Andai Kau Mencintaiku

Andai Kau Mencintaiku
barang barang


__ADS_3

" Duh.. pengantinnya sudah pulang ini?!!" mbok gatik menyambut Agung dan Ajeng yang baru saja turun dari mobil dan berjalan memasuki rumah.


Bagus yang sedang duduk sambil meminum kopi hanya tersenyum mendengar mbok gatik.


Perempuan tua itu sungguh bahagia melihat Agung dan Ajeng akhirnya bersanding menjadi suami istri.


" Selamat siang mas.." sapa Agung pada bagus,


" lho, kok sudah pulang?" tanya bagus,


" Ndak enak mas, disini semua orang sibuk terus saya nyantai nyantai disana.." jawab agung,


" lha kalian kan pengantin baru?" ujar bagus membuat agung tertunduk malu,


" iya toh jeng?" bagus beralih pada Ajeng yang sedari tadi diam,


" iya mas, iya.." jawab Ajeng dengan wajah lelah, ia kemudian berjalan masuk ke dalam kamarnya.


" Saya masuk dulu mas," agung berjalan menuju kamarnya, lalu masuk, betapa kagetnya dia melihat barang barangnya yang di atas meja sudah bersih, dan lemari pakaiannya sudah tidak ada di dalam kamar.


" Lho mbok? barangku kemana??" tanya agung keluar dari kamar,


" ya sudah di pindah ke kamar mbak Ajeng tho?" jawab mbok gatik,


" lho? kok di pindah di kamar Ajeng mbok?" agung heran,


" lho lupa tho kalau sudah menikah?, kamar mas agung kan kecil, lebih besar kamar mbak Ajeng, jadi Mbah kung memutuskan untuk memindahkan barang barang mas agung ke kamar Mbak Ajeng.." jelas mbo gatik membuat agung tersadar,


dirinya memang sudah menikah, tapi tidak pernah terpikirkan untuk tidur satu kamar dengan Ajeng, karena sejak awal dia tau Ajeng tidak mencintainya, jadi ia tidak mau memaksakan keberadaannya.


Agung diam sesaat, lalu menatap pintu kamar Ajeng yang sudah tertutup itu,


rasanya benar benar canggung.


" Sudah sana, masuk ke kamar mbak Ajeng!" suruh mbok gatik.


Dengan ragu ragu agung melangkah ke kamar Ajeng.


Ia mengetuk pintu,


" tok..tok.. tok.."


mendengar ketukan pintu itu Ajeng langsung membuka pintu,


keduanya saling menatap,


" Anu... itu...?" agung bingung harus berkata apa,

__ADS_1


" masuklah, semua barangmu sepertinya sudah di pindah kan kesini mas.." Ajeng menyuruh agung masuk.


" Iya e.." agung masuk dengan canggung, dan benar saja, lemarinya sudah di sejajarkan dengan lemari Ajeng, dan semua barang seperti kerokan jenggot, minyak rambut, parfum dan semuanya perintilan lainnya juga sudah di letakkan di meja berdampingan dengan bedak bedak Ajeng.


Agung yang melihat itu kebingungan, ia memang lebih tua dari Ajeng, tapi dia seumur umur tidak pernah berbagi kamar dengan seorang perempuan.


Agung tetap berdiri di tempatnya, sementara Ajeng sudah duduk di atas tempat tidur.


" Bagaimana ini?" tanya agung,


" apanya yang bagaimana?" tanya Ajeng yang sudah mengganti bajunya dengan kaos dan celana pendek itu.


" barang barangku.."


" memang sudah seharusnya kita satu kamar.." jawab Ajeng sembari menghela nafas,


" Aku akan memindahkan kasur yang di belakang juga kesini?"


" jangan lakukan itu, apa kata mbok gatik nanti, dia pasti mengadu pada mas bagus atau Mbah kung.."


" lalu??" agung mengerutkan dahi, ia merasa tidak enak,


" tidurlah satu tempat tidur denganku layaknya suami istri, toh hanya tidur.." jawab Ajeng membuat agung semakin tidak enak,


" Tapi bagaimana dengan kegiatan lainnya? saat aku mengganti baju, dan yang lainnya?"


tanya agung,


" Sungguh kau tidak keberatan?" tanya agung serius,


" kalaupun aku keberatan, tidak ada yang bisa kita lakukan.." jawab Ajeng lagi lagi menghela nafas berat.


