
Ajeng berkali kali melihat jam, berkali kali pula keluar ke balkon untuk melihat apakah ada agung di bawah sana, mungkin saja laki laki itu sedang berjalan jalan di sekitar hotel dan perkebunan.
Tapi nyatanya Agung sama sekali tidak terlihat, hingga hari menjelang sore dan kabut tipis mulai turun.
Ajeng memberanikan diri mengambil HPnya dan menelfon agung, tapi telfon itu tidak di angkat, seperti di abaikan, bahkan berkali kali.
karena kebingungan Ajeng akhirnya menelfon kakaknya.
" Halo mas?"
" hemm.. apa nduk.." terdengar suara bagus yang kalem,
" Anu.." Ajeng terhenti,
" anu? anu opo?" tanya bagus,
Ajeng terdiam cukup lama hingga akhirnya bagus menyadari ada sesuatu yang tidak benar.
" Ada apa jeng ngomong?! apa yang kau lakukan?" tanya bagus dengan suara yang lebih tegas.
" Aku tidak melakukan apapun mas, sungguh, aku juga tidak tau dari mana Bayu tau kalau aku menginap disini??" kata dengan nada takut.
" Bayu maneh! ( Bayu lagi!) masih belum bisa kau lepaskan dia??!" suara Bagus terdengar marah.
" Aku tidak tau siapa yang memberitahunya? dia tiba tiba saja disini??"
" kau menemuinya?!"
" aku sungguh tidak menemuinya, tapi dia menemuiku saat aku jalan jalan dengan mas Agung.." beritahu Ajeng,
" Astaga jeng?! bisa bisanya?! kau tidak kasihan dengan mas agung ya jeng?!" tegas bagus dari telfon.
Ajeng diam, ia menggigit bibirnya demi keresahannya.
" Sekarang dimana mas Agung?" tanya bagus,
" aku tidak tau, dia tadi meninggalkanku di jalan, berkata akan merokok sebentar, tapi sudah menjelang senja begini tidak juga kembali, ku telfon juga tidak di angkat.."
" owalah jeng.. mas ini berharap kau hidup tenang dan bahagia setelah pernikahan, kalau seperti ini bagaimana penilaian mas agung padamu? di kira kau sengaja membuat janji dengan Bayu, di kira kau masih berat dengan laki laki itu?!,
ingat jeng, mas Agung bukan orang sembarangan, meski ia diam diam saja, kau tidak tau apa yang tersimpan di Lubuk hatinya,
dimana lagi kau mau cari laki laki yang apa adanya sepertinya?
jangan remehkan seseorang karena orang itu terus mengalah padamu jeng?!"
" aku tidak mas.. aku tidak.. aku sudah menerima kenyataan kalau aku ini sudah menjadi istrinya.."
mendengar suara adiknya yang bergetar bagus diam, ia berpikir sejenak.
" Sudahlah.. biar ku telfon, kau diam diamlah disana, kalau dia pulang usahakan jelaskan semuanya bahwa kau tidak tau menau kenapa Bayu bisa berada disana, meski itu terdengar seperti sebuah kebohongan, yang penting kau sudah jujur, ya sudah.. matikan telfonnya." Bagus mematikan sambungan telfon Ajeng.
__ADS_1
Malam sudah merayap naik saat Agung masuk ke dalam kamar.
Laki laki itu langsung masuk ke kamar mandi, dan mengabaikan Ajeng.
Sekitar 15 menit kemudian laki laki itu keluar dengan handuk saja dan bertelanjang dada, jadi terlihatlah perut yang berbuku buku itu, entah agung sudah tidak canggung seperti biasanya.
Melihat laki laki itu mengambil bajunya di tas, Ajeng bangkit dari atas tempat tidur.
" Mas? aku mau bicara.." kata Ajeng mendekat ke arah laki laki itu.
" besok saja, aku sedang kurang sehat.." jawab agung berjalan menjauh dengan baju ditangannya.
" Mas kurang sehat? kenapa? perlu kupanggilkan dokter mas?" Ajeng mengejar langkah agung.
" Tidak perlu," jawab agung berjalan ke arah kamar mandi, tapi Ajeng mencegahnya, di tarik tangan agung yang sedang memegang baju itu.
" Mas benar benar sakit? atau ingin menghindari aku?" tanya Ajeng,
Agung diam, ia bahkan tidak memandang Ajeng.
