Andai Kau Mencintaiku

Andai Kau Mencintaiku
gazebo


__ADS_3

Agung memarkirkan motornya di garasi,


ia melihat ada satu mobil di depan rumah, tapi agung tidak tau pemilik mobil itu siapa.


Agung yang jarang sekali lewat pintu depan itu langsung berjalan memutar, dari garasi melewati gazebo dan langsung ke pintu dapur.


" Mas Agung sudah pulang," sapa mbok gatik yang duduk sembari mengupas bawang merah.


" Iya mbok, di depan mobil siapa?" tanya agung duduk di tengah pintu sembari melepas sepatunya.


" Pak Nurdin.." beritahu mbok,


" oh.. memangnya Mbah kung tidak ke kebun hari ini?"


" sempat ke kebun tadi pagi dengan pak Samsudin, tapi siang sudah pulang..


mas bagus juga dirumah tidak kerja.."


" lho mas bagus sakit?"


" raut wajah mas bagus seharian tidak enak, dia memilih tidur setelah minum obat..


mungkin saja ada yang membuatnya kesal di luar sana.."


Agung yang mendengar itu diam,


" Ndak tanya istrinya tho?"


" Ajeng pasti masih di butiknya.. paling sebentar lagi pulang mbok.." jawab agung lalu berdiri,


" saya ke kamar dulu mbok.." pamit agung berjalan menuju kamar.


Saat jalan ke arah kamarnya, agung mendengar suara Mbah kung memanggilnya,


" Gung sini Gung..?!"


Agung yang mendengar panggilan itu tentu saja langsung berjalan lurus mengarah ke ruang keluarga.


" Nggih Mbah kung?" agung berdiri di hadapan Mbah kung dan Nurdin, seperti biasa, Nurdin menatapnya dari atas ke bawah dengan pandangan yang tidak menyenangkan.


" Sini duduk le," Mbah kung menepuk sofa di sampingnya.


" mboten ( tidak ), saya berdiri saja.. wonten nopo ( ada apa ) Mbah kung?" tanya agung,


" wes tho le.. lungguh sek kene.." perintah Mbah kung pada agung yang masih berseragam lengkap itu halus.


Akhirnya mau tidak mau agung duduk juga disamping Mbah kung.


" Ngene Gung.. Mbah kung ada tanah, tanah itu sudah Mbah kung serahkan kepemilikannya ke istrimu.. lama sekali tanah itu kosong,


dulu sudah sering Mbah kung tanya, tanahnya mau di buat apa oleh Ajeng, tapi Ajeng diam saja, dan tanah itu menganggur bertahun tahun.. Eman,

__ADS_1


lha ini pak lek mu mau membeli tanah itu sekarang, dari pada tidak berguna dan hanya di tumbuhi rumput, bagaimana? apa kalian jual atau mau kau tanami sesuatu Gung?" jelas Mbah kung membuat agung bingung,


" Maaf kung, soal ini tanyakan langsung ke istri saya.. saya kan orang lain kung.." jawab agung tanpa menatap Nurdin,


" lha kalau Ajeng tidak bisa memutuskan?"


" biar nanti kalau Ajeng pulang saya ajak bicara.." jawab agung,


" kalian mau buat apa tanah, toh kalian tidak bisa bertani, sudah jual padaku saja!" ujar Nurdin membuat agung menatap Nurdin sesaat.


" Maaf pak, keputusannya tetap di tangan istri saya.. bukan hak saya memutuskan.." jawab agung lagi.


" Ya wes, kau bicara dulu yang enak dengan istrimu.." kata Mbah kung,


" ya kalau bisa di jual saja!" Nurdin menyela.


" kau kan juga sibuk dengan pekerjaanmu, mana bisa kau berkebun?!" imbuh Nurdin.


" Biarkan saya bicara dengan istri saya dulu.. maaf Mbah kung, kalau sudah selesai saya pamit mau mandi dulu.." kata agung hati hati,


" Yowes lee.. mandi sana.." ujar Mbah kung membuat agung lega, laki laki itu langsung bangkit dan kembali berjalan menuju kamarnya.


