Andai Kau Mencintaiku

Andai Kau Mencintaiku
butik


__ADS_3

Hari berganti minggu dan Minggu berganti bulan.


Keduanya rutin meminum jamu buatan mbok gatik, tapi herannya agung tidak menyentuh Ajeng sama sekali.


Namun kecupan di kening dan pipi selalu rajin agung berikan ketika berangkat dan pulang bekerja.


Ajeng kadang merasa heran dalam hati, kenapa agung masih begitu berhati hati dengannya, bahkan saat tidur berdampingan, padahal keduanya sudah pernah melakukan hubungan suami istri sebelumnya.


" Nanti aku pulang sedikit terlambat," kata agung sudah bersiap untuk berangkat.


" Ada acara di kantor?"


" tidak, aku mau melihat rumah.."


" apa aku tidak boleh ikut?" tanya Ajeng yang sudah rapi dan cantik itu, rambutnya tergerai sepinggang.


" Aku mau melihat tiga rumah, nanti kalau sudah cocok kita lihat lagi bersama.." kata agung,


" perumahan?"


" satu bukan perumahan, yang dua perumahan.."


" apa bisa cari yang halamannya agak luas? aku ingin memelihara ikan, jadi kita bisa buat kolam kecil disamping rumah.."


" baiklah.. akan ku kondisikan nanti.." agung mendekat dan mengecup kening Ajeng,


" Aku berangkat dulu ya?" pamit agung,


" aku mau ikut mas saja,"


" ikut?" agung mengerutkan dahi,


" aku mau berangkat sekarang saja.. sekarang musim orang menikah, buka lebih pagi lebih bagus kan?" ajeng berdiri dan mengambil tasnya.


" Naik motor?"


" iyalah bonceng mas.." Ajeng tersenyum,


" benar mau naik motor?"


" iya mas, ayo berangkat.." Ajeng menarik lengan agung yang masih heran, tumben tumben Ajeng ingin menumpang motornya dan diantarkan kerja.


" Pakai jaket kalau begitu, nanti masuk angin.."


" iya iya.. biar kuambil jaketnya, mas keluar saja duluan..".


Sesampainya di luar Agung bertemu dengan bagus di garasi.


" Belum berangkat mas?" tanya bagus,


" menunggu Ajeng, mau bareng katanya.." jawab agung sembari mengancingkan jaketnya.


" tumbenan.." kata bagus,


" sekali kali.." suara Ajeng, ia muncul dari pintu depan.


" Tidak usah sekali kali, seterusnya juga boleh.." kata bagus yang sedang mengelap mobilnya.


" apa mas mau seterusnya mengantar dan menjemput ku?" Ajeng menatap suaminya,


" tentu saja mau.." jawab agung naik ke atas motor matic yang lumayan besar bodynya itu.


" Ajeng berangkat dulu mas.." pamit Ajeng pada bagus dan mencium punggung tangan bagus.


" Hemm.. hati hati.." jawab bagus.

__ADS_1


Ajeng segera naik ke atas motor, dan tangannya melingkar di perut agung.


Agung yang merasakan Ajeng duduk begitu Rapat dengannya sedikit kikuk, apalagi hal itu Ajeng lakukan di depan bagus,


" Pegangan yang rapat jeng," goda bagus,


mendengar itu Ajeng sedikit mundur.


" Saya duluan mas.." pamit agung lalu segera mengendarai motornya keluar dari garasi rumah.


Mobil berwarna putih itu berhenti di depan butik Ajeng, rupanya Bayu dan istrinya yang keluar dari dalam mobil putih itu.


" Pagi.. mbak Ajeng ada?" tanya Bayu pada salah satu pekerja Ajeng saat Bayu sudah masuk ke dalam butik.


" Ada.. ada perlu dengan mbak Ajeng?" tanya si pegawai,


" Iya mau pesan Baju.." jawab Bayu,


" baik saya panggilkan.." si pegawai segera pergi ke ruangan kerja Ajeng.


Sementara Bayu membiarkan istrinya melihat lihat gaun dan kebaya.


" Jahitannya bagus dan rapi, kau boleh pesan sesuai seleramu.. "


Si istri mengangguk, ia mengeluarkan beberapa disain kebaya modern dari tasnya.


Tak lama Ajeng keluar, betapa terkejutnya ia melihat Bayu, apalagi disamping Bayu ada seseorang yang sedang melihat lihat koleksi kebayanya.


" Hai jeng," sapa Bayu dengan senyum cerah,


" ada yang bisa saya bantu?" tanya Ajeng menyembunyikan ekspresi tidak nyamannya.


" Istriku ingin memesan kebaya modern.." jelas Bayu, seperti tidak ada beban.


" maaf tapi jadwal saya sudah padat, ada beberapa baju yang terlambat saya jahit, karena itu saya tidak bisa menerima jahitan lagi," jawab Ajeng halus, menekan perasaannya.


" Tidak buru buru kok mbak.. kata suami saya jahitan Mbak bagus, ini saya bawa contoh gambarnya.." istri Bayu mendekat dan menyerahkan gambar kebaya yang ia mau, mau tidak mau Ajeng menerimanya.


