Andai Kau Mencintaiku

Andai Kau Mencintaiku
tidak masalah


__ADS_3

Agung masuk ke dalam kamar pengantin yang sudah di siapkan khusus oleh Bagus.


Setelah teman temannya pergi, dan para tamu mulai sepi.agung memutuskan untuk beristirahat.


Dengan setelan baju pengantin yang masih lengkap ia berdiri disamping tempat tidur, memandangi Ajeng yang rupanya saking capeknya tertidur lelap di atas tempat tidur.


Make up nya terlihat sudah di hapus, tapi rambutnya masih acak acakan bekas sanggul.


Agung tidak ada niat menganggu tidur perempuan yang berpiyama merah maroon itu.


Agung mengganti baju pengantinnya dengan piyama juga yang terletak di atas meja, rupanya satu stel dengan piyama Ajeng, mungkin saja bagus yang sengaja menyiapkannya, karena menurut agung, tidak mungkin Ajeng yang menyiapkannya.


Setelah mandi karena merasa tubuhnya sangat letih, agung memilih untuk merebahkan tubuhnya di sofa panjang yang terletak tak jauh dari tempat tidur.


Sesekali di liriknya Ajeng yang terbaring diatas tempat tidur itu, rasanya masih seperti mimpi.


Perempuan yang ia kenal sejak kecil itu, kini menjadi istrinya, kini akan menemaninya menjalani hari hari.


Ia tidak bisa menggambarkan bagaimana perasaannya sekarang, ada perasaan bahagia, namun ada juga keresahan.


Bohong jika ia tidak bahagia, perempuan yang sudah ia amati sejak kecil itu sudah cukup lama ia sayangi.


Tapi bohong juga jika ia tidak resah, perempuan yang ia sayangi itu, belum bisa melepas perasaannya terhadap laki laki lain.


Agung menghela nafas pelan, lalu menatap langit langi kamar hotel yang ia tempati sekarang.


Ia berusaha memejamkan matanya meski di hatinya berkecamuk berbagai macam perasaan.


" Selamat pagi.." sapa agung pada Ajeng yang sedang menggosok rambutnya yang masih basah itu.


Ajeng duduk dengan tenang di depan cermin lemari yang lebar.


Agung bangkit dari sofa,


" selamat pagi mas.." jawab Ajeng pelan, hampir tidak terdengar.


Agung tersenyum mendengarnya, lalu segera beranjak ke dalam kamar mandi untuk membersihkan dirinya.


Setelah agung keluar dari kamar mandi, rupanya sudah tersedia sarapan di atas meja.

__ADS_1


Agung melirik Ajeng, dia masih mengeringkan rambutnya yang panjang itu.


" Ayo makan mbak.. setelah itu kita pulang.." ujar agung sembari menggosok rambutnya agar kering.


" Masih memanggilku mbak?" tanya Ajeng tanpa berbalik,


Sesungguhnya jantung Ajeng berdebar aneh, entah karena canggung atau bagaimana, ia masih ingat benar bagaimana acara pernikahannya tadi malam, agung sungguh terlihat menawan dan gagah dengan setelan seragamnya, ia tampak menonjol diantara teman temannya.


Dan setelah berganti baju pengantin pun laki laki itu tetap masih gagah, auranya berpendar dan hal itu sungguh baru pertama kali di lihat oleh Ajeng.


Bagaimana bisa ia tidak menyadari bahwa agung semenarik ini.


Tiba tiba ada rona merah di pipi Ajeng saat membayangkan bagaimana cara agung mengecupnya semalam di hadapan banyak tamu.


Ah.. tentu saja, itu ia lakukan demi terlihat baik di depan semua orang, bukan karena sebuah kasih sayang.. Ajeng menyadari dalam hati.


" ehem.. Ajeng.." suara agung membuyarkan lamunan Ajeng, untuk pertama kali dalam hidupnya Ajeng mendengar laki laki itu memanggil namanya langsung tanpa embel embel ' mbak '.


" Bagaimana kalau kita makan lalu segera kembali kerumah?" tanya agung,


" atau... kubantu menyisir rambut terlebih dahulu?" tawar agung sedikit canggung, bagaimanapun Ajeng sekarang istrinya, ia wajib membantu segala kesulitan Ajeng.


" Kalau tidak berkenan tidak apa apa.." imbuh agung langsung,


" Oleskan vitamin bisa mas? rambutku kaku semua gara gara hairspray.." ujar Ajeng membuat agung tersenyum.


Laki laki itu mendekat, mengambil vitamin yang di berikan Ajeng.


Perlahan laki laki itu mengolesi rambut Ajeng, bagian bagian yang susah di atur di olesinya dengan baik, dan setelah semua bagian terurai, ia menyisir rambut Ajeng pelan pelan.


" Bagaimana bisa tangan seorang tentara selembut itu?" tanya Ajeng karena sentuhan agung sungguh hati hati.


Agung tak menjawab, ia hanya tersenyum.


" Ini hari pertama aku menjadi istrimu mas, harusnya aku yang melayanimu, bukan malah mas yang melayaniku?" ujar Ajeng,


" apakah ini termasuk melayani? kukira membantu istri adalah kewajiban.." jawab agung,


" Tapi.. sebelum aku menjadi istrimu pun kau selalu siap sedia untukku mas..

__ADS_1


apa memang Mbah kung menyiapkanmu sedari kecil untuk menjagaku?"


Agung terdiam sesaat,


" tanyalah pada Mbah kung perkara itu.." jawabnya lalu kembali menyisir rambut Ajeng.


" mas?" panggil Ajeng pelan,


" dalem ( iya ).." jawab agung pelan,


" apa aku boleh tetap bekerja seperti biasanya?" tanya Ajeng,


" tentu boleh, tapi jangan pulang malam malam.. bukan aku cerewet, tapi sepantasnya saja agar orang memandang kita sebagai pasangan yang harmonis.."


mendengar itu Ajeng mengangguk pelan,


" Aku akan berusaha harmonis denganmu mas.." ujar Ajeng,


" bukankah selama ini kita cukup harmonis? kalau kuingat ingat sejak dulu sebelum saya.. emh.. aku pergi kita sudah harmonis.." kata agung,


" Sepertinya bahasamu padaku banyak yang harus di perbaiki.." Ajeng tersenyum,


" iya.. tidak lucu juga kalau berkata saya pada istri sendiri.. seperti kurang akrab.. apa kata mas bagus dan mbak kung nanti..?"


Ajeng tersenyum,


" padahal semalam aku membayangkan pagi uang canggung diantara kita mas.. tapi ternyata sikapmu ini selalu saja membuatku nyaman dan tidak tertekan.." ujar Ajeng,


" tugasku kan menjagamu.. melindungi mu.."


" bapak suami atau pengawal?" Ajeng menoleh, menatap agung penuh senyum,


" ya suami, ya pengawal.. apa saja yang penting perempuan yang kusisiri rambutnya ini bahagia dan tidak menangis lagi.."ujar agung,


mendengar kalimat terakhir Ajeng tiba tiba saja terdiam, raut wajahnya yang penuh senyum berubah.


" Apa aku salah bicara jeng?" tanya agung menangkap kesedihan Ajeng,


" tidak mas.. aku hanya teringat hal hal yang sesungguhnya tidak pantas kuingat.. maafkan aku.." ujar Ajeng.

__ADS_1


Agung menaruh sisir yang berada di tangannya ke atas meja, lalu membelai lembut rambut Ajeng,


" Tidak masalah.. sembuhlah perlahan, aku akan disampingmu.." kata agung pelan.


__ADS_2