
Ajeng pulang dengan wajah sedih, agung hanya menatapnya dari ruang tengah, perempuan itu langsung masuk ke dalam kamarnya.
Sementara hari sudah cukup malam,
agung yang sedari tadi ngobrol dengan Mbah kung akhirnya bangkit, ia berjalan menuju kamarnya, namun tiba tiba terdengar suara pintu terbuka,
ternyata Ajeng, perempuan itu berjalan lagi keluar, ia memegang kunci mobil.
" mau kemana kau jeng?!" tanya Mbah kung, membuat bagus yang berada di dalam kamar ikut keluar.
" kau kan baru pulang, mau kemana lagi malam malam begini??" tanya bagus mendekati adiknya,
Agung hanya melihat, ia berdiri di depan pintu kamarnya.
" Aku mau tidur dirumah Mia.." jawab Ajeng,
" tidak boleh? pernikahanmu sudah dekat jeng, jangan seenaknya?!" kata Mbah kung,
" Ajeng butuh udara segar agar Ajeng bisa bernafas, rumah ini sesak.." ujar Ajeng dengan mata memerah.
Bagus merebut kunci mobil di tangan Ajeng,
" kau habis bertemu Bayu lagi?" tanya bagus,
Ajeng diam tidak menjawab,
" kau selalu saja begini setiap bertemu Bayu, kau kira aku tidak hafal sikapmu?"
Ajeng masih diam.
Air mata Ajeng sudah mau jatuh, tapi Agung berjalan mendekat,
" Mau kemana? ayo saya antar.." ujar agung berdiri di hadapan Ajeng,
" berikan pada saya kuncinya mas.." pinta agung pada bagus, dan bagus memberikannya.
" Saya antar kerumah teman mbak, lakukan apapun disana, saya akan tunggu di luar.. tapi setelahnya ayo kembali pulang.." kata agung tenang.
__ADS_1
Mendengar itu Ajeng langsung berjalan keluar, dan agung menyusulnya.
Saat keduanya sudah di dalam mobil Ajeng berkata,
" Sebentar lagi aku menikah, aku tidak akan boleh tidur dirumah temanku lagi bukan?" tanya Ajeng,
" ijinlah baik baik.. kalau memang tujuannya benar saya tidak akan melarang.." jawab Agung,
" be.. benarkah?" Ajeng menatap agung dengan tatapan satunya,
agung mengangguk.
Sesampainya dirumah Mia, agung di persilahkan duduk di teras, sementara Ajeng dan Mia berbincang di ruang tamu,
sayup sayu agung mendengar,
" Jadi si brengsek itu menemuimu? memohon dan berlutut padamu?" suara Mia emosi,
" bajingan, dia tidak punya hak melarangmu menikah!" imbuh Mia lagi,
" Kulihat calon suamimu adalah laki laki yang baik.. lihatlah dia kesini malam malam mengantarmu hanya untuk curhat denganku?" ujar Mia lagi,
" sudahlah, lupakan Bayu yang pengecut dan tidak tau malu itu, cinta apa, omong kosong, dia pasti sudah puas tidur dengan istrinya, bisa bisanya dia berkata masih mencintaimu?!" mulut Mia sungguh tajam, sementara Ajeng hanya terdiam sembari mengusap air matanya.
" calon suamimu tidak kalah dari Bayu, meski kudengar kalian beda delapan tahun, dia tampak dewasa dan matang, pembawaannya juga tenang,
dari mana sih kakekmu dapat laki laki semanis itu?" ucap Mia terdengar oleh agung.
Diam diam agung mengharapkan Ajeng untuk menjawabnya, namun rupanya suara Ajeng masih juga belum terdengar.
" Sebentar lagi kau jadi istri tentara jeng, kau harus pintar pintar bergaul.. apalagi suamimu gagah begitu.. jangan seenak jidatmu seperti sebelum menikah.." nasehat Mia,
" Aku tau.." akhirnya terdengar suara Ajeng.
Agung sedikit merubah posisi duduknya, menguping.
" Tau apa?" tanya Mia,
__ADS_1
" calon suamiku seorang tentara dan sebentar lagi aku akan menjadi istri seorang tentara.." jawab Ajeng,
" itu saja? apa kau tidak menyadari yang lainnya? atau matamu masih di tutupi Bayu?!"
Ajeng tertunduk sejenak, lalu memandang Mia,
" sekarang mas Agung memang terlihat gagah dan berwibawa.. tapi jauh sebelum itu, aku sudah mengaguminya..
dia sabar dan pengertian..
benar benar sosok yang membuatku nyaman.." jawab Ajeng, tentu saja agung mendengarnya, telinganya menjadi panas dan memerah.
" Jadi sejak dulu?"
" tapi itu dulu.." jawab Ajeng membuat agung sedikit kecewa,
laki laki itu mengeluarkan rokok dari saku celananya dan mulai membakar rokoknya demi menenangkan hatinya.
" Sekarang?" tanya Mia,
" sudah biasa saja.. entahlah.. mungkin karena dia pergi terlalu lama.." jawab Ajeng.
Dua jam lebih perbincangan itu berlangsung, hingga waktu sudah cukup malam, Ajeng akhirnya memutuskan untuk kembali pulang bersama agung.
Di sepanjang perjalanan keduanya saling diam, apalagi agung yang sudah mendengar semua percakapan Ajeng dengan Mia.
" Mau makan?" tanya agung di tengah perjalanan,
" Makan?"
" yah, atau beli tahwa untuk menghangatkan badan?"
" tapi ini sudah malam, mas tidak kerja besok?"
" hari Jumat, paling hanya olahraga.." jawab agung tenang,
" baiklah.." jawab Ajeng, membuat agung terus melakukan mobilnya ke arah yang ia tuju.
__ADS_1