" mungkin bulan depan baru bisa saya kerjakan, bagaimana, apa mau menunggu sebulan?" tanya Ajeng sembari menahan gemuruh di hatinya.


" tidak masalah.. yang penting tidak dua bulan saja," perempuan yang bernama Fika itu tersenyum.


Istri Bayu itu memang cantik senyumnya juga manis, pantas saja Bayu tidak bisa menolak, batin Ajeng, tapi tindakan Bayu yang seperti ini sungguh sungguh menyakiti hatinya.


Diam diam Ajeng menghela nafas,


" Baiklah, silahkan pilih bahan, setelah itu akan saya ukur," akhirnya Ajeng mengiyakan, ia harus profesional bukan.


Hatinya memang kesal melihat betapa kurang ajarnya Bayu membawa istrinya kesini, tapi entah kenapa rasa kesal itu tidak sebesar dulu, semua perasaannya untuk Bayu sudah mulai tergerus oleh sakit hati yang terus menerus, dan ternyata hidup dengan agung membuatnya pelan pelan menerima apa yang sudah di gariskan oleh Tuhan untuknya.


Bayu bukanlah jodohnya dan ia harus melanjutkan hidup dengan baik bersama agung, meski agung terkadang bersikap hangat, namun terkadang juga dingin dan kaku.


Tapi setidaknya Ajeng tau, bahwa agung sangat menghargai dan menyayanginya, hanya saja Ajeng tidak tau kasih sayang macam apa itu, karena sudah berbulan bulan agung teguh seperti seorang pertapa.


Meski saat tidur Ajeng tidak sengaja menyentuhnya, agung tetap diam dan malah bergeser menjauh, seperti ada perasaan yang agung tahan.


" Bagaimana kabarmu?" tanya Bayu mendekat pada Ajeng saat istrinya sedang sibuk memilih bahan.


" Kau tidak waras ya membawa istrimu kesini? kau mau pamer dan menyakitiku?" suara Ajeng pelan namun sinis.


" Jahitanmu kan memang bagus.." Bayu tersenyum,


" banyak butik lain, kenapa kau bawa kesini?"


" karena aku rindu padamu.." bisik Bayu,

__ADS_1


" tidak waras.." Ajeng jengkel,


" aku masih waras, buktinya ku kenalkan dia padamu.."


" aku harap ini terakhir kali, setelah menjahitnya aku tidak mau ada urusan apapun lagi denganmu!"


" Kenapa kau makin galak setelah menikah? padahal sebelum menikah kau selalu menerimaku?,


apa karena laki laki yang menjadi suamimu itu?"


" tentu saja, karena suamiku orang yang baik, andai di bukan orang baik, sudah habis kau di kebun teh! dia menahan diri demi aku, jadi pahamilah sedikit tentang kondisi kita sekarang, hidup masing masing dan tidak saling menganggu!" Ajeng ketus.


" Kau sudah tidur dengannya?" pertanyaan Bayu membuat Ajeng kaget,


" itu bukan urusanmu!"


" kau berubah hanya karena di sentuh laki laki lain? semudah itu perasaanmu hilang?"


Tangan Ajeng terkepal, ia sungguh sungguh menahan diri.


" cukup! temani istrimu memilih kain!" tegas Ajeng.


" Aku sudah bercerita padanya,"


" apa lagi?!"


" kalau kau adalah mantan kekasihku.."


" kau? benar benar tidak punya perasaan kau ya?!"


" justru karena aku punya perasaan, aku terbuka padanya, bahwa aku masih belum bisa berpaling dari masa lalu,


dia juga faham karena kami di jodohkan.."


Ajeng benar benar tidak habis pikir, kenapa Bayu menjadi orang yang bebal begini, padahal dulu Bayu tidak begini, ia begitu tenang dan pengertian.


" mas??" panggil Fika pada suaminya,


mendengar panggilan itu Bayu beralih pada istrinya.


" Bagaimana kalau yang ini?" Fika menunjukkan kain brokat berwarna Lilac.


" Ini juga cantik, terserah kau saja.." jawab Bayu.


" Bagaimana menurut mbak Ajeng?" istri Bayu menatap Ajeng yang berdiri agak jauh, tatapan yang seakan menyelami Ajeng.


Setelah mendengar ucapan Bayu tentu saja Ajeng merasa kikuk.


" bagaimana mbak ajeng, apakah ini bagus?" tanya istri Bayu lagi karena Ajeng tidak menjawab juga.


" Warna itu juga cantik.." jawab Ajeng memaksakan senyumnya.


" Kalau begitu yang ini saja ya mas?" Fika menatap suaminya,


" terserah saja.." setelah memandang istrinya, Bayu beralih menatap Ajeng,


" oh iya mbak Ajeng, apa tidak menjahit setelan laki laki? saya ingin suami saya memakai baju yang senada.." Fika bersikap manis.


" Maaf, saya tidak menjahit baju laki laki.." jawab Ajeng cepat,


" wah.. sayang sekali.." kata perempuan yang usianya terlihat jelas di bawah Ajeng itu sembari bergelayut pada Bayu.


perempuan yang cantik, namun terlihat manja.


Melihat itu Ajeng menelan kekesalannya dalam dalam.

__ADS_1


__ADS_2