Andai Kau Mencintaiku

Andai Kau Mencintaiku
tidak seperti dirimu


__ADS_3

Setelah makan malam, keduanya berjalan jalan sebentar di area perkebunan, dimana banyak villa villa dan bangunan lama.


Lalu di sepanjang jalan redup, menambah suasana sendu.


" Tidak dingin mas?" tanya Ajeng yang berjalan disamping Agung.


" Sedikit.." jawab Agung tanpa menoleh,


" Bagus ya? suasananya tenang.." Ajeng melihat sekeliling.


Agung hanya mengangguk saja dan terus berjalan.


Tanpa sadar langkahnya terlalu cepat, hingga meninggalkan Ajeng.


Ia sadar ketika suasana begitu hening, ia menoleh ke belakang.


Terlihat Ajeng yang berjalan pelan dan tertinggal,


Agung melihat sekitar, lumayan sepi, menyadari betapa sepinya tempat yang mereka lewati agung berbalik dan berjalan kembali mendekati Ajeng.


Tanpa sadar di raihnya tangan Ajeng dan menariknya.


" Cepat sedikit, jalanan nya sepi?" ucap Agung


" kenapa? mas takut aku hilang disini?" Ajeng menunjukkan giginya.


Sesaat melihat itu agung seperti kembali ke masa lalu, masa dimana Ajeng kecil yang polos dan pemarah itu selalu menunjukkan giginya dengan mudah, tak jarang juga ia mengolok agung dengan raut wajahnya yang sengaja di buat aneh saat kesal.


Iya, Ajeng kecil yang itu.. yang selalu mudah marah tapi mudah juga mencarinya,


Ajeng yang selalu berkata..


" Mas agung mana?!" saat tidak menemukan agung di dalam rumah.


Diam diam agung senang, semenjak akad nikah, tidak ada lagi air mata yang agung lihat, meski terkadang masih ada raut wajah sedih sesaat.


" Iya.. aku takut kau hilang.." jawab agung menatap Ajeng, wajahnya terlihat serius.


" Aku bukan anak kecil mas, aku tidak akan hilang.." jawab Ajeng mengulas senyum, ia tidak menangkap perasaan agung.


" Baguslah kalau begitu.." jawab agung masih menggenggam tangan Ajeng.


Ajeng diam saja, di biarkannya tangannya berada di genggaman agung di sepanjang jalan, hingga akhirnya keduanya memutuskan untuk kembali ke kamar mereka.


" Mas Mau teh hangat?" tanya Ajeng pada agung yang duduk di balkon sembari merokok.


" Tidak.. terimakasih.." jawab agung menoleh pada Ajeng yang sudah mengganti bajunya dengan sweater dan training panjang.


Agung buru buru mengembalikan pandangannya pada langit malam yang di hiasi lampu remang remang.


Entah kenapa semakin malam dirinya semakin resah,


mungkinkah karena tempat ini yang begitu dingin dan tenang.


Agung menghisap rokoknya, ingin membuang kegelisahannya,


rasanya malam ini ia tidak sanggup tidur satu tempat tidur dengan Ajeng,


tapi, masa ia harus tidur di lantai.. agung tidak membayangkan bagaimana dinginnya,


sofa panjang pun tidak ada, hanya ada dua sofa single, untuk tubuh agung yang sepanjang ini tentu saja itu tidak nyaman.


Agung melirik melalui jendela, terlihat Ajeng sedang memainkan HPnya sembari berguling guling tertawa, entah apa yang perempuan itu sedang lihat.


Tak lama HP agung yang berdering,


" Iya mas?" jawab agung,


" Bagaimana? bagus tempatnya?" terdengar suara bagus dari sambungan telfon,


" Indah.." jawab agung,


" baguslah kalau mas agung suka.. lalu dimana Ajeng?" tanya bagus,


" ada di atas tempat tidur.."


" lalu sampean??"


