
Agung sudah berdiri di depan cermin, ia mengancingkan lengan baju seragamnya.
Sementara Ajeng baru saja keluar dari kamar mandi.
" Kalau mas bangun pagi, bangunkan aku juga lah mas.." kata Ajeng berdiri tak jauh dari agung, wajahnya memberengut.
" Tidak lucu suaminya berangkat kerja istrinya masih tidur? mas sengaja membuatku tampak sebagai istri yang pemalas ya?" protes Ajeng.
Mendengar itu agung hanya tersenyum,
" Senyum itu bukan jawaban," kata Ajeng,
" iya iya, besok akan kubangunkan lebih awal.. memangnya mau apa kalau bangun lebih awal?"
" membantumu bersiap, membantu mbok gatik masak, apa saja,"
mendengar itu agung lagi lagi tersenyum, perempuan yang sejak kecil sudah di layani mbok gatik itu tiba tiba saja ingin membantu ini dan itu, wah.. langka sekali, batin Agung.
" Aku tidak bisa mengantarmu berangkat ke butik," kata agung berbalik membelakangi kaca.
" Memangnya aku tidak bisa berangkat sendiri?" Ajeng heran,
" harusnya aku mengantarmu dan menjemputmu.."
" tidak usah, setelah mas tinggalkan dulu aku sudah berubah jadi wanita yang mandiri," ujar Ajeng,
Agung mendekat pada Ajeng,
" tidak dirimu, tidak mbok gatik.. tidak ada habisnya membahas saat dimana aku pergi, seperti aku senang saja pergi meninggalkan keluarga ini.." ujar agung pelan.
" iya iya.."
" iya apa?"
" iya tidak akan kubahas lagi,"
" sekarang kan aku disini, tidak kemana mana, bahkan setiap malam akan tidur disampingmu.."
mendengar itu Ajeng sedikit malu, ia mundur dan duduk di atas tempat tidur.
agung tersenyum dan mendekat,
__ADS_1
" ayo temani aku sarapan.." ajak agung mengelus kepala Ajeng.
Agung keluar dari kamar berbarengan dengan bagus yang juga baru keluar dari kamarnya.
laki laki itu masih terlihat bercelana pendek,
" belum berangkat mas?" tanya agung,
" nanti, aku mau ke RS dulu, obatku habis.." jawab Bagus berjalan kearah meja makan,
" ayo makan dulu, aku lapar e mas.. semalam mau makan malas.." bagus duduk mendahului.
Sementara Mbah kung baru terlihat keluar pintu belakang, sepertinya habis memberi makan ikan atau mungkin menyirami bunga.
" Belum mandi belum apa makan!" tegas Mbah kung,
" Sudah lho kung, cuma tidak ganti baju saja?" Jawab bagus mengambil satu tahu goreng asin kesukaannya.
" Lalu kenapa kau memakai celana pendek begitu? tidak kerja?!"
" aku mau kontrol dulu kerumah sakit, jam kontrolnya masih jam sembilan kung.."
mendengar jawaban bagus Mbah kung tak menjawab lagi,
" Tidak bareng suamimu Jeng?" tanya Mbah kung ketika nasi di piringnya sudah hampir habis.
"Ajeng buka butiknya kan jam sembilanan..?" sahut Ajeng,
" kau kan bisa berangkat lebih pagi, boncengan sana dengan suamimu, nanti pulangnya juga biar di jemput juga.. pengantin baru itu harus lekat,"
Bagus tertawa,
" jangan tertawa Gus, kau ini juga, cepat cari pacar sana lalu segera menyusul adikmu?!"
" ah Mbah kung bahas itu lagi? sudah kubilang, aku begini saja sampai tua,
apa kau keberatan mengurusku jika tua nanti jeng?" Bagus beralih pada Ajeng yang sibuk makan.
" terserah mas, asal mas bahagia tidak masalah bagi Ajeng.." jawab Ajeng tenang,
" tuh Mbah.. Ajeng sudah berjanji akan mengurusku sampai tua,"
__ADS_1
Mbah kung tampak seperti kehabisan kata kata mendengar itu.
" Biar kucarikan, menunggumu mencari sendiri sepertinya tidak ada harapan!"
" maaf ya kung, tapi aku menolak di jodohkan.." Bagus mengunyah makanannya.
" aku begini saja sudah bahagia, akan lebih bahagia kalau kau segera memberiku keponakan.." sekarang bagus menatap agung dan Ajeng berganti,
" Awas kalau kau itu KB jeng.." imbuh bagus lagi,
" apa sih mas?!" Ajeng terlihat malu membahas hal yang semacam itu.
Bagus malah dengan santainya mengatakan hal itu.
" Jangan bicarakan urusan perempuan disini?" Ajeng mencubit lengan bagus.
" sakit jeng?!" bagus menggosok lengannya.
" kalau mau punya anak mas saja yang menikah sendiri,"
" galak sekali, aku mas mu saja kau beginikan, apalagi suamimu?"
" aku tidak pernah galak dengan mas agung kok.."
" galak, judes, sensitif.. itulah adikku, mas agung yang sabar ya, kalau Ajeng nakal banting saja di atas kasur.."
mendengar hal itu agung tersenyum lebar,
" Say Ndak ikut ikut mas, nanti kena semprot.." sahut agung, menyelesaikan makanannya.
Agung sudah di teras, ia menyalakan motor nya,
" aku berangkat ya.." pamitnya pada Ajeng yang berdiri di depan pintu masuk.
Ajeng mengangguk,
" Cup.." kening Ajeng di cium oleh agung, Ajeng tentu saja agak kaget, padahal mereka sudah melakukan hal yang lebih dari itu.
" hati hati di butik nanti.." ujar agung seperti enggan untuk pergi.
Setelah agung berangkat, Ajeng langsung masuk kembali, tapi baru sampai di ruang tengah, bagus yang sedang duduk di depan tv itu melambaikan tangannya pada Ajeng, supaya Ajeng mendekat.
__ADS_1
Laki laki itu hanya ingin di temani adik ya.