Andai Kau Mencintaiku

Andai Kau Mencintaiku
Arjuna


__ADS_3

Hari menjelang sore saat Ajeng dan Agung turun dari bukit kunir.


Ajeng nekat mengajak Suaminya itu untuk jalan jalan karena ia bosan rebahan terus di atas tempat tidur.


Selain itu ia juga ingin membuang kecanggungannya, setiap melihat tempat tidur, ia selalu ingat kejadian semalam,


ia ingat betul bagaimana Agung mengangkatnya ke atas pangkuannya dan mencumbunya.


Bohong jika Ajeng tidak pernah berciuman dengan Bayu saat pacaran, tapi jantungnya tidak pernah berdebar hebat seperti kemarin malam.


" Mau ke Arjuna geo park?" tanya Ajeng pada agung yang sedari tadi tidak banyak bicara.


" Terserah saja," jawab agung berjalan pelan di belakang Ajeng.


Mendengar itu Ajeng berjalan menuju Arjuna geo park, disana terdapat cafe yang terdiri dari banyak gazebo gazebo kecil dan beberapa spot foto yang cantik.


Ada juga rumah pohon dan jembatan kayu panjang yang menghubungkan cafe dan kebun.


" Mas.. mau foto?" tanya Ajeng berbalik menatap agung,


" Sini biar aku yang fotokan," agung mengeluarkan HPnya,


" maksudku foto berdua.." kata Ajeng,


Agung diam sesaat,


" memangnya mau berfoto denganku?" tanya agung membuat dahi Ajeng berkerut.


" Memangnya saat pesta pernikahan kita tidak berfoto??" tanya Ajeng,


" itu kan keharusan.."


" oh jadi ini tidak harus?"


agung tidak menjawab,


" apa kata orang, bulan madu tapi tidak ada bukti foto sama sekali?" ujar Ajeng,


agung menghela nafas,


" Mau foto dimana, ayo.." jawab agung akhirnya, perasaannya sesungguhnya cukup terpengaruh karena melihat Bayu, entahlah.. semangatnya tiba tiba saja surut.


Setelah berfoto di bawah lereng Arjuna dengan berbagai macam pose demi menyenangkan hati Ajeng, agung memutuskan untuk duduk sebentar di salah satu gazebo.


" Mas, aku mau foto dirumah kayu dulu ya?" kata Ajeng sembari menunjuk rumah kayu yang letaknya sedikit jauh dari gazebo, jalannya sedikit menanjak.

__ADS_1


" Mau di temani atau sendiri?" tanya Agung,


" Sendiri saja cuma sebentar kok, mas pesan minuman dan camilan saja, setelah foto aku akan segera kembali," ujar Ajeng,


Mendengar itu agung mengangguk, di biarkan istrinya itu pergi ke arah rumah pohon.


Agung bangkit, ia memesan dua buah minuman dingin dan satu piring kentang goreng, setelah memesan Agung kembali duduk.


Angin dingin menyentuh wajah agung, agung merubah posisi duduknya, agar lebih mudah menatap gunung Arjuna yang berdiri dengan gagah.


Dulu sewaktu SMA, beberapa temannya sempat mengajaknya untuk mendaki, tapi sayang.. Mbah kung tidak mengijinkannya karena khawatir, oleh sebab itulah agung tidak mempunyai kesempatan untuk mendaki gunung seperti teman temannya yang lain.


Selain itu masa mudanya juga habis dengan mengantar dan menjemput Ajeng, selain menjemput, ia juga sibuk membantu Mbah kung berkebun.


Agung sungguh tidak pernah bermain jauh.


Baru, setelah menjadi tentara lah ia bisa pergi ke tempat yang jauh, dan memiliki pengalaman yang belum pernah ia miliki sebelumnya.


Saat sedang asik menikmati pemandangan, agung melihat seorang laki laki yang di kenalnya berjalan melewati cafe.


Itu Bayu, rupanya ia tidak melihat Agung yang sedang duduk menghadap ke arah lain.


Laki laki itu berjalan sendirian, matanya lurus menatap Ajeng yang sedang berada di rumah pohon.