" sedang merokok di balkon.."


terdengar helaan nafas bagus,


" Segera susul istrimu itu ke tempat tidur mas, aku menyewa hotel untuk kalian agar kalian bisa bertindak seperti suami istri yang sesungguhnya tanpa sungkan padaku atau Mbah kung dirumah.." ujar Bagus membuat agung terdiam,


" Wes tho mas.. Ajeng itu sudah menjadi milik sampean.. wes sah..! jangan berpikir tentang apapun lagi selain kalian berdua sekarang,

__ADS_1


kalau mau mendekatkan diri sekaranglah waktunya.. sampai kapan mas mau diam diam saja menunggu Ajeng yang tidak peka itu,


ingat mas, di luar sana masih ada yang masih mengharapkannya, jadi pintar pintar lah membaca situasi..


mas itu bukan remaja lagi, usia mas lebih tua dariku..


aku yakin mas tau apa yang kubicarakan.?"


Agung masih saja diam, ia terlihat berpikir.


" Aku dan Mbah kung maunya tahun ini dapat kabar bagus, pasti menyenangkan jika ada anak kecil dirumah...


mas.. mas agung? sampean denger apa Ndak seh ini??" tanya bagus karena tidak mendengar suara agung sama sekali.


" Iya saya dengar mas.." jawab agung kemudian, nadanya masih sesopan sebelumnya,


" Ya sudah mas kalau begitu.. saya tutup dulu telfonnya, selamat menikmati malam kalian.." Bagus mematikan panggilannya.


Setelah mendengar kata kata bagus kepalanya semakin pusing, ia sudah susah payah menahan diri, bagus malah seperti memberinya perintah.


" Aduh..." keluh agung tidak sadar,


" Kenapa mas, siapa yang baru saja telfon?" tanya Ajeng tau tau sudah disamping agung, perempuan itu menarik kursi dan duduk tak jauh dari agung.


Agung yang sedang memegang rokok tentu saja menarik kursinya menjauh.


Melihat itu tentu saja Ajeng heran,


" mas bagus.." jawab agung,


" maaf, aku sedang merokok.." imbuh agung.


" Semenjak datang mas merokok terus, makan juga seperti kurang berselera, kenapa?"


Agung terkejut dengan pertanyaan Ajeng,


" tidak, aku makan dengan lahap kok.." jawab agung mematikan rokoknya di asbak.


" Mana ada makan dengan lahap tidak habis, mas kira aku tidak tau?"


" iya tho? kok aku Ndak sadar..?" agung mengulas senyum mencairkan suasana.


" Nanti aku makan kue saja, ada banyak kue kan di dalam.." agung tersenyum lagi, tapi Ajeng malah menatapnya serius,


" Sudah kubilang jangan pikirkan perasaanku.." kata Ajeng,


Agung diam mendengar itu,


" atau sedang ada hal lain yang mas pikirkan?" tanya Ajeng mengerutkan dahi,


" maksudnya? hal lain apa?" tanya agung,


" apa benar? mas tidak punya perempuan yang mas sukai di luar sana?"


pertanyaan Ajeng membuat agung kaget, bisa bisanya Ajeng berpikiran dirinya memikirkan perempuan lain, padahal sedari tadi ajenglah yang memenuhi pikirannya.


" Aku bebas.. tidak terikat pada satupun wanita.." jawab agung tenang,


" mantan mungkin? apakah ada seseorang yang masih menempel kepalamu?" tanya Ajeng,


Agung tersenyum mendengar itu,


seharusnya pertanyaan itu di tujukan pada dirinya sendiri, batin agung.


" Aku tidak pernah serius berpacaran.. hanya sekedarnya saja..


tidak seperti dirimu.."


Deg..


jawab agung membuat Ajeng tiba tiba memberengut,


Agung tidak menyangka kalimat pendeknya itu membuat Ajeng tersinggung.


" Andai mas tidak pergi aku tidak akan bergantung pada orang lain," ucap Ajeng tiba tiba,


" lho??" kata agung,


" lho apa? harusnya mas tetap disini menjaga dan merawatku sehingga aku tidak beralih pada Bayu?!" mendengar itu agung semakin heran,


" maksudnya bagaimana?" tanya Agung benar benar tidak mengerti,


" ah sudah lah!" ujar Ajeng bangkit, tapi agung menarik tangannya,


" Aku tidak kembali ada sebabnya??" ucap Agung, tapi Ajeng melepaskan tangan agung dan berjalan ke dalam kamar, ia tidak mau mendengar penjelasan agung, rupanya Ajeng benar benar kesal.