Tidak lama setelah mandi dan mengganti bajunya agung keluar dari kamar, laki laki itu berjalan ke arah kamar bagus.


Agung mengetuk pintu kamar bagus, tapi tidak ada jawaban,


" Mas bagus baru saja bangun, sekarang di gazebo.." beritahu mbok gatik,


Rupanya bagus sedang rebahan di gazebo, matanya terpejam, namun tiba tiba terbuka saat mendengar suara sandal agung.


" Kata mbok gatik mas tidak enak badan?" tanya agung duduk,


" Sedang kurang baik mood ku.." jawab bagus bangkit dari rebahannya lalu duduk.


" Masalah pekerjaan mas?"


" aku bertemu Bayu dirumah sakit, hampir kupukul dia," kata bagus masih saja kesal.


Agung sempat diam sesaat,


" Bayu lagi.." batin agung.


" Lain kali di hindari saja mas, tidak usah terlalu di pikirkan orang orang yang menjengkelkan begitu.." ucap agung,


" mas tidak marah??!" tanya bagus heran,


" masalah marah jangan di tanya, kalau di katakan tidak terima, saya lebih tidak terima mas.. tapi saya yakin, selama Ajeng menyadari posisinya, Bayu akan sadar dengan sendirinya,"


" kalau tidak sadar sadar?!"


" ya kita lihat nanti mas.." jawab agung mengulas senyum tipis, senyum yang entah apa maksudnya itu.

__ADS_1


Tidak lama terdengar suara mobil Ajeng memasuki garasi,


" itu, istrimu pulang.." kata bagus,


keduanya sama sama melihat ke arah garasi,


memang benar Ajeng yang datang.


Ajeng yang melihat suaminya dan kakaknya di gazebo tentu saja langsung berjalan kesamping, ke arah gazebo.


" Capek?" tanya agung saat Ajeng duduk disampingnya,


" iya, libur beberapa hari pekerjaan sudah menumpuk.." jawab Ajeng sembari menaruh tasnya.


" Mas bagus tidak kerja?" tanya Ajeng melihat kakaknya heran sudah dirumah.


" Aku dirumah sejak tadi," jawab bagus,


" sudah ambil obat??" tanya Ajeng, takut mas nya itu tidak mengambil obat.


" Sudah.." jawab bagus pelan,


" kenapa?" tanya Ajeng tau bahwa ada sesuatu yang tidak beres.


" Tidak ada apa apa, malas saja.." jawab bagus melihat kearah kolam ikan.


" jangan sampai relaps mas.. teratur ya minum obatnya.. jangan pernah capek minum obat.." ujar Ajeng memandang kakak semata wayangnya itu sedih.


Terakhir kali Ajeng melihat kakaknya itu kambuh, rasanya sangat menyayat hati Ajeng.


Siapa yang tau, laki laki yang bisa di katakan ganteng dan terlihat normal itu tidak bisa mendapatkan tekanan sedikit saja,


Ia akan gemetar, ketakutan, bahkan mengamuk saat kambuh.


Bagus tidak pernah menyakiti satu orangpun di dalam rumah, tapi ia cenderung mengurung diri di kamar dan menghancurkan barang barangnya sendiri,


dulu.. saat agung kambuh Ajeng selalu takut kehilangan bagus, takut kalau kalau bagus pergi meninggalkannya seperti ibunya.


Karena itu Ajeng tidak pernah memaksakan kehendaknya pada bagus,


meski sesungguhnya Ajeng ingin bagus bisa seperti laki laki lain,


bertemu dengan seorang wanita yang baik yang bisa mengerti kondisinya, membangun sebuah keluarga yang bahagia.


Di tatap kakaknya itu dengan raut sedih, nampaknya agung paham apa yang di pikirkan oleh istrinya.


Laki laki itu merangkul pundak Ajeng,


" Mas bagus sudah paham, kau jangan khawatir.." kata agung mencairkan suasana.


" Aku rajin minum obat kok jeng, aku tidak ingin menyusahkan kalian lagi.. jangan khawatir.." ucap bagus menenangkan adiknya.

__ADS_1


__ADS_2