" Nah.. melihatku saja kau tidak mau mas.." kata Ajeng menatap agung.
" Aku tidak mau di salah pahami, bukan aku yang memanggil Bayu kesini, aku juga tidak membuat janji apapun dengannya?" jelas Ajeng.
Mendengar itu Agung hanya menghela nafas, ia masih tidak mau menatap Ajeng,
" Mungkin kedengarannya tidak masuk akal, tapi aku tidak tau dia mengetahui aku sedang berada disini dari siapa, aku bersungguh sungguh, itu bukan aku??" jelas Ajeng lagi,
Ajeng tercekat, panggilan mbak itu muncul kembali, dengan nada yang terdengar sangat kecewa.
" Tidak, itu penting untukku? aku harus membuktikan kalau diriku benar, aku memang tidak tau apa apa, dia sendiri yang kesini menemuiku tanpa keinginanku?!" suara Ajeng lebih tegas,
Agung menatapnya,
" lakukan apa yang ingin kau lakukan mbak, aku tidak akan mencegahnya, sejak awal aku sudah menyadari dimana tempatku.." ujar agung pelan membuat Ajeng semakin frustasi.
" Jangan panggil aku Mbak lagi?!"
" sudahlah lepaskan.." agung berusaha pergi,
" dengarkan aku dulu mas??"
" sudah ku dengarkan.."
" tapi tidak kau pahami?!"
" justru karena aku memahami semuanya," jawab agung,
" Kita sudah menikah kan?" tanya Ajeng,
" ya," jawab agung pendek,
__ADS_1
" kalau begitu harusnya kau percaya ucapan istrimu?"
agung menghela nafas,
ia berusaha melepaskan tangan Ajeng, dan menggunakan sedikit tenaganya sehingga pegangan Ajeng terlepas.
Tapi saat Agung akan menjauh, Ajeng buru buru memeluknya.
Yah, memeluk agung yang sedang bertelanjang dada itu,
Ajeng memeluknya erat agar tidak terlepas sehingga Ajeng bisa merasakan dada agung yang dingin itu menyentuh pipinya.
Agung yang di peluk membeku di tempatnya,
" aku tidak akan melepaskannya sebelum mas mendengarkan aku dengan baik baik.." kata Ajeng, ia lupa kalau agung hanya menggenakan handuk.
" Baiklah tapi lepaskan.." kata agung,
" tidak, mas akan langsung pergi kalau aku melepaskannya,"
mendengar itu agung membisu,
menyadari agung yang diam, Ajeng mulai bicara.
" Sungguh, aku tidak memanggil Bayu kesini.." kata Ajeng,
" meskipun kita baru saja menikah, tapi aku sadar diri.. aku ini sudah menjadi istrimu..
mana mungkin aku dengan kurang ajar memanggil laki laki lain kesini?" imbuh Ajeng.
" sekarang kurang ajarnya aku, aku tidak akan melakukan itu, apalagi di hadapan suamiku.." ujar Ajeng membuat agung terdiam.
" Suamimu?" tanya agung setelah lama terdiam,
" Yah suamiku, mas suamiku kan sekarang?" Ajeng mengangguk, sehingga rambutnya menggosok kulit agung pelan.
" tapi aku tidak berani meminta lebih sebagai suamimu, aku hanya seorang anak yatim piatu yang di besarkan oleh Mbah kung, yang menumpang hidup dirumah kalian,
apa aku punya hak untuk bertanya? keberatan? atau bahkan marah?" agung menatap perempuan yang sedang memeluknya itu.
" Kau ini manusia atau bukan sih mas, kenapa kau terus menahan perasaanmu demi kami, padahal kami juga menginginkan kebahagiaanmu?" jawab Ajeng sedih.
" justru karena aku manusia, aku harus banyak berpikir dan tau diri.." ucap agung,
Ajeng mengangkat kepalanya, memandang laki laki yang sudah menjadi suaminya itu.
" Mas boleh marah.. lepaskan saja perasaan mas, jangan di tahan hanya karena takut pada Mbah kung.." ucap Ajeng,
" tapi aku sungguh sungguh tidak memanggil Bayu mas.." imbuh Ajeng masih ingin menjelaskan.
Agung menatap Ajeng cukup lama,
__ADS_1
" benar aku boleh melepaskan perasaanku?" tanya agung menatap Ajeng lekat.