__ADS_1


Agung diam, ia bingung dengan apa yang di katakan Ajeng,


di pikirkan seperti bagaimanapun ia tetap tidak mendapatkan jawabannya, kecuali..


ah.. tidak mungkin.., ucap agung dalam hati.


Di nyalakan lagi rokoknya sebatang, di usir lagi keresahannya, biarlah Ajeng marah pikirnya, toh mereka tidak akan melakukan apapun malam ini selain tidur.


Setelah rokok habis sebatang Agung masuk, ia nutup pintu yang menghubungkan balkon dan kamar.


di biarkan tirai itu terbuka sehingga cahaya lampu yang remang dari luar bisa masuk.


Agung masuk ke dalam kamar mandi, menggosok gigi dan mencuci wajahnya, setelah itu ia mengganti bajunya dengan baju yang sudah ia persiapkan dari rumah,


kaos lengan panjang dan training.


Di matikannya lampu utama, dan hanya tersisa lampu meja saja yang menyala.


Di lihatnya Ajeng sudah terbaring, tapi rupanya perempuan itu belum tertidur, kakinya masih bergerak gerak sambil membelakangi agung.


Agung menghela nafas berat, menyadari perbedaan usia yang jauh.


ia berbaring perlahan disamping Ajeng, menarik selimut tebal yang berada di kakinya, menyelimuti dirinya dan menyelimuti Ajeng.


Lama agung berpikir, hingga akhirnya ia memberanikan diri untuk bicara pada Ajeng di situasi yang canggung ini.


" Maaf.. karena sudah membuatmu kecewa.." ujar agung sembari menatap langit langit,


ia yakin Ajeng mendengarnya, karena perempuan itu belum tidur.


" Aku tidak pulang kesini bukan karena aku melupakanmu dirimu.. mas bagus, atau bahkan melupakan jasa Mbah kung.." kata agung pelan,


" Kau tentunya tau betul pak Nurdin..


selama ini beliau selalu menekanku..


bahkan tidak jarang memakiku,


anak buruh,


tukang menumpang hidup,


babu,


sopir,


apapun celaannya itu bisa kutahan,


tapi saat beliau mengatakan aku mengincar harta Mbah kung aku tidak bisa lagi menerimanya.. aku benar benar tidak tahan lagi,


Sehari sebelum berangkat pendidikan dia mengatakan banyak hal padaku,


semuanya menyakitkan..


dia menyuruhku untuk jangan kembali,


dia benar benar memperingatkan ku,


kalau aku kembali,


berarti aku benar benar mengincar harta Mbah kung selama ini..


mungkin ini terdengar seperti alasan yang klise..


tapi itu benar benar alasanku untuk tidak kembali.." jelas agung, sambil menoleh ke arah Ajeng,


dan pada saat bersamaan, Ajeng yang sedari tadi diam, mendengar hal itu tentu saja ia langsung membalikkan badan dan menatap agung.


Keduanya beradu pandang, dengan posisi wajah yang amat dekat.


Entah kenapa udara di sekitar mereka tiba tiba menjadi aneh, perasaan hangat merayapi keduanya.


Ajeng yang merasakan hal itu langsung bangkit, ia terduduk di atas tempat tidur dengan debaran jantung yang tak karuan.


Sama dengan apa yang di rasakan Agung, justru dorongan aneh yang di rasakan oleh agung lebih kuat sebagai seorang laki laki,


dorongan aneh untuk mendekap dan mencium Ajeng.


Agung bangkit, ia duduk di sebelah Ajeng yang sedang kebingungan dengan perasaannya itu.


Entah mendapat keberanian dari mana, seperti tersihir, agung tiba tiba menghela wajah Ajeng, dan mendekatkan wajahnya.


tidak hanya agung, ajengpun seperti tersihir pula, di berikan wajahnya pada agung,


hingga bibirnya mulai di kecup dan di ciumi dengan lembut.

__ADS_1


Dorongan yang ganjil itu makin kental saja, meluap di udara dan mengelilingi keduanya hingga keduanya lupa akan dirinya.


__ADS_2