jual organ ilegal mana" ucap Aji.
Saat seputar menampilkan sosok Hendra dan anak buahnya dengan APD lengkap jadi masih tersamarkan, melakukan operasi darurat dan menyimpan organ itu lalu berjalan ke luar melalui pintu belakang.
"Coba setel CCTV tersembunyi di pintu keluar"
Dan saat dibuka APD itu memang itu Hendra dan dokter suruhannya, juga beberapa orang lain masuk ke 3 mobil, dan melaju berbeda arah.
"Kalian telusuri masing-masing mobil itu" ucap Aji.
"Untuk berkas penggelapan uang Rumah Sakit kalian belum beraksi untuk mendapatkannya?" Tanya Aji.
"Rencana besok kami akan beraksi, hanya menunggu Hendra lengah dengan umpan kita" sahut Bara.
"Oke, segitu dulu, aku cabut" ucap Aji berbalik keluar, diikuti Bara.
Saat di basement tempat parkir motor sportnya,
"Em mas" ucap Bara.
"Apa?"
"Kalo kamu mau belajar cara bercinta aku ada banyak videonya" ucap Bara menawari.
Seketika Aji dibuat melongo, lalu dengan jengkelnya menjawab.
"Aku bukan fokus sama adegan itu, tapi yang melakukannya".
"Em anda kenal mas dengan orang di CCTV tadi?" Tanya Bara malu.
__ADS_1
"Hem, dia gadis yang selalu mengejar aku" ucapnya singkat dan berlalu mengendarai motonya meninggalkan Bara yang terkejut dan malu sendiri.