Agung diam sesaat,


" untuk sekarang, kita.. melakukan hal yang terbaik dulu, untuk selanjutnya aku akan memikirkan jalan keluarnya.." ujar agung kemudian,


" jalan keluar seperti apa maksudnya mas?"


" Aku.. akan mencari rumah," kata agung,


" rumah? rumah dinas seperti orang orang?"


tanya Ajeng,


" tidak, kita akan mencari rumah di luar.."


" rumah di luar? tapi?"

__ADS_1


" aku punya tabungan, selama menjadi tentara aku menabung, aku memang berniat membeli rumah suatu saat nanti jika menikah.."


" mas serius?"


" tentu saja, aku sudah seharusnya membawamu pergi dari sini.."


" bagaimana dengan Mbah kung? dia tidak akan mengijinkan kita?"


" Pelan pelan saja, nanti setelah rumah itu sudah ada, kita bicara baik baik.. toh kau sudah menjadi tanggung jawabku..


akan ku usahakan mencari yang dekat dekat.. supaya kita bisa kesini setiap saat.. kita juga tidak mungkin asal meninggalkan Mbah kung kan,"


mendengar itu Ajeng seperti mendapatkan hawa segar,


" terimakasih mas.." ujar Ajeng,


" terimakasih untuk apa, itu sudah tugasku, memberimu kenyamanan.. meski hanya hal hal kecil yang hanya bisa ku perbuat, kau tau.. aku bukan orang kaya.." kata Agung memberi Ajeng pengertian,


" Dengan berpikir membeli rumah, dan tidak terus menumpang dengan Mbah kung saja itu sudah luar biasa bagiku mas.. mungkin kalau itu orang lain, mereka akan tetap nyaman disini, di bawah naungan Mbah kung, tapi kau.. kau bersedia membawaku keluar dan menghabiskan tabunganmu.."


" sudah ku katakan, aku memang ingin membeli sebuah rumah kalau menikah suatu ketika nanti.. jadi jangan berpikir aku berkorban atau apa, itu sudah tugas ku membawa istriku pergi dan memberinya tempat, meski tempat itu tidak sebesar rumah ini.. apa itu tidak masalah?"


Ajeng tersenyum dan mengangguk,


" kenapa tidak memilih rumah dinas?"


" aku ingin kau nyaman dan bebas.. lagi pula.. kita akan mencari rumah si sekitar sinikan, guna mengawasi Mbah kung dan mas Bagus.." mendengar itu Ajeng lagi lagi mengangguk.


Agung berjalan ke arah lemarinya,


" kemasilah apa yang perlu di bawa, agar nanti sore kita tinggal berangkat.." ujar agung,


" oh iya ya, kita mau menginap di kebun teh malam ini.." Ajeng bangkit, ikut mengemasi baju yang berniat ia bawa.


Setelah keduanya mengemasi barangnya, agung mengganti bajunya dengan kaos dan celana pendek.


" Apa aku boleh tidur di atas tempat tidur? aku ingin tidur siang barang sebentar.." agung meminta ijin,


" tidurlah mas, ini juga tempat tidurmu sekarang.." jawab Ajeng,


agung mengangguk, pelan, ia mulai naik ke tempat tidur Ajeng dan merebahkan dirinya, tapi mata yang sebelumnya mengantuk, tiba tiba saja tidak mengantuk menyadari Ajeng masih berada di kamar itu.


" Aku akan keluar, berbincang dengan mbok gatik.. mas tidurlah.." ujar Ajeng menyadari kekikukan Agung, perempuan itu beranjak dari tempat tidurnya dan berjalan pergi keluar kamar meninggalkan agung.


Sementara agung yang di tinggal kan bukannya tidur, lagi lagi ia menatap langit langit kamar, berbagai macam pikiran tiba tiba saja menyerangnya.


Tidak seharusnya ia merasa canggung, tapi tetap saja.. ia tidak bisa menyentuh Ajeng sembarangan,

__ADS_1


meski sudah menjadi suami istri, tapi dinding itu masih berdiri dengan kuat, meski Ajeng berkata akan harmonis dengannya, itu semata mata adalah keharmonisan antara suami istri di atas kertas, bukan suami istri di atas ranjang.


Agung yang resah berbalik, ia mengeluh pelan.


__ADS_2