Bayu terus berjalan melewati jalan setapak menuju kerumah pohon, ia nekat menemui Ajeng karena melihat suaminya sudah tidak ada disampingnya.


tangannya terkepal demi menahan perasaannya.


Ajeng yang sedang asik berfoto itu kaget,


" Sedang apa kau disini?!" tanya Ajeng pada Bayu yang tau tau sudah di hadapannya.


" Aku menunggumu keluar sedari pagi jeng, baru ini kesempatanku menemuimu?" ujar Bayu.


" Aku sudah bilang kan tadi pagi, pergilah, pertemuan terakhir kita sudah cukup jelas bukan?"


" tidak, aku sudah bilang tidak akan menyerahkan cintaku begitu saja?"


" cinta? cintamu sudah hangus! bisa bisanya kau meninggalkan istrimu dirumah dan kemari sendiri?!"


" Aku kesini bersamanya, dia sedang ada di kamar.."


mendengar itu semakin kesal Ajeng rasanya, meski perasaannya masih ada, tapi situasinya sudah berbeda sekarang, ia sudah menjadi istri orang.


" Kau meninggalkan istrimu di kamar sendiri dan menemui istri orang?!"

__ADS_1


" Ajeng?!" tatapan Bayu memohon,


" dari mana kau tau aku disini? kau sengaja mengikutiku?"


" tidak perlu kau tau siapa yang memberitahuku, aku sudah bilang akan berusaha meraihmu kembali,


aku tau kau tidak mencintai laki laki itu, dia laki laki yang selalu di ceritakan Mbah kung mu itu kan?


kalian juga di jodohkan sama sepertiku,


kalian tidak mencintai bukan?


tidak ada alasan bagiku untuk mundur?"


" kumohon Bayu, aku sudah menikah sekarang, lepas aku mencintainya atau tidak, aku tidak mau bertemu dengan laki laki lain di belakang suamiku?!


pergilah!" tegas Ajeng dengan suara tertahan, ia takut menarik perhatian orang lain.


" Kau begini karena protes padaku kan? aku tau kau sedang marah, kau menerima pernikahan itu karena kemarahan mu padaku yang mengabaikan mu saat itu kan?"


" lepas dari apapun itu aku sudah bukan single lagi yang bisa menerima kedatanganmu sesuka hatiku mas?


tolonglah, jaga perasaan istrimu dan suamiku??" pinta Ajeng takut agung melihat Bayu.


Dan benar saja, laki laki bertubuh tinggi itu tau tau sudah berjalan mendekat ke arah rumah pohon dimana Ajeng dan Bayu berdiri berdua disana.


" pergilah! suamiku datang?!" pinta Ajeng pada Bayu,


mendengar itu Bayu berbalik dan menatap agung yang sudah tau tau sudah berdiri tidak jauh darinya.


Ajeng menatap Agung dengar wajah kebingungan,


Sementara Agung menatap Ajeng tenang, ia mengabaikan Bayu, seakan tidak ada siapapun di depan istrinya.


" Sudah foto fotonya? kalau sudah ayo kembali," suara agung terdengar dalam.


Melihat agung yang tenang begitu tentu saja Ajeng yang gelisah buru buru mengangguk, dengan wajahnya yang sedikit pucat Ajeng berjalan melewati Bayu begitu saja.


Minuman dan makanan yang sudah di pesan itu di bayar oleh Agung, namun setelah membayar agung pergi begitu saja dan tidak menyentuhnya.


Ajeng yang melihat itu tentu saja semakin gusar, ia mengikuti langkah Agung yang cepat.


Namun langkah kaki jenjang itu tidak mudah terkejar, sehingga Ajeng setengah berlari mengejarnya.


" Pelan pelan jalannya..?" ujar Ajeng kelelahan,

__ADS_1


mendengar suara Ajeng yang tidak teratur itu agung menghentikan langkahnya.


" Kembalilah ke kamar dulu, aku mau merokok di luar sebentar," ucap Agung masih dengan suaranya yang dalam, lalu segera berjalan kembali meninggalkan Ajeng.


__